Airlangga Dorong UMKM Belajar dari India: Tak Cukup Hanya Produksi
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM serta Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal I 2025, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik...
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM serta Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal I 2025, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja Tanah Air. Meski kontribusinya besar, rasio produktivitas UMKM Indonesia masih tertinggal dari negara-negara peers, dengan nilai tambah per pekerja yang hanya sekitar sepertiga dari rata-rata perusahaan berskala besar.
Dalam konteks itulah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong pelaku UMKM nasional mencontoh India. Menurutnya, keberhasilan usaha kecil di negara tersebut bukan semata soal kemampuan memproduksi barang, melainkan kemampuan membangun merek, memperluas jaringan pemasaran, dan menembus rantai nilai global. Pernyataan ini mengemuka di tengah upaya pemerintah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang pada kuartal terakhir tercatat di kisaran 5,1 persen year-on-year, relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah ekonomi besar dunia.
Resep India: Formalisasi, Digitalisasi, dan Orientasi Ekspor
India menjadi rujukan bukan tanpa alasan. Sektor usaha kecil menengah di negara itu berkontribusi sekitar 30 persen terhadap PDB dan menyokong lebih dari 45 persen total ekspor nasional. Angka ini jauh di atas kontribusi ekspor UMKM Indonesia yang diperkirakan baru berkisar 15 hingga 16 persen. Pemerintah India membangun ekosistem pendukung melalui registrasi digital Udyam yang mempermudah formalisasi jutaan usaha, jaringan perdagangan digital terbuka ONDC, serta skema insentif produksi (production linked incentive) yang mendorong usaha kecil masuk ke rantai pasok industri besar.
Hasilnya, tren UMKM India mengalami kenaikan kelas: dari sekadar produsen rumahan menjadi pemasok komponen bernilai tambah tinggi dengan portofolio produk yang terdiversifikasi. Valuasi produk mereka meningkat karena tidak lagi menjual komoditas mentah, melainkan barang jadi dengan merek dan standar mutu yang diakui pasar internasional.
Di Satu Sisi: Peluang Besar Bagi UMKM Indonesia
Di satu sisi, gagasan meniru India memiliki fundamental yang kuat. Indonesia memiliki lebih dari 64 juta unit UMKM, namun mayoritas masih berada di skala mikro dengan akses pasar terbatas. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan baru sekitar 20 persen, sementara indeks inklusi keuangan terus mengalami kenaikan mendekati 90 persen. Artinya, infrastruktur keuangan sudah tersedia, tetapi pemanfaatannya untuk ekspansi usaha masih minim. Jika pelaku usaha bergerak dari sekadar produksi ke hilirisasi, branding, dan ekspor, potensi peningkatan nilai tambah ekonomi sangat besar.
Dukungan likuiditas melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan plafon ratusan triliun rupiah per tahun juga dapat menjadi modal transformasi. Sentimen pasar terhadap produk buatan Indonesia di kancah global relatif positif, terutama untuk kategori makanan olahan, fesyen, dan kerajinan. Proyeksi sejumlah lembaga ekonomi menyebutkan, setiap kenaikan 1 persen kontribusi ekspor UMKM berpotensi menambah puluhan triliun rupiah penerimaan negara.
Di Sisi Lain: Perbedaan Struktural Tak Bisa Diabaikan
Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa meniru India bukan pekerjaan sederhana. India menikmati keunggulan ekosistem teknologi informasi, penguasaan bahasa Inggris, serta jaringan diaspora global yang mempermudah akses pasar. Indonesia menghadapi tantangan berbeda: biaya logistik yang masih sekitar 14 persen dari PDB, tingginya informalitas, dan keterbatasan kapasitas manajerial pelaku usaha mikro. Tanpa perbaikan fundamental tersebut, dorongan agar UMKM tidak berhenti di produksi berisiko sekadar menjadi slogan.
Faktor eksternal juga perlu dicermati. Ketidakpastian ekonomi global, potensi capital outflow dari negara berkembang akibat kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, serta fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi daya saing ekspor UMKM. Apabila rupiah mengalami penurunan tajam, biaya bahan baku impor untuk produksi justru membengkak dan menekan margin usaha kecil.
Proyeksi dan Agenda ke Depan
Ke depan, keberhasilan strategi ini akan ditentukan oleh konsistensi kebijakan. Pemerintah perlu memastikan program digitalisasi UMKM, yang ditargetkan menjangkau 30 juta pelaku usaha, benar-benar terhubung dengan kanal ekspor dan pembiayaan, bukan sekadar masuk ke platform digital. Kolaborasi dengan perbankan untuk memperbesar rasio kredit produktif, serta penyederhanaan regulasi ekspor bagi usaha kecil, menjadi prasyarat agar tren kenaikan kelas UMKM benar-benar terwujud.
Bagi pelaku usaha maupun investor, pesan utamanya jelas: fundamental UMKM Indonesia kuat dari sisi jumlah dan kontribusi, tetapi tantangan produktivitas dan nilai tambah masih besar. Transformasi ala India membuka peluang, namun menuntut adaptasi dengan karakteristik struktural ekonomi domestik. Analisis berimbang tetap diperlukan agar optimisme tidak berubah menjadi ekspektasi berlebihan tanpa dukungan data.
Comments (0)