AHY Bongkar Transformasi Bandara Kertajati Jadi Bengkel Hercules
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengungkapkan rencana strategis pengalihan fungsi Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, J...
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengungkapkan rencana strategis pengalihan fungsi Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, menjadi pusat perawatan (overhaul) pesawat Hercules C-130 milik TNI AU. Rencana ini terungkap usai AHY bertemu Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Jakarta, pekan ini.
Latar Belakang Okupansi Rendah dan Potensi Aset Menganggur
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, sejak resmi beroperasi pada 2018 lalu, tingkat okupansi Bandara Kertajati masih di bawah 20 persen dari kapasitas desain sebesar 4 juta penumpang per tahun. Tren penurunan okupansi year-on-year terjadi akibat persaingan ketat dengan Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Husein Sastranegara. Akibatnya, aset senilai triliunan rupiah itu berpotensi menjadi beban tanpa kontribusi ekonomi maksimal. Di sinilah pemerintah melihat peluang reposisi.
Pro dan Kontra: Alih Fungsi Pusat Perawatan Militer vs Hilangnya Potensi Komersial
Pro: Menurut Kementerian Pertahanan, konversi ini akan menjawab kebutuhan perawatan rutin armada Hercules yang mencapai 40 unit lebih. Saat ini, sebagian besar perawatan berat masih dikirim ke bengkel di luar negeri, memakan biaya miliaran rupiah per tahun. Dengan adanya bengkel di Kertajati, biaya logistik bisa ditekan hingga 30-50 persen. "Ini langkah fundamental untuk kemandirian alutsista," ujar pengamat militer dari Universitas Indonesia, Dr. Arman Hartono, dalam keterangan yang dikutip.
Kontra: Di sisi lain, pengamat penerbangan menilai keputusan ini mengorbankan potensi pengembangan bandara sebagai hub kargo dan penerbangan murah (LCC). "Sentimen pasar terhadap Kertajati sebenarnya mulai membaik setelah ada rencana pembangunan kawasan Aerocity. Jika jadi bengkel militer, investasi swasta yang sudah masuk bisa capital outflow," kata analis infrastruktur dari lembaga riset Indef, Kusnadi. Penurunan valuasi aset juga dikhawatirkan terjadi karena fungsi komersialnya terkikis.
Dampak Ekonomi Regional: Penciptaan Lapangan Kerja vs Hilangnya Multiplier Effect Penerbangan
Pemerintah menyebutkan proyeksi penciptaan 5.000-7.000 lapangan kerja langsung di sektor MRO (Maintenance, Repair, Overhaul) militer, termasuk teknisi dan tenaga pendukung. Namun, studi awal menunjukkan jika Kertajati tetap berfungsi sebagai bandara penumpang, multiplier effect dari sektor pariwisata dan logistik bisa mencapai rasio 1:3,5—jauh lebih besar dibandingkan efek dari bengkel militer yang cenderung tertutup. Di satu sisi, daerah Majalengka dan sekitarnya akan mendapat suntikan ekonomi dari aktivitas perawatan pesawat. Di sisi lain, peluang konektivitas dari penerbangan komersial hilang, yang bisa menghambat pertumbuhan PDRB Jawa Barat bagian timur sebesar 0,8 persen dalam proyeksi lima tahun ke depan.
Proyeksi dan Langkah Selanjutnya
AHY menyatakan bahwa tim teknis dari Kemenko Infrastruktur dan Kemhan sedang menyusun rencana detail, termasuk penyesuaian landasan pacu dan hanggar khusus. Target operasional awal adalah 2027. "Kami pastikan tidak ada konflik dengan Rencana Induk Bandara yang sudah ada. Skema pendanaan akan melalui APBN, mungkin juga kerja sama dengan BUMN pertahanan," ujar AHY. Sementara itu, pemerintah berkomitmen tetap mengembangkan akses jalan tol dan kereta api ke Kertajati agar aset ini tidak mati total. Analis menilai keputusan ini cerdas dalam jangka pendek untuk menghidupkan aset idle, namun perlu diimbangi dengan rencana cadangan jika kebutuhan perawatan militer berubah di masa depan. Likuiditas proyek dan fundamental ekonomi daerah menjadi kunci sukses transformasi ini.
Comments (0)