Aug 25, 2026
Nasional

Bagaimana Mempelajari Bahasa Dapat Bantu Anda Bertahan dalam Persaingan AI

Bagaimana Mempelajari Bahasa Dapat Bantu Anda Bertahan dalam Persaingan AI

Bahasa modern maupun bahasa klasik telah lama menghadapi persoalan citra. Di tengah revolusi industri yang digerakkan oleh teknologi, bidang STEM justru terus menjadi pilihan populer. Sebanyak 46 persen dari seluruh ujian A-Level yang diambil pada 2025 berkaitan dengan STEM. Sementara itu, laporan Higher Education Policy Institute pada tahun yang sama mengungkap penurunan minat belajar bahasa yang disebut “katastrofik”: jumlah peserta A-Level untuk mata pelajaran pendidikan jasmani bahkan lebih banyak dibandingkan gabungan bahasa Prancis, Jerman, dan bahasa-bahasa klasik. Departemen bahasa modern di Cardiff University telah menyusut hingga setengahnya, sementara pada November lalu University of Nottingham mengajukan proposal untuk menghentikan program gelar bahasa. Mencerminkan anggapan bahwa peluang kerja bagi mereka yang tidak memiliki kualifikasi berbasis sains semakin berkurang.

BACA JUGA: 15 Buku Bertema Romantasy yang Cocok untuk Pemula

Namun, dunia kerja mungkin masih meremehkan berbagai keterampilan yang diperoleh mereka yang mampu menguasai bahasa. Charlotte Ryland, pendiri Queen’s College Translation Exchange (QCTE) di University of Oxford, meyakini bahwa manfaat pola pikir linguistik jauh melampaui sekadar kemampuan berkomunikasi. Menurutnya, kemampuan memecahkan masalah, empati, kolaborasi, dan ketangguhan berbagai keterampilan yang berkembang melalui pendidikan bahasa, hal ini merupakan kompetensi penting dalam dunia kerja.

“Firma hukum dan konsultan yang kami ajak berbicara mencari beragam keterampilan, tetapi yang paling utama adalah kemampuan untuk terhubung dengan manusia,” jelas Charlotte. “Ini tentang bagaimana Anda memahami apa yang dikatakan seseorang dan membaca makna di balik kata-kata mereka.”

Ini bukan sekadar menerjemahkan kata demi kata, melainkan tentang interpretasi keterampilan interpersonal yang merupakan bagian penting dari pekerjaan apa pun.

Melalui QCTE, ia bekerja di tingkat akar rumput sekaligus kebijakan. Dalam ranah kebijakan, Charlotte mendukung kelompok lintas pemerintahan yang bergerak di bidang bahasa, menjalankan berbagai proyek yang mempertemukan peneliti dengan pembuat kebijakan, serta menjadi sosok di balik kampanye “Think like a Linguist”. Menurut Charlotte, keberanian mengambil risiko ketika harus berbicara dalam bahasa yang berbeda, serta kepercayaan diri yang tumbuh dari proses tersebut, dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dalam memasuki dunia kerja.

Penyiar dan jurnalis BBC, Vick Hope, memiliki pandangan serupa. Saat remaja, ia belajar bahasa Spanyol secara autodidak sebelum melanjutkan studi bahasa modern di University of Cambridge. Sebagai bagian dari studinya, ia menghabiskan satu tahun di Buenos Aires.

“Saya benar-benar keluar dari zona nyaman linguistik saya. Butuh waktu hingga saya tidak lagi harus menerjemahkan semuanya di dalam kepala,” kenangnya. “Pengalaman tersebut bukan sekadar menerjemahkan kata demi kata, melainkan tentang interpretasi. Keterampilan interpersonal merupakan bagian penting dari pekerjaan apa pun, di industri mana pun.”

Foto: Courtesy BAZAAR UK

Berbagai perangkat AI kini mampu menerjemahkan dengan kualitas yang semakin tinggi. Beberapa bahkan dapat menerjemahkan secara simultan, sementara lainnya semakin canggih dalam menangkap makna di balik teks, bukan sekadar menerjemahkannya secara harfiah. Perkembangan ini kembali menjadi ancaman bagi prospek pekerjaan para ahli bahasa, sekaligus berpotensi mengikis nilai yang diberikan masyarakat terhadap pembelajaran bahasa.

Para ahli bahasa akan menjadi mereka yang paling mampu menavigasi dunia yang digerakkan oleh AI secara efektif.

Charlotte berpendapat bahwa alih-alih menghindari kemajuan teknologi, para ahli bahasa justru berada dalam posisi terbaik untuk menghadapinya secara langsung. Bagaimanapun, memahami konteks budaya dan nuansa bahasa merupakan hal yang krusial. “Para ahli bahasa adalah pembaca yang sangat cermat dan kritis,” ujarnya. “Mereka akan menjadi orang-orang yang paling mampu menavigasi dunia AI secara efektif, terutama ketika teknologi ini menjadi semakin mampu memahami dan merespons emosi manusia.”

BACA JUGA: 
25 Buku Paling Dinantikan yang Akan Terbit Musim Semi Ini

25 Buku Terbaik untuk Menyelami Dunia Fashion

(Penulis: Helena Lee; Artikel ini disadur dari: BAZAAR UK; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR UK)

Sumber: Harper Bazaar ID

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User