Oct 05, 2026
Bisnis

Asing Borong Saham Saat IHSG Melemah

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 31 Oktober 2025, perekonomian Indonesia masih mencatatkan tren pertumbuhan yang relatif stabil. Namun, hal tersebut tidak serta merta terrefleksikan terhada...

Asing Borong Saham Saat IHSG Melemah

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 31 Oktober 2025, perekonomian Indonesia masih mencatatkan tren pertumbuhan yang relatif stabil. Namun, hal tersebut tidak serta merta terrefleksikan terhadap pergerakan pasar modal domestik. Pada akhir pekan sesi pertama perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang merupakan indikator pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, mengalami penurunan dan ditutup pada level 5.989,02. Pergerakan ini menjadi sorotan, mengingat di tengah pelemahan tersebut, investor asing justru melakukan aksi pembelian bersih terhadap sejumlah saham tertentu, yang berbanding terbalik dengan besarnya arus keluar modal yang tercatat.

Dinamika Aliran Modal dan Pergerakan Indeks

Pergerakan IHSG pada periode tersebut menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan apabila dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Secara agregat, pasar mencatatkan capital outflow (arus keluar modal asing dari suatu negara ke negara lain) sebesar Rp1,17 triliun. Angka ini menjadi salah satu yang terbesar dalam rentang akhir bulan Oktober 2025. Fenomena ini turut berkontribusi terhadap tekanan terhadap likuiditas (kemudahan suatu aset untuk dikonversi menjadi uang tunai tanpa menurunkan nilainya secara drastis) di pasar domestik. Tekanan likuiditas tersebut kerap kali berdampak terhadap sentimen pasar (kecenderungan psikologis pelaku pasar dalam mengambil keputusan, baik yang didasari oleh data maupun ekspektasi), sehingga mendorong terjadinya aksi jual secara luas dan menekan indeks secara keseluruhan.

Meski demikian, data perdagangan menunjukkan adanya perbedaan yang cukup mencolok. Alih-alih menjual seluruh kepemilikan, investor asing terpantau melakukan pembelian bersih terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar. Beberapa di antaranya yang menjadi incaran adalah saham PT Astra International Tbk dan PT Merdeka Gold Tbk. Aksi pembelian yang terfokus ini menegaskan bahwa aliran modal asing tidak selalu bergerak secara seragam, namun dapat bersifat sangat selektif terhadap saham-saham yang dinilai memiliki fundamental (kondisi keuangan, operasional dan prospek bisnis suatu perusahaan) yang kuat.

Analisis Dua Sisi Terhadap Pergerakan Pasar

Di satu sisi, pembelian selektif yang dilakukan oleh investor asing dapat menjadi sinyal positif bagi pasar. Aksi tersebut dapat mencerminkan bahwa terdapat valuasi (penilaian terhadap harga wajar suatu aset berdasarkan faktor ekonomi dan keuangan) yang dianggap menarik pada saham-saham tertentu. Terlebih, apabila dilihat melalui rasio (perbandingan angka keuangan yang digunakan untuk menilai kinerja) keuangan beberapa emiten yang dibeli, kinerja operasional mereka masih tercatat solid apabila dibandingkan dengan capaian year-on-year (perbandingan kinerja pada periode yang sama tahun lalu) di tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dapat menjadi faktor yang menopang tren (kecenderungan pergerakan suatu data dalam jangka waktu tertentu) positif bagi kinerja emiten tersebut, sekaligus memberikan sedikit penyeimbang terhadap tekanan jual yang dialami oleh pasar secara keseluruhan.

Di sisi lain, perlu dilihat bahwa pembelian terhadap segelintir saham tidak serta merta dapat mengimbangi besarnya capital outflow yang telah terjadi. Pelemahan IHSG yang mencapai 0,85% dari level penutupan sebelumnya menunjukkan bahwa tekanan jual masih jauh lebih dominan terhadap portofolio (kumpulan aset yang dimiliki oleh seorang investor) asing secara keseluruhan. Selain itu, sentimen pasar global yang masih dibayangi oleh ketidakpastian suku bunga dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara maju turut memengaruhi proyeksi (perkiraan atas kondisi ekonomi atau keuangan di masa mendatang) arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini berpotensi membatasi pemulihan indeks dalam jangka pendek, meski terdapat pembelian yang terfokus.

"Dalam pasar negara berkembang, aliran modal asing kerap bersifat dua lapis. Arus keluar dapat terjadi secara agregat, namun secara bersamaan dapat terjadi pembelian yang sangat selektif terhadap emiten dengan fundamental yang terbukti tahan terhadap tekanan makro," ungkap seorang ekonom senior yang kerap memantau pergerakan pasar modal Asia.

Implikasi Terhadap Stabilitas Pasar

Dari sisi stabilitas, perbedaan arah pergerakan antara IHSG dan aksi investor asing ini dapat menjadi indikator penting. Pelemahan indeks yang disertai dengan pembelian selektif menunjukkan adanya proses rotasi portofolio, yaitu perpindahan dana dari satu jenis aset atau sektor ke aset atau sektor lainnya, alih-alih keluarnya modal secara total dari pasar modal Indonesia. Proses ini dapat menjaga likuiditas pada saham-saham tertentu, namun tidak serta merta meredakan tekanan terhadap saham-saham lain yang tidak menjadi incaran pembelian.

Lebih jauh, apabila dilihat dari sisi fundamental makro, rasio-rasio kunci perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang relatif terjaga. Namun, tekanan eksternal tetap perlu diwaspadai, mengingat besarnya capital outflow dapat berdampak terhadap nilai tukar dan biaya pendanaan. Oleh karena itu, tren pelemahan indeks perlu dibaca secara kontekstual, bukan hanya dari satu angka, melainkan dari arah aliran modal yang terbagi antara aksi jual agregat dan pembelian selektif.

Penutup

Pada akhirnya, pergerakan pasar pada akhir pekan sesi pertama perdagangan ini menjadi gambaran yang berimbang atas dinamika pasar modal Indonesia. Di satu sisi, pelemahan IHSG sebesar 0,85% yang disertai dengan capital outflow sebesar Rp1,17 triliun mencerminkan tekanan terhadap sentimen pasar dan likuiditas secara keseluruhan. Di sisi lain, aksi pembelian bersih terhadap saham-saham tertentu, seperti PT Astra International Tbk dan PT Merdeka Gold Tbk, menunjukkan bahwa investor asing masih menilai adanya nilai pada fundamental dan valuasi emiten Indonesia. Kedua hal ini dapat berjalan secara bersamaan, sehingga proyeksi pemulihan indeks akan sangat bergantung pada kemampuan pasar untuk menyeimbangkan tekanan eksternal dengan kekuatan fundamental domestik di periode mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User