Sep 24, 2026
Bisnis

AURA BRI Peduli Perkuat Usaha Pala Wanita Tani di Bogor

Sebuah cerita tentang ketekunan dan lompatan ekonomi datang dari kaki Gunung Salak, Bogor. Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Tani Mysari Pala, yang sebelumnya hanya menjual biji pala dalam bentuk mentah...

AURA BRI Peduli Perkuat Usaha Pala Wanita Tani di Bogor

Sebuah cerita tentang ketekunan dan lompatan ekonomi datang dari kaki Gunung Salak, Bogor. Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Tani Mysari Pala, yang sebelumnya hanya menjual biji pala dalam bentuk mentah, kini berhasil menyulap komoditas itu menjadi aneka produk bernilai jual tinggi. Di balik transformasi ini, ada sentuhan program pemberdayaan yang tak hanya memberi pelatihan, tetapi juga membuka jalan ke pasar yang lebih luas: AURA BRI Peduli.

Dari Mentah ke Meja Makan: Lompatan Nilai Tambah Pala

Selama bertahun-tahun, pala dari kebun-kebun kecil di Kecamatan Tamansari hanya berakhir sebagai komoditas curah yang dibeli tengkulak dengan harga rendah. Harga biji pala basah sering kali hanya berkisar Rp8.000 hingga Rp12.000 per kilogram, sementara biaya perawatan pohon dan panen terus meningkat. Melihat potensi yang terbuang, para anggota KWT Bina Tani Mysari Pala memutuskan untuk tidak lagi sekadar menjual bahan baku. Mereka mulai mengolah daging buah pala menjadi sirup, selai, manisan, dan dodol dengan cita rasa khas. Produk olahan ini mampu dibanderol dengan harga jual tiga hingga lima kali lipat dibandingkan pala mentah. "Awalnya kami hanya coba-coba di dapur rumah, sekarang sudah bisa produksi seratus botol sirup sebulan," ujar seorang anggota kelompok. Perubahan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menciptakan identitas baru bagi desa sebagai sentra oleh-oleh pala.

Dukungan AURA BRI Peduli: Lebih dari Sekadar Modal

Program AURA (Ayo Untuk Raih Asa) BRI Peduli hadir sebagai katalisator. Bukan semata memberikan bantuan dana, program ini menyasar penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan usaha. Melalui serangkaian pelatihan intensif, anggota KWT belajar tentang standar keamanan pangan, perbaikan kemasan yang menarik, hingga strategi pemasaran digital. Hasilnya, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, omzet kelompok melonjak hingga 180 persen dan produk mereka kini menembus toko oleh-oleh serta marketplace online. "Kami tidak hanya dibantu alat produksi, tetapi juga diberi pendampingan bagaimana cara menghitung harga pokok penjualan dan mengelola keuangan sederhana. Itu yang membuat kami lebih percaya diri," tutur koordinator KWT. BRI juga memfasilitasi perolehan izin edar dan sertifikasi halal, dua aspek krusial yang kerap menjadi tembok besar bagi usaha mikro.

Efek Ganda: Pemberdayaan Perempuan dan Ekonomi Lokal

Dampak program ini menjalar lebih jauh dari sekadar angka penjualan. Sebanyak 30 anggota aktif yang mayoritas adalah ibu rumah tangga kini memiliki sumber pendapatan mandiri. Rata-rata, setiap anggota menerima tambahan penghasilan bersih sebesar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta per bulan, angka yang signifikan bagi keluarga di kawasan semi-perkotaan Bogor. Kemandirian finansial ini turut mengubah dinamika sosial: perempuan lebih dilibatkan dalam pengambilan keputusan rumah tangga, dan anak-anak mendapatkan asupan gizi serta pendidikan yang lebih baik. Di tingkat desa, KWT mulai menjadi rujukan bagi kelompok tani lain yang ingin mereplikasi model serupa. Ekonomi lokal ikut terangkat karena terjadi peningkatan permintaan terhadap pala sebagai bahan baku, sehingga petani sekitar juga merasakan dampak positifnya.

Prospek dan Rencana Pengembangan Berkelanjutan

KWT Bina Tani Mysari Pala tidak berpuas diri. Dengan fondasi yang sudah diperkuat oleh program AURA, mereka menyiapkan beberapa agenda strategis: diversifikasi produk ke varian rasa baru seperti pala madu dan pala jahe, ekspansi pemasaran ke kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, serta penjajakan kerja sama dengan hotel dan restoran untuk dijadikan hidangan khas daerah. BRI Peduli pun terus mendampingi melalui fase inkubasi lanjutan yang menitikberatkan pada penguatan jaringan bisnis dan akses permodalan formal. "Kami ingin KWT ini bisa menjadi role model usaha perempuan yang bertumpu pada potensi lokal, sehingga bisa direplikasi di banyak daerah lain," ujar perwakilan BRI. Dengan potensi pasar produk alami yang terus tumbuh, terutama di tengah tren gaya hidup sehat pascapandemi, produk olahan pala dari kaki Gunung Salak ini berpeluang besar untuk menembus pasar ekspor, asalkan konsistensi kualitas dan kapasitas produksi terus dijaga. Kisah dari Bogor ini membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, pemberdayaan perempuan tani bukan hanya slogan, melainkan mesin penggerak ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User