Oct 10, 2026
Bisnis

AI dan Krisis Air: Dilema Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) per awal 2025, ekspansi pusat data kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia diproyeksikan tumbuh du...

AI dan Krisis Air: Dilema Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) per awal 2025, ekspansi pusat data kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia diproyeksikan tumbuh dua digit year-on-year, seiring percepatan transformasi digital nasional. Namun di balik tren tersebut, muncul persoalan fundamental yang jarang dibahas: konsumsi air untuk pendinginan server. Wakil Menteri Koordinator Perekonomian, Dradjad Wibowo, ditugasi mencari solusi atas dilema ini, karena Indonesia dinilai tidak bisa mengabaikan perkembangan AI yang berpotensi menjadi penentu kekuatan ekonomi masa depan.

Beban Air di Balik Ekonomi Digital

Pusat data AI bekerja 24 jam dengan kepadatan komputasi tinggi. Setiap server menghasilkan panas besar yang harus didinginkan, dan metode pendinginan konvensional mengandalkan air dalam volume signifikan. Secara global, sejumlah operator melaporkan konsumsi air harian yang setara kebutuhan ribuan rumah tangga per fasilitas. Di Indonesia, di mana indeks ketahanan air antarpulau masih timpang, kehadiran pusat data besar di kawasan industri seperti Batam, Bekasi, dan Karawang berpotensi menekan pasokan air tanah dan permukaan setempat.

Kementerian Investasi mencatat nilai realisasi investasi sektor pusat data dan ekonomi digital menembus puluhan triliun rupiah pada 2024, dengan proyeksi kenaikan pada 2025. Angka ini menggambarkan besarnya capital inflow yang ingin ditangkap Indonesia. Persoalannya, valuasi ekonomi itu tidak selalu memasukkan biaya eksternalitas lingkungan, termasuk penurunan muka air tanah dan beban pengolahan limbah air pendingin.

Pro: AI sebagai Mesin Pertumbuhan Baru

Di satu sisi, pengembangan AI menghadirkan peluang besar. Teknologi ini berpotensi menaikkan produktivitas lintas sektor, mulai dari manufaktur, logistik, jasa keuangan, hingga pertanian presisi. Ekonom memperkirakan kontribusi ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dapat meningkat signifikan dalam lima tahun ke depan jika ekosistem AI dibangun agresif, termasuk penyediaan infrastruktur pusat data. Likuiditas investor asing yang masuk ke sektor ini juga dapat memperkuat neraca pembayaran dan menekan risiko capital outflow jangka pendek.

Menurut Dradjad, Indonesia tidak bisa mengabaikan perkembangan AI karena teknologi tersebut berpotensi menjadi salah satu penentu kekuatan ekonomi masa depan. Argumen ini sejalan dengan tren global: negara yang lambat beradaptasi berisiko kehilangan daya saing, sementara yang bergerak cepat dapat mengerek valuasi sektor teknologinya.

Kontra: Risiko Kelangkaan Air dan Beban Lingkungan

Di sisi lain, ekspansi pusat data tanpa tata kelola air yang ketat berpotensi memperparah tekanan sumber daya. Berdasarkan data Bank Indonesia dan kajian lembaga lingkungan, sejumlah daerah yang menjadi lokasi pusat data sudah menghadapi indikasi penurunan kualitas air tanah dan konflik alokasi dengan kebutuhan irigasi serta rumah tangga. Rasio konsumsi air per unit komputasi AI yang tinggi menjadikan efisiensi sebagai kata kunci, bukan sekadar wacana.

Sentimen pasar pun dapat berbalik bila isu lingkungan mengemuka. Investor global kian ketat menerapkan kriteria Environmental, Social, and Governance (ESG). Jika pusat data dinilai boros air, akses pendanaan bisa mengetat, biaya modal naik, dan valuasi proyek tertekan. Ini bukan risiko kecil mengingat portofolio investasi digital Indonesia masih bergantung pada dana asing.

Jalan Tengah: Efisiensi dan Regulasi Terukur

Pendekatan berimbang dibutuhkan. Dari sisi teknologi, pendinginan cair tertutup (closed-loop liquid cooling) dan pemanfaatan air daur ulang dapat menekan konsumsi air segar hingga puluhan persen. Dari sisi regulasi, pemerintah perlu menetapkan standar penggunaan air per megawatt kapasitas pusat data, disertai audit berkala dan insentif bagi operator yang efisien.

"Tanpa kerangka pengelolaan yang jelas, pertumbuhan pusat data AI bisa menjadi bumerang bagi ketahanan sumber daya air nasional," ujar seorang pengamat kebijakan energi dan lingkungan, menggambarkan pentingnya keseimbangan antara ekspansi digital dan kelestarian ekologis.

Kesimpulannya, tren AI menawarkan fundamental pertumbuhan yang kuat bagi ekonomi Indonesia. Namun likuiditas air, sebagai sumber daya yang terbatas, harus dikelola dengan rasio pemanfaatan yang terukur. Proyeksi ke depan bergantung pada sejauh mana pemerintah mampu menyinergikan kebijakan investasi digital dengan perlindungan sumber daya air, sehingga sentimen pasar tetap positif tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User