Sep 01, 2026
Bisnis

Akses Keuangan Pelajar Diperluas, Literasi Finansial Jadi Prioritas Nasional

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per November 2025, tingkat inklusi keuangan nasional telah mencapai 85,09% dari populasi dewasa Indonesia. Namun, literasi keuangan di kalangan pelajar ma...

Akses Keuangan Pelajar Diperluas, Literasi Finansial Jadi Prioritas Nasional

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per November 2025, tingkat inklusi keuangan nasional telah mencapai 85,09% dari populasi dewasa Indonesia. Namun, literasi keuangan di kalangan pelajar masih menunjukkan kesenjangan yang signifikan dibandingkan kelompok usia produktif lainnya. Kondisi ini mendorong berbagai pihak untuk memperluas akses keuangan bagi generasi muda, termasuk melalui program Tabungan SimPel yang telah menjangkau ribuan sekolah di seluruh Nusantara.

Kolaborasi Bank dan Institusi Pendidikan

PT Bank Jakarta bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi memperluas kerja sama untuk menghadirkan layanan perbankan langsung di lingkungan pendidikan. Program ini tidak sekadar menyediakan rekening tabungan bagi pelajar, tetapi juga mengintegrasikan edukasi keuangan dalam kurikulum sekolah. Melalui pendekatan ini, pelajar tidak hanya dikenalkan pada produk perbankan dasar, tetapi juga dilatih untuk memahami konsep manajemen uang sejak usia dini.

"Kami melihat bahwa budaya menabung harus instilled sejak dini agar menjadi kebiasaan jangka panjang," tutur seorang perwakilan manajemen Bank Jakarta dalam konferensi pers yang berlangsung awal November lalu. Beliau menjelaskan bahwa program ini dirancang agar pelajar dapat memahami nilai uang, perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta pentingnya perencanaan finansial. Pendekatan ini sejalan dengan mandat Otoritas Jasa Keuangan yang menargetkan peningkatan literasi keuangan nasional hingga 60% pada 2029.

Pro: Fondasi Literasi Finansial yang Kuat

Di satu sisi, program perluasan akses keuangan bagi pelajar mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Pakar ekonomi pendidikan berpendapat bahwa generasi yang terbiasa berinteraksi dengan produk keuangan sejak dini cenderung memiliki perilaku finansial yang lebih disiplin saat dewasa. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat dengan literasi keuangan baik memiliki kecenderungan menabung lebih tinggi, yakni rata-rata 18% dari pendapatan dibandingkan 9% bagi mereka yang kurang terliterasi.

Lebih lanjut, program ini dianggap sebagai investasi sumber daya manusia jangka panjang. Dengan pemahaman finansial yang baik sejak usia sekolah, diharapkan generasi muda dapat menghindari jeratan pinjol dan utang konsumtif yang kini marak dialami kelompok usia produktif. Indeks literasi keuangan Indonesia yang baru mencapai 49,68% menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2024 masih tertinggal dari negara-negara tetangga di ASEAN, sehingga intervensi sejak dini menjadi krusial.

Kontra: Risiko Paparan Finansial Dini

Di sisi lain, sejumlah kritikus mengingatkan adanya potensi risiko dari paparan produk keuangan terlalu dini. Psikolog perkembangan anak mengkhawatirkan bahwa pelajar yang belum memiliki kemampuan kognitif memadai untuk memahami konsekuensi finansial jangka panjang justru dapat terdorong pada perilaku konsumtif. Terminologi seperti "bunga", "deposito", atau "return investasi" mungkin terlalu abstrak bagi anak usia sekolah dasar dan menengah.

Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai kesenjangan akses antara pelajar di daerah perkotaan dan pedesaan. Program yang melibatkan kolaborasi bank besar seperti Bank Jakarta secara alami lebih mudah diimplementasikan di kota-kota besar dengan infrastruktur perbankan yang memadai. Hal ini berpotensi memperlebar jurang inklusi keuangan justru di kalangan yang paling membutuhkan, yakni generasi muda di wilayah tertinggal, terpencil, dan perbatasan.

Menyeimbangkan Edukasi dan Akses

Melihat dinamika tersebut, diperlukan pendekatan yang terukur dan berkelanjutan. Para pemangku kepentingan perlu memastikan bahwa program literasi keuangan tidak berubah menjadi sekadar kampanye tanpa substansi. Evaluasi berkala terhadap efektivitas program, pelatihan bagi guru sebagai agen perubahan, serta pengembangan materi ajar yang sesuai dengan usia peserta didik menjadi aspek yang tidak boleh diabaikan.

Secara makroekonomi, penguatan literasi keuangan pelajar memiliki korelasi positif dengan stabilitas sistem keuangan nasional ke depan. Ketika generasi muda memiliki fundamental pemahaman keuangan yang baik, tekanan terhadap lembaga keuangan mikro tidak berizin dapat berkurang. Selain itu, tingkat non-performing financing di sektor produktif berpotensi menurun karena masyarakat lebih mampu membuat keputusan finansial yang rasional.

Ke depan, sinergi antara regulator, perbankan, dan institusi pendidikan akan menentukan keberhasilan program ini. Dengan implementasi yang tepat sasaran dan evaluasi yang ketat, perluasan akses keuangan bagi pelajar dapat menjadi langkah strategis dalam membangun masyarakat yang finansial literate dan resilient.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User