KATHMANDU — Sekurang-kurangnya sembilan orang tewas akibat banjir bandang dahsyat yang menghantam kawasan perbatasan Himalaya di Nepal dan wilayah Tibet yang berdekatan, Rabu waktu setempat. Bencana itu menerjang secara mendadak dan meluluhlantakkan desa-desa di sepanjang aliran sungai pegunungan.
Arus air deras yang membawa material batu, lumpur, dan puing gletser itu juga merusak infrastruktur vital, mulai dari jalan raya, jembatan penghubung, hingga proyek pembangkit listrik tenaga air yang tengah beroperasi maupun dalam tahap konstruksi. Pemerintah Nepal memperkirakan jumlah korban jiwa masih akan bertambah karena sejumlah warga dinyatakan hilang.
Kronologi Tragedi: Dari Kabar Hilangnya Kontak hingga Evakuasi
Berdasarkan kumpulan laporan petugas lapangan, rangkaian kejadian bencana berlangsung cepat dan sulit diantisipasi oleh warga yang tinggal di lembah sempit pegunungan. Berikut urutan kejadiannya:
- Pra-bencana: Curah hujan tinggi terjadi di kawasan hulu sungai di sisi perbatasan Nepal-Tibet selama beberapa hari, meningkatkan volume air dan tekanan pada tubuh gletser di dataran tinggi.
- Rabu dini hari: Gelombang banjir bandang mendadak menyapu lembah, menghanguskan permukiman di tepian sungai saat sebagian besar warga masih tertidur.
- Pagi hari: Laporan awal menyebut desa-desa terputus dari akses darat. Jembatan utama roboh, jalan arteri terputus, dan sarana telekomunikasi lumpuh di sejumlah titik.
- Siang hari: Tim penjajakan dari pemerintah pusat dan pasukan keamanan diterjunkan ke lokasi. Penemuan korban meninggal dunia mulai dilaporkan satu per satu.
- Sore hingga malam: Operasi pencarian dan evakuasi diperluas dengan dukungan helikopter, meski cuaca buruk mengganggu jalur udara.
Infrastruktur Hancur, Proyek Energi Terancam
Dampak paling nyata dari bencana ini adalah rusaknya tulang punggung ekonomi lokal. Kawasan perbatasan Himalaya bergantung pada jalan raya lintas pegunungan untuk distribusi logistik, sementara proyek-proyek hidroelektrik menjadi sumber pendapatan daerah melalui royalti energi.
"Kami khawatir jumlah korban akan bertambah. Tim kami masih berjuang menjangkau titik-titik yang terputus akibat jembatan dan jalan yang rusak," ujar seorang pejabat penanggulangan bencana Nepal kepada media lokal.
Para pekerja proyek pembangkit listrik termasuk kelompok yang paling rentan karena umumnya tinggal di kamp kerja yang dibangun dekat tepi sungai. Pola serupa pernah terjadi pada bencana-bencana sebelumnya di Himalaya, ketika kamp proyek menjadi lokasi dengan korban terbanyak.
Himalaya Zona Rawan: Belajar dari Sejarah Sedekade Terakhir
Tragedi Rabu ini menambah daftar panjang bencana mematikan di Pegunungan Himalaya selama lebih dari satu dasawarsa terakhir. Para ilmuwan menilai perubahan iklim mempercepat pencairan gletser, menciptakan danau-danau gletser baru yang rawan jebol serta memicu cuaca ekstrem yang tak dapat diprediksi.
- 2013: Banjir dan longsor masif di Uttarakhand, India, menewaskan ribuan orang di sekitar kuil Kedarnath.
- 2015: Gempa berkekuatan 7,8 magnitudo mengguncang Nepal dan menewaskan hampir 9.000 orang, sekaligus melemahkan lereng-lereng gunung.
- 2021: Longsor batu dan es di Chamoli, Uttarakhand, memicu banjir bandang yang merusak dua pembangkit listrik dan menewaskan lebih dari 200 orang.
- 2023: Jebolnya Danau Gletser South Lhonak di Sikkim, India, melahirkan gelombang banjir yang menghancurkan bendungan dan menewaskan ratusan orang.
- 2024–2026: Rangkaian longsor dan banjir bandang berulang di Nepal, India, dan Bhutan, dengan korban puluhan hingga ratusan jiwa per kejadian.
Tantangan Mitigasi di Medan Ekstrem
Pakar kebencanaan menegaskan bahwa wilayah Himalaya menghadapi kesulitan mitigasi yang kompleks. Medan yang terjal membuat sistem peringatan dini sulit dipasang merata, sementara banyak permukiman dan proyek infrastruktur dibangun di zona bahaya aliran sungai glacialis.
"Pembangunan di koridor sungai harus mempertimbangkan skenario banjir ekstrem. Kalau tidak, investasi miliaran bisa lenyap dalam hitungan menit," kata seorang peneliti risiko gletser di Kathmandu.
Pemerintah Nepal kini berfokus pada tiga prioritas: pencarian korban hilang, pemulihan akses jalan untuk distribusi bantuan, dan pemetaan ulang zona rawan bencana. Kerja sama teknis dengan otoritas di sisi Tibet juga dinilai penting karena hulu banyak sungai transboundary berada di wilayah tersebut.
Bagi para penyintas, kekhawatiran belum berakhir. Musim hujan di Himalaya biasanya berlangsung hingga September, artinya potensi banjir susulan dan longsor masih mengintai. Warga di kawasan terdampak diminta tidak kembali ke pemukiman di tepi sungai sampai status aman dinyatakan resmi oleh otoritas setempat.
[SOCIAL_TWEET]: Banjir bandang dahsyat landa perbatasan Nepal-Tibet, minimal 9 orang tewas. Desa hancur, jembatan putus, pembangkit listrik rusak. Korban diperkirakan bertambah. #Himalaya #Nepal[SOCIAL_TG]: 🚨 BREAKING — Banjir bandang dahsyat di perbatasan Nepal-Tibet, 9 orang tewas dan korban diperkirakan bertambah. Desa hancur, infrastruktur vital rusak. Detail lengkap di Beritadua.com.
Comments (0)