Ancaman Santet Mengarah ke Pejabat Pajak, Benda Mistis Ditemukan di Kantor

Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di Jakarta dikejutkan oleh penemuan paket mencurigakan berisi benda-benda yang diyakini digunakan dalam praktik supranatural, tepat di area kerja pimpinan te...

Jul 28, 2026 - 00:17
0 0
Ancaman Santet Mengarah ke Pejabat Pajak, Benda Mistis Ditemukan di Kantor

Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di Jakarta dikejutkan oleh penemuan paket mencurigakan berisi benda-benda yang diyakini digunakan dalam praktik supranatural, tepat di area kerja pimpinan tertinggi institusi tersebut. Insiden ini terungkap pada Rabu pagi saat petugas kebersihan menemukan sebungkus kain hitam yang diletakkan di bawah meja salah satu pejabat eselon I. Setelah diperiksa, paket itu berisi sejumlah benda yang lazim disebut dalam ritual santet: jarum yang ditusuk pada potongan foto, benang kusut, rambut yang dibungkus daun, dan serpihan tulang yang belum diketahui asalnya.

Kepanikan langsung menyebar. Tidak butuh waktu lama bagi satuan pengamanan internal untuk mengamankan lokasi. Namun, keterkejutan bertambah ketika sebuah surat ancaman ditemukan terselip di antara benda-benda tersebut. Surat yang ditulis dengan aksara campuran itu berisi kalimat pendek bernada mengancam: "Untuk Bos Pajak, bersiaplah menerima balasan." Kalimat ini serta-merta mengarahkan kecurigaan bahwa target utama dari kiriman mistis itu adalah Direktur Jenderal Pajak.

Benda-Benda dalam Paket dan Makna Simboliknya

Berdasarkan keterangan seorang antropolog yang enggan disebutkan namanya, komposisi barang dalam paket tersebut bukanlah sekadar kumpulan sampah. Potongan foto yang ditusuk jarum menandakan upaya penyerangan terhadap identitas target secara langsung. Rambut yang dibungkus daun sering dikaitkan dengan elemen pengiriman energi negatif, sementara serpihan tulang dipercaya sebagai media untuk memperkuat koneksi antara pengirim dan alam gaib. Benang kusut melambangkan perjalanan hidup yang diharapkan akan ruwet dan penuh hambatan bagi korbannya. “Ini bukan tindakan iseng. Perangkat semacam ini membutuhkan pemahaman tertentu tentang ritual, dan biasanya disertai niat yang sangat personal,” ujarnya.

Polisi yang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) telah membawa seluruh barang bukti ke laboratorium forensik untuk diperiksa lebih lanjut. Meski demikian, Kasat Reskrim setempat menyatakan bahwa pihaknya juga membuka penyelidikan dari sisi motif pelaku, mengingat posisi Dirjen Pajak yang kerap bersinggungan dengan kebijakan sensitif, mulai dari pemblokiran Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), penagihan tunggakan besar, hingga pengungkapan kasus penghindaran pajak yang melibatkan perusahaan-perusahaan besar dan figur publik.

Respons Lembaga dan Langkah Keamanan

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi DJP memberikan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa seluruh jajaran tetap menjalankan tugas seperti biasa. “Kami tidak akan terintimidasi oleh ancaman yang tidak rasional. Tugas melayani dan mengamankan penerimaan negara tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya. Namun, di balik sikap tegas itu, sejumlah langkah pengamanan langsung diperketat. Akses ke lantai eksekutif kini hanya diperbolehkan bagi pegawai yang telah melalui pemeriksaan ganda, dan sejumlah ruangan dipasangi kamera pengawas tambahan. Pemeriksaan barang bawaan bagi tamu dan mitra kerja juga mulai diterapkan lebih ketat.

Beberapa pegawai yang diwawancarai secara terpisah mengaku resah. “Kita tidak tahu ini berasal dari siapa. Jika ancaman seperti ini berani masuk ke dalam gedung, berarti ada celah keamanan yang cukup serius,” kata seorang staf yang tidak mau disebutkan namanya. Kekhawatiran ini diperkuat oleh fakta bahwa paket tersebut tidak terdeteksi oleh pemeriksaan standar yang selama ini berlaku.

Dimensi Budaya dan Tekanan Psikologis

Di Indonesia, kepercayaan terhadap santet dan ilmu hitam masih cukup kuat, terutama ketika seseorang merasa berada di posisi yang dirugikan oleh keputusan otoritas. Ancaman semacam ini bisa dilihat sebagai ekspresi kemarahan yang tidak menemukan saluran konvensional. Seorang sosiolog hukum menyebut bahwa fenomena ini kerap mencuat ketika mekanisme hukum dirasa tidak memadai atau terlalu rumit. “Santet menjadi semacam jalan pintas bagi mereka yang merasa tidak berdaya menghadapi kekuasaan birokrasi,” jelasnya.

Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa ancaman ini hanyalah bentuk tekanan psikologis yang disengaja, bukan sekadar keyakinan supranatural. Dengan mengirim benda-benda mengerikan, pelaku ingin menciptakan efek intimidasi yang nyata, tanpa harus berhadapan langsung. Pendekatan ini bahkan dapat mengganggu konsentrasi para pengambil keputusan dan menciptakan kecemasan yang berdampak pada produktivitas kerja.

Potensi Motif dan Arah Penyelidikan

Para penyidik kini menyusuri sejumlah kemungkinan motif. Salah satu yang paling menonjol adalah kemarahan akibat kebijakan penagihan pajak yang agresif terhadap sektor usaha tertentu yang selama ini dianggap “kebal hukum.” Dalam beberapa bulan terakhir, DJP memang gencar melakukan penegakan kepatuhan terhadap wajib pajak besar, termasuk di sektor komoditas, digital, dan properti. Beberapa kasus telah berujung pada penyitaan aset dan pemblokiran rekening bank yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah. Selain itu, penyelidikan juga mempertimbangkan kemungkinan adanya hubungan dengan kasus-kasus perpajakan yang tengah bergulir di ranah pidana, di mana tersangka memiliki akses terhadap sumber daya untuk melancarkan teror non-konvensional semacam ini.

Aparat juga tidak mengesampingkan skenario bahwa pelaku adalah individu yang terganggu secara mental dan mengaitkan kesulitan ekonominya dengan otoritas pajak. Pola semacam ini pernah terjadi dalam beberapa insiden serupa di instansi pemerintah lainnya, meskipun skalanya tidak sedramatis ini. Pihak kepolisian berjanji akan mengusut tuntas kasus ini dengan tetap menghormati nilai-nilai budaya dan tidak memperkuat ketakutan irasional di masyarakat.

Sementara itu, aktivitas di kantor pusat DJP perlahan kembali normal, meskipun tidak sepenuhnya lepas dari bisik-bisik tentang siapa yang berani melancarkan ancaman mistis ke jantung institusi pengumpul penerimaan negara itu. Satu hal yang pasti, peristiwa ini menambah daftar panjang tekanan yang dihadapi oleh para pejabat publik di Indonesia, di mana sengketa kebijakan tidak selalu diselesaikan melalui mekanisme formal, melainkan juga melalui saluran gelap yang menantang nalar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User