ANTAM Tanam 5.000 Bibit Mangrove di Hari Mangrove Sedunia
PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperingati Hari Mangrove Sedunia dengan aksi nyata penanaman 5.000 bibit mangrove di kawasan pesisir terpilih. Kegiatan ini me...
PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperingati Hari Mangrove Sedunia dengan aksi nyata penanaman 5.000 bibit mangrove di kawasan pesisir terpilih. Kegiatan ini menjadi penegasan komitmen perusahaan terhadap perlindungan ekosistem biru sekaligus mendorong tercapainya target pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Mengapa Mangrove Begitu Penting?
Ekosistem mangrove memiliki peran multifaset yang vital. Hutan bakau ini berfungsi sebagai pelindung alami garis pantai dari abrasi dan gelombang pasang. Kemampuannya menyerap karbon dioksida jauh melampaui hutan tropis daratan; penelitian menunjukkan mangrove mampu menyimpan karbon hingga empat kali lebih besar per hektar. Selain itu, akar-akarnya yang rumit menjadi habitat ideal bagi beragam biota laut, dari udang, kepiting, hingga ikan kecil yang menjadi tumpuan mata pencarian nelayan tradisional. Kerusakan mangrove akan mengancam rantai pasok pangan, memperparah intrusi air laut, dan melepaskan emisi karbon yang selama ini tersimpan rapat di sedimen lumpur.
Aksi Tanam 5.000 Bibit: Simbolisasi Komitmen Jangka Panjang
Acara yang digelar di salah satu lokasi rehabilitasi pesisir prioritas ini bukan sekadar seremoni. Sebanyak 5.000 bibit mangrove dari jenis Rhizophora mucronata dan Avicennia marina ditanam dengan melibatkan karyawan ANTAM, perwakilan KLH, kelompok masyarakat pesisir, serta pelajar setempat. Pemilihan lokasi didasarkan pada kajian kesesuaian lahan yang telah dilakukan sebelumnya, memastikan bibit memiliki tingkat hidup tinggi dan mampu membentuk tegakan mangrove yang kokoh dalam beberapa tahun ke depan. “Penanaman ini adalah bagian dari strategi pengelolaan lingkungan terpadu kami. Bukan hanya menanam, tetapi kami juga akan melakukan pemantauan berkala selama minimal tiga tahun untuk memastikan pertumbuhannya,” ujar Direktur Utama ANTAM dalam sambutannya.
Kolaborasi Strategis dengan Pemerintah
Kehadiran KLH dalam kegiatan ini menegaskan sinergi antara korporasi dan pemerintah dalam merehabilitasi lahan kritis. Pemerintah sendiri menargetkan rehabilitasi 600.000 hektare mangrove hingga tahun 2027 melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional dan berbagai skema kemitraan. Partisipasi ANTAM menjadi contoh bagaimana sektor ekstraktif dapat berkontribusi memperbaiki kualitas lingkungan, sejalan dengan Peraturan Pemerintah tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove. “Kami mengapresiasi langkah ANTAM yang tidak hanya berhenti pada pemenuhan regulasi, tetapi juga melibatkan masyarakat lokal agar kesadaran menjaga mangrove tumbuh dari akar rumput,” ungkap Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLH.
Dukungan terhadap Pembangunan Berkelanjutan
Upaya pelestarian ini terkait erat dengan peta jalan Environmental, Social, and Governance (ESG) ANTAM. Perusahaan mencanangkan target netralitas karbon operasional pada tahun 2050, dan penanaman mangrove merupakan salah satu pilar penting dalam mencapai carbon offset sekaligus konservasi keanekaragaman hayati. Selain itu, program ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama poin 14 (Ekosistem Laut), poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan poin 15 (Ekosistem Daratan). ANTAM mencatat, sejak tahun 2020 mereka telah menanam lebih dari 50.000 bibit mangrove di berbagai wilayah operasi, dari pesisir Pulau Jawa hingga kawasan timur Indonesia.
Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Masyarakat Pesisir
Lebih dari sekadar konservasi, inisiatif ini membuka peluang ekonomi baru. Bibit yang ditanam kelak akan menghasilkan buah propagul yang dapat dijual untuk program rehabilitasi lain, sementara kawasan mangrove yang sehat menjadi ekowisata berbasis masyarakat. Kelompok tani dan nelayan yang terlibat dibekali pelatihan budidaya mangrove dan pengelolaan hasil hutan bukan kayu, seperti sirup mangrove dan batik pewarna alami. Dengan demikian, siklus perlindungan lingkungan bergerak seiring dengan peningkatan kesejahteraan. Program ini diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi tekanan terhadap ekosistem akibat aktivitas penebangan liar maupun konversi lahan untuk tambak tidak ramah lingkungan.
Menjaga Keberlanjutan Lewat Tata Kelola Yang Terukur
Keberhasilan rehabilitasi mangrove membutuhkan komitmen dan tata kelola yang transparan. ANTAM menyatakan akan mempublikasikan laporan berkala tentang tingkat keberhasilan tumbuh bibit, karbon tersimpan, serta dampak sosial ekonomi melalui laporan keberlanjutan tahunan. Mekanisme monitoring memanfaatkan teknologi drone dan geotagging untuk memetakan perubahan tutupan lahan secara real time. Pendekatan berbasis data ini memudahkan evaluasi dan mitigasi jika terjadi hambatan di lapangan, seperti hama atau perubahan arus laut. Masyarakat pun dilibatkan sebagai bagian dari tim pemantau, memperkuat ikatan kepemilikan terhadap hutan mangrove yang mereka jaga.
Pada peringatan Hari Mangrove Sedunia kali ini, ANTAM bersama KLH tidak hanya menanam ribuan bibit, tetapi juga menanam harapan: bahwa keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kelestarian alam dapat terus dijaga melalui langkah konkret dan kolaborasi multipihak. Dengan ekosistem mangrove yang pulih, Indonesia semakin tangguh menghadapi ancaman perubahan iklim sekaligus menjaga warisan alam bagi generasi mendatang.
Comments (0)