Oct 08, 2026
Bisnis

Bang Udin: dari PHK Menjadi Pengusaha Bakso Keliling Viral

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada pertengahan tahun ini, tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional berada di kisaran 5,3 persen, sementara jumlah pekerja yang kehilangan...

Bang Udin: dari PHK Menjadi Pengusaha Bakso Keliling Viral

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada pertengahan tahun ini, tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional berada di kisaran 5,3 persen, sementara jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan atau berstatus PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) tercatat mengalami kenaikan pada sektor manufaktur dan jasa. Di tengah tekanan pasar ketenagakerjaan tersebut, muncul kisah pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang berhasil bangkit, yakni seorang pria yang akrab disapa Bang Udin setelah dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Alih-alih menyerah pada sentimen pasar yang lesu, ia memilih membangun usaha bakso keliling di Jakarta dengan modal terbatas. Perjalanan usahanya kini menjadi sorotan setelah unggahan video di platform media sosial menjangkau jutaan penonton, sekaligus memicu perbincangan mengenai kelayakan model bisnis kuliner keliling di ibu kota.

Perjalanan dari PHK Menuju Model Bisnis Keliling

Setelah menerima pesangon, pria tersebut mengalokasikan sebagian dananya untuk membeli gerobak, peralatan masak, serta bahan baku awal. Nilai investasi awal usaha kuliner skala mikro seperti ini umumnya berkisar antara Rp5 juta hingga Rp15 juta, jauh di bawah modal membuka gerai tetap yang bisa menembus Rp100 juta di kawasan Jakarta.

Model usaha keliling dipilih karena dua alasan ekonomi mendasar: biaya sewa tempat yang nol rupiah dan fleksibilitas menyesuaikan titik jual dengan lokasi keramaian. Dari sisi arus kas (cash flow), strategi ini mengurangi beban tetap (fixed cost), sehingga rasio pemulihan modal berpotensi lebih cepat. Dalam istilah awam, uang yang dikeluarkan untuk sewa ruko bisa dialihkan menjadi bahan baku yang langsung menghasilkan penjualan.

Ia memulai operasi dari satu titik di kawasan permukiman, kemudian berpindah mengikuti lokasi kerja, sekolah, dan area perkantoran. Taktik semacam ini disebut oleh para ekonom sebagai pendekatan berbasis lokasi (location-based pricing), di mana penjual menempatkan produk di titik-titik dengan daya beli dan kepadatan pejalan kaki tertinggi.

Viral di TikTok dan Dampaknya pada Omzet

Percikan perubahan datang ketika seorang pelanggan mengunggah video proses pembuatan bakso miliknya. Video tersebut mendulang ratusan ribu tayangan dalam waktu singkat, dan efeknya langsung terasa pada penjualan. Ia menyebut omzet harian menyentuh angka Rp5 juta pada hari-hari puncak, capaian yang signifikan untuk usaha mikro dengan hanya satu gerobak dan dibantu keluarga.

Untuk konteks perbandingan, rata-rata penjualan warung bakso konvensional dengan gerai kecil umumnya berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp3 juta per hari. Artinya, angka tersebut menempatkannya di atas rata-rata, meski perlu dicatat bahwa omzet bukan berarti laba bersih (net profit). Komponen bahan baku, gas, dan tenaga kerja masih harus dipotong.

Di satu sisi, kekuatan media sosial membuktikan diri sebagai mesin pemasaran berbiaya rendah bagi UMKM. Jangkauan organik semacam ini setara dengan nilai iklan berbayar yang bisa mencapai jutaan rupiah, namun tanpa biaya sepeser pun. Di sisi lain, viral bersifat tidak menentu dan sulit direplikasi. Banyak usaha yang menikmati lonjakan singkat lalu kembali sepi karena tidak memiliki strategi retensi pelanggan (customer retention) berupa program loyalitas, pemesanan daring, atau kemitraan dengan aplikasi antar.

Peluang dan Risiko: Dua Sisi Kisah UMKM Kuliner

Pro: fundamental bisnis bakso tergolong tangguh karena termasuk kategori kebutuhan pangan dengan elastisitas permintaan relatif rendah, alias konsumen cenderung tetap membeli meski daya beli turun. Selain itu, tren konsumsi makanan luar rumah terus mengalami kenaikan pasca-pandemi, didukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 persen secara year-on-year. Peluang skala usaha juga terbuka lebar, mulai dari menambah armada gerobak hingga menjalin kemitraan waralaba mikro.

Kontra: pasar kuliner ibu kota justru dikenal sangat kompetitif, dengan indeks harga konsumen (inflasi) kategori makanan yang kerap lebih tinggi dari inflasi inti. Biaya bahan baku seperti daging sapi dan tepung rentan mengalami kenaikan musiman menjelang hari besar, sehingga rasio keuntungan (profit margin) bisa tergerus jika harga jual tidak disesuaikan. Selain itu, risiko perizinan, penegakan aturan lalu lintas, dan ketergantungan pada satu titik jual menjadi celah yang perlu diantisipasi.

Para ekonom kerap menegaskan bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh faktor keberuntungan viral, melainkan oleh kedisiplinan pembukuan, pengelolaan likuiditas, dan kemampuan membaca tren permintaan pasar.

Tips Ringkas untuk Pelaku UMKM dari Bang Udin

Kisah ini menawarkan beberapa pelajaran praktis. Pertama, pisahkan uang usaha dan uang pribadi sejak hari pertama agar arus kas terjaga. Kedua, mulai dari skala kecil terlebih dahulu, uji rasa dan lokasi sebelum menambah investasi. Ketiga, manfaatkan media sosial secara konsisten, bukan hanya saat produk baru, melainkan juga saat cerita di balik usaha dibagikan. Keempat, catat setiap pemasukan dan pengeluaran untuk mengetahui titik impas (break-even point) secara akurat.

Kelima, bangun jaringan dengan sesama pelaku usaha. Kolaborasi seringkali menurunkan biaya bahan baku melalui pembelian kolektif. Keenam, siapkan dana darurat minimal tiga kali pengeluaran bulanan sebagai pelindung bila penjualan menurun akibat faktor musiman atau perubahan sentimen pasar.

Secara keseluruhan, perjalanan Bang Udin menegaskan bahwa pemulihan dari PHK bisa ditempuh lewat jalur kewirausahaan, selama fondasi usaha dibangun dengan perhitungan rasional. Apakah model bakso keliling ini layak direplikasi? Jawabannya bergantung pada kesiapan modal, lokasi, dan kemampuan menjaga kualitas produk secara konsisten. Yang pasti, data menunjukkan sektor UMKM tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) di atas 60 persen, dan kisah semacam ini menjadi pengingat bahwa peluang masih terbuka bagi mereka yang berani memulai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User