Sep 18, 2026
Hukum

ARGENTINA — Sempat Dipecat, Hakim Mariel Suárez Beri Kelonggaran Jam Tahanan

Sebuah keputusan peradilan di Comodoro Rivadavia, Provinsi Chubut, Argentina, kembali menyedot perhatian publik nasional. Hakim Mariel Suárez, sosok kontro

ARGENTINA — Sempat Dipecat, Hakim Mariel Suárez Beri Kelonggaran Jam Tahanan

Sebuah keputusan peradilan di Comodoro Rivadavia, Provinsi Chubut, Argentina, kembali menyedot perhatian publik nasional. Hakim Mariel Suárez, sosok kontroversial yang sempat dipecat setelah terekam kamera mencium seorang narapidana di dalam penjara, kini memicu perdebatan baru. Hanya tiga bulan setelah jabatannya dipulihkan secara hukum, Suárez menerbitkan instruksi yang memperluas hak rekreasi dan kebebasan bergerak bagi para tahanan di kantor polisi setempat.

Keputusan tersebut diambil usai Suárez memimpin persidangan yang menindaklanjuti keluhan resmi dari para penghuni tahanan di Seccional Sexta. Sebelumnya, para tahanan hanya diberikan waktu terbatas selama 1 jam per hari untuk keluar dari sel guna membersihkan diri, merawat ruang tahanan, dan berolahraga. Melalui ketetapan baru ini, durasi di luar sel dilipatgandakan secara signifikan, memicu pro-kontra di tengah masyarakat yang masih mengingat jejak rekam sang hakim.

Jejak Skandal dan Pemulihan Jabatan

Nama Mariel Suárez menjadi sorotan internasional pada akhir tahun 2021. Kala itu, rekaman kamera pengawas memperlihatkan interaksi fisik yang dinilai tidak patut antara dirinya dan Cristian "Mai" Bustos, seorang narapidana kasus pembunuhan berencana. Ironisnya, interaksi tersebut terjadi hanya sehari setelah Suárez memimpin sidang kasus Bustos, di mana ia menjadi satu-satunya hakim yang menolak hukuman penjara seumur hidup bagi pria tersebut.

Skandal yang mengegerkan korps kehakiman Argentina itu berbuntut panjang. Pada November 2023, majelis etik resmi mencabut jabatan Suárez sebagai hakim. Namun, perlawanan hukum yang dilakukan tim pengacaranya membuahkan hasil. Pada Juni 2024, putusan pemecatan tersebut dibatalkan oleh pengadilan banding karena tidak ditemukannya unsur pidana murni, sehingga statusnya sebagai hakim resmi dipulihkan.

Dari Satu Jam Menjadi Enam Jam Bebas Sel

Kembali menduduki kursi meja hijau, Suárez tidak ragu mengambil langkah radikal terkait kondisi penahanan. Berdasarkan laporan La Opinión Austral, aturan baru yang ditandatanganinya memungkinkan tahanan tertentu mendapatkan waktu di luar sel hingga hampir 6 jam per hari. Pembagian waktu ini akan disesuaikan dengan rekam jejak perilaku dan karakteristik masing-masing individu.

Kategori Aturan Regulasi Lama Regulasi Baru (Hakim Suárez)
Durasi di Luar Sel 1 jam per hari Hingga 6 jam per hari
Fokus Kegiatan Pembersihan dasar & aseo singkat Resosialisasi, sanitasi, dan rekreasi terstruktur
Skema Penilaian Disamaratakan untuk seluruh tahanan Disesuaikan dengan kompetensi & rekam jejak tahanan

Langkah ini mendapat dukungan kuat dari pihak pembela publik. Pengacara publik Julián Pulgar menegaskan bahwa isolasi berlebihan di dalam sel sempit justru merusak kesehatan mental narapidana dan bertentangan dengan prinsip dasar hukum pidana modern.

"Penjara bukanlah tempat untuk menghukum dan menghancurkan jiwa seseorang, melainkan sarana untuk proses resosialisasi. Mengurung manusia selama 23 jam sehari di dalam sel hanya akan menciptakan tekanan psikologis berat yang berbahaya saat mereka bebas kelak," ujar pembela publik Julián Pulgar saat mengutip argumentasi HAM dalam persidangan.

Dilema Reformasi Penjara dan Kepercayaan Publik

Keputusan Suárez kini berada di persimpangan jalan antara penegakan hak asasi manusia dan persepsi publik terhadap keadilan. Di satu sisi, kondisi fasilitas penahanan di Chubut memang kerap dikritik oleh organisasi HAM karena kelebihan kapasitas dan kelayakan yang minim. Kebijakan menambah waktu rekreasi dinilai sebagai langkah humanis untuk mengurangi ketegangan di dalam sel.

Namun di sisi lain, pengamat hukum dan masyarakat skeptis menilai setiap kebijakan yang dikeluarkan Suárez bagi para tahanan akan selalu dikaitkan dengan skandal masa lalunya. Kritik tajam bermunculan mengingat vonis kelonggaran ini diberikan oleh hakim yang pernah terbukti melanggar batas etika profesionalisme dengan seorang terpidana.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User