Apakah Kompres Es Ketiak Bisa Mengatasi Overthinking? Ahli Jiwa IPB Univ Jelaskan

Tren kompres es ketiak viral di media sosial diwawancarai para ahli. Dr. Riati Sri Hartini SpKJ MSc mengungkap efeknya bersifat sementara, bukan terapi utama kecemasan, serta risiko cold burn jika pemakaian salah.

Aug 18, 2026 - 06:25
0 0
Apakah Kompres Es Ketiak Bisa Mengatasi Overthinking? Ahli Jiwa IPB Univ Jelaskan

Tren kesehatan mental yang semakin marak di media sosial telah memicu berbagai praktik viral yang diklaim dapat meredakan stres dan overthinking. Salah satu praktik terbaru yang menarik perhatian jutaan pengguna adalah memasang kompres es pada area ketiak. Video-konten ini seringkali menampilkan penggemar menempelkan kantong es atau gel dingin ke lubang ketiak selama beberapa menit, mengidamkan perasaan tenang dan napas yang lebih terkontrol. Meskipun tampilannya terlihat sederhana dan menyenangkan, di baliknya muncul pertanyaan yang serius: apakah metode ini memiliki dasar ilmu medis yang kuat, atau hanya menjadi ilusi ketenangan sesaat?

Fenomena Viral di Era Digital

Dengan algoritma yang mempromosikan konten yang menyentuh emosia, praktik-seperti-ini menyebar dengan cepat. Banyak pengguna yang berbagi pengalaman pribadi tentang "keajaiban" es ketiak, menggambarkan peralihan mood dari cemas menjadi rileks dalam hitungan menit. Gaya konten ini sering memanfaurkan nada hangat dan narasi personal, sehingga membuat pemirsa mudah tergipecam untuk mencobanya tanpa mempertimbangkan risiko atau akurasi medis. Namun, para ahli menekankan bahwa respons fisik terhadap suhu dingin memang ada, tetapi hal tersebut tidak sama dengan pengobatan atau terapi untuk gangguan kecemasan yang terdiagnosa.

Wawasan Ahli: dr. Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc

Untuk mengurai klaim-klaiman tersebut, kami merespons terhadap tanggapan para pakar kesehatan mental. Psikiater dan dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, telah mengulas topik ini dengan data dan pengalaman klinis. Menurutnya, sensasi dingin memang dapat memberikan efek relaksasi, tetapi bukan merupakan jalan utama untuk menyembuhkan atau mengelola gangguan kecemasan secara terapeutik.

"Efek dari kompres es hanya bersifat sementara. Ia dapat membantu menenangkan tubuh pada momen tertentu, tetapi tidak mengatasi penyebab dalam dari kecemasan,"
tutur dr. Riati.

Dr. Riati menjelaskan bahwa sensasi dingin mendadak memicu dua mekanisme fisiologis yang menarik perhatian, meskipun keduanya masih berkibat sementara.

  • Aktivasi Saraf Parasimpatis: Sentuhan Dingin yang tiba-tiba membantu menurunkan respons stres tubuh. Alami, tubuh memulai proses relaksasi saat terasa gelap dingin, yang dapat menurunkan detak jantung dan melelahkan sistem "tempur" saraf.
  • Teknik Grounding Alami: Rasa dingin yang tajam mengalihkan fokus otak dari aliran pikiran yang berlebihan (overthinking) kembali ke sensasi fisik yang ada pada saat itu. Ini mirip dengan teknik grounding yang digunakan dalam terapi, namun kompres es ketiak bukan pengganti pengolahan profesional.

Meskipun kedua mekanisme ini dapat menciptakan sensasi ringan, para dokter menekankan bahwa efeknya akan menghilang begitu paparan dingin berhenti. Oleh karena itu, tidak ada bukti ilmiah yang cukup untuk mengklaim bahwa kompres es di ketiak adalah solusi terapeutis untuk mengatasi gangguan kecemasan atau overthinking secara permanen.

Risiko yang Serius: Jangan Lewatkan

Selain kurang efektif untuk penanganan jangka panjang, praktik menempelkan es langsung pada kulit juga membawa risiko fisik yang tidak bisa diabaikan. dr. Riati memperingatkan bahwa penggunaan es batu secara langsung pada kulit dalam waktu lama justru dapat memicu iritasi hingga kondisi yang disebut cold burn atau cedera jaringan kulit akibat paparan suhu sangat dingin. Area ketiak memiliki kulit yang rapuh dan sensitif, sehingga rawan terhadap perubahan suhu ekstrem.

Cold burn tidak hanya menyebabkan nyeri dan meradang, tetapi dalam kasus yang parah bisa memerlukan intervensi medis untuk menyembuhkan kulit yang rusak. Oleh karena itu, kompres dingin sebaiknya hanya digunakan sebagai pertolongan pertama (first aid) saat seseorang sedang merasa panik atau sangat tegang pada momen tertentu, bukan sebagai rutin atau obat alternatif untuk masalah kesehatan mental yang berkepanjangan.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Kondisi kecemasan yang seharusnya dialami serius adalah ketika gangguan tersebut mulai mengganggu keharian sehari-hari. dr. Riati mengeluarkan mandat klarifikasi bagi masyarakat: jika rasa cemas dan overthinking sudah berlangsung selama beberapa minggu, mulai mengganggu kualitas tidur, mengacaukan performa pekerjaan atau studi, atau bahkan disertai serangan panik (panic attack), tindakan segera ke ahli adalah jeda yang tak boleh tertunda.

"Penanganan yang tepat sejak dini oleh psikolog atau psikiater akan memberikan hasil yang jauh lebih baik,"
katanya lanjut. "Bisa melalui bantuan psikoterapi, misalnya Terapi Perilaku Kognitif (CBT), maupun pemberian obat-obatan jika kondisi memerlukan it.

Keseluruhan narasi ini menguatkan pesan bahwa meski tendensi menjadi viral bisa menarik, tanggung jawab utama tetap pada pendekatan yang berbasis bukti dan pengawasan profesional. Kesehatan mental layak dihargai dengan tri yang tidak hanya menarik, tetapi juga aman dan efektif bagi kesejahteraan jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User