Sep 01, 2026
Bisnis

Bali Interfood 2026: 110 Peserta dari 8 Negara Bidik Potensi Pasar F&B Bali

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, sektor makanan dan minuman (F&B) nasional terus menunjukkan pemulihan yang solid dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) men...

Bali Interfood 2026: 110 Peserta dari 8 Negara Bidik Potensi Pasar F&B Bali

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, sektor makanan dan minuman (F&B) nasional terus menunjukkan pemulihan yang solid dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 6,2% pada kuartal II 2026. Di tengah tren tersebut, Bali Interfood 2026 hadir sebagai platform strategis yang mempertemukan pelaku usaha kuliner, distributor, hingga pelaku hospitality dalam satu arena.

Skala Partisipasi dan Cakupan Global

Pameran yang diselenggarakan oleh Krista Exhibitions ini berhasil menarik partisipasi 110 exhibitor dari 8 negara, mencakup peserta dari kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, hingga Oceania. Angka ini mencerminkan lonjakan minat internasional terhadap potensi pasar kuliner Bali yang selama bertahun-tahun menjadi destinasi wisata kuliner utama di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada semester pertama 2026 mencapai 3,2 juta kunjungan, mengalami kenaikan sebesar 18,7% year-on-year. Pertumbuhan ini secara langsung mendongkrak permintaan terhadap produk dan layanan F&B berkualitas di pulau ini.

Pro: Momentum Pemulihan Sektor Hospitality

Di satu sisi, gelaran Bali Interfood 2026 dapat dipandang sebagai momentum strategis untuk pemulihan ekonomi sektor hospitality yang sempat tertekan. Dengan mempertemukan pemasok, produsen, dan pelaku usaha dalam satu platform, pameran ini berpotensi mempercepat distribusi produk lokal Bali ke pasar yang lebih luas.

Dalam konteks ekonomi kreatif, industri F&B Bali memiliki multiplier effect yang signifikan terhadap sektor lain seperti pertanian, perikanan, dan transportasi. Data Dinas Pariwisata Bali mencatat bahwa setiap rupiah transaksi di sektor kuliner berpotensi menggerakkan Rp 2,3 pada sektor pendukung lainnya.

"Pameran seperti Bali Interfood menjadi wadah bagi pelaku usaha kecil dan menengah untuk mengakses jaringan distribusi yang lebih luas, sekaligus memahami tren konsumsi terkini," jelas seorang ekonom dari Universitas Udayana.

Kontra: Tantangan Daya Beli dan Kompetisi

Di sisi lain, terdapat kekhawatiran mengenai kesenjangan antara ekspektasi pelaku usaha dan kondisi riil pasar. Tren pemulihan wisatawan memang positif, namun daya beli domestik yang belum sepenuhnya pulih menjadi tantangan tersendiri. Berdasarkan data Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali pada Juli 2026 berada di level 112,3, meskipun sudah di atas ambang 100, namun pertumbuhannya relatif stagnan dalam tiga bulan terakhir.

Selain itu, masuknya peserta internasional dalam jumlah besar juga memunculkan dinamika kompetisi yang tidak seimbang. Pelaku usaha lokal, terutama warung dan restoran kecil, berisiko tertinggal dalam hal modal, teknologi, dan kapasitas pemasaran dibandingkan dengan pemain yang memiliki sumber daya lebih besar.

Peluang Edukasi dan Networking

Selain aspek komersial, Bali Interfood 2026 juga dirancang sebagai sarana edukasi bagi pelaku usaha. Dalam agenda yang dijadwalkan, terdapat serangkaian seminar, workshop, dan demo memasak yang menghadirkan para ahli kuliner nasional maupun internasional. Topik yang dibahas mencakup manajemen rantai pasok, inovasi produk, hingga strategi branding di era digital.

Fasilitas networking yang tersedia memungkinkan pelaku usaha kuliner berinteraksi langsung dengan buyer dari hotel, restoran, dan kafe terkemuka di Bali maupun nasional. Hal ini menjadi nilai tambah mengingat proses distribusi produk F&B ke sektor hospitality seringkali menghadapi hambatan akses pasar.

Proyeksi dan Implikasi Ekonomi

Dengan melihat fundamental ekonomi Bali yang didukung oleh sektor pariwisata, gelaran Bali Interfood 2026 memiliki potensi untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, keberlanjutan manfaat dari evento seperti ini bergantung pada kemampuan peserta dalam mengonversi peluang networking menjadi transaksi nyata.

Para ekonom menekankan bahwa evaluasi dampak ekonomi dari pameran seperti ini sebaiknya dilakukan secara komprehensif, mencakup tidak hanya nilai transaksi langsung di lokasi acara, tetapi juga dampak tidak langsung seperti peningkatan kunjungan wisatawan, promosi目的地 Bali secara keseluruhan, dan transfer pengetahuan teknologi kepada pelaku usaha lokal.

Sebagai penutup, Bali Interfood 2026 menawarkan gambaran tentang bagaimana integrasi antara sektor pariwisata dan industri F&B dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi regional. Meskipun demikian, keberhasilan dalam memanfaatkan momentum ini sangat bergantung pada kesiapan pelaku usaha lokal dalam beradaptasi dengan standar kualitas dan kebutuhan pasar yang terus berkembang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User