Akomodasi Baru di Mandalika Pacu Geliat Sport Tourism

Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Nusa Tenggara Barat resmi memiliki fasilitas penginapan anyar bernama Sade Social Space, yang diresmikan langsung oleh Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa pada Ah...

Akomodasi Baru di Mandalika Pacu Geliat Sport Tourism

Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Nusa Tenggara Barat resmi memiliki fasilitas penginapan anyar bernama Sade Social Space, yang diresmikan langsung oleh Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa pada Ahad, 12 Juli 2026. Kehadiran akomodasi ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan sport tourism di destinasi unggulan yang telah menjadi rumah bagi perhelatan balap motor kelas dunia, termasuk MotoGP dan World Superbike.

Peresmian Sade Social Space menandai fase baru dalam upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata berkualitas. Fasilitas yang berlokasi strategis di jantung KEK Mandalika ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan wisatawan domestik dan mancanegara yang menginginkan pengalaman menginap yang modern, nyaman, dan tetap menghargai kekayaan budaya lokal Lombok. Data dari Kementerian Pariwisata menunjukkan tingkat okupansi akomodasi di Mandalika melonjak hingga 85 persen pada periode penyelenggaraan MotoGP 2025, sehingga penambahan kapasitas akomodasi menjadi langkah yang krusial.

Desain Berbasis Budaya dengan Sentuhan Modern

Sade Social Space mengusung konsep arsitektur yang memadukan elemen tradisional Sasak dengan desain kontemporer. Bangunan ini menggunakan material lokal seperti kayu, bambu, dan anyaman khas Lombok, namun tetap menghadirkan fasilitas modern seperti kolam renang, pusat kebugaran, dan area co-working. Dengan total 120 unit kamar yang terdiri dari tipe deluxe, suite, dan vila privat, akomodasi ini menambah signifikan inventaris kamar di Mandalika yang sebelumnya tercatat sekitar 3.500 unit dari berbagai kelas hotel.

Menurut Kementerian Pariwisata, investasi yang digelontorkan untuk proyek ini mencapai Rp125 miliar, yang berasal dari skema kerja sama antara investor swasta nasional dan Badan Usaha Milik Desa setempat. Model kemitraan ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar dan menciptakan lapangan kerja langsung hingga 350 orang saat beroperasi penuh. "Kami ingin Sade Social Space menjadi contoh bahwa investasi pariwisata harus berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat lokal," ujar Ni Luh Puspa dalam sambutannya, yang dikutip tanpa menyebut platform asal pernyataan.

Sport Tourism sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi NTB

Mandalika telah menjelma sebagai magnet sport tourism di kawasan Asia Pasifik. Sejak masuknya MotoGP ke Indonesia pada 2022, gelaran balap internasional ini telah menyumbang dampak ekonomi yang signifikan. Data Bank Indonesia per kuartal I 2026 menyebutkan bahwa perhelatan MotoGP Mandalika setiap tahunnya mampu menghasilkan perputaran uang mencapai Rp4,8 triliun, termasuk dari sektor transportasi, akomodasi, kuliner, dan perdagangan. Sport tourism tidak hanya meningkatkan angka kunjungan wisatawan, tetapi juga memperpanjang masa tinggal (length of stay) wisatawan mancanegara yang rata-rata kini menjadi 5,3 hari, naik dari 3,8 hari pada tahun 2023.

Di satu sisi, penambahan akomodasi seperti Sade Social Space akan memperkuat daya tampung kawasan saat event balap berlangsung, di mana lonjakan permintaan kamar kerap membuat harga hotel meroket hingga 300 persen dari harga normal. Hal ini sering dikeluhkan wisatawan dan berpotensi menurunkan daya saing Mandalika dibanding destinasi sport tourism lain seperti Buriram di Thailand atau Sepang di Malaysia. Keberadaan lebih banyak pilihan akomodasi diharapkan menciptakan persaingan sehat yang menjaga harga tetap kompetitif.

Di sisi lain, para pelaku usaha kecil menengah (UKM) di sekitar Mandalika masih menghadapi tantangan terkait permodalan dan akses pasar. Meskipun okupansi hotel terus meningkat, sebagian besar produk kerajinan dan kuliner lokal belum terserap optimal oleh rantai pasok industri pariwisata. Bank Indonesia mencatat bahwa hanya 35 persen UKM di NTB yang telah terhubung ke ekosistem digital pariwisata, sehingga potensi kebocoran ekonomi (leakage) masih cukup tinggi. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap investasi baru, seperti Sade Social Space, turut membuka jalur bagi pelaku lokal untuk menjadi pemasok atau mitra usaha.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Dengan beroperasinya Sade Social Space, total kapasitas akomodasi di KEK Mandalika kini bertambah sekitar 3,4 persen. Kementerian PPN/Bappenas memproyeksikan bahwa pada tahun 2030, kawasan Mandalika akan menarik 2,5 juta wisatawan per tahun, meningkat dari 1,8 juta wisatawan pada tahun 2025. Untuk mencapai target tersebut, tidak hanya kuantitas akomodasi yang perlu ditingkatkan, tetapi juga kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata. Pelatihan hospitality untuk warga lokal, sertifikasi pemandu wisata, dan penguasaan bahasa asing menjadi elemen yang tak kalah penting.

Konektivitas juga masih menjadi pekerjaan rumah. Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid di Lombok saat ini melayani 12 rute internasional, jauh di bawah Bali yang memiliki lebih dari 40 rute. Pemerintah daerah bersama Kementerian Perhubungan tengah mendorong penambahan rute penerbangan dari Australia, Jepang, dan Timur Tengah untuk memperluas pasar wisatawan. Selain itu, infrastruktur jalan dan transportasi publik dari bandara menuju Mandalika perlu terus ditingkatkan agar wisatawan merasakan pengalaman yang mulus sejak mendarat hingga mencapai destinasi.

Dari sisi makro, sport tourism di Mandalika telah menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi NTB yang pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,8 persen year-on-year, di atas rata-rata nasional 5,1 persen. Sektor akomodasi dan penyediaan makanan minuman menyumbang 18,6 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB. Data ini menegaskan bahwa setiap investasi di sektor pariwisata memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang besar bagi perekonomian daerah. Masyarakat pun diharapkan dapat merasakan manfaat nyata dari derasnya arus investasi yang masuk ke Mandalika.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User