Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kuartal II 2026 Melambat ke 4,3 Persen

Biro Statistik Nasional Tiongkok pada Rabu (15/7) mengumumkan bahwa produk domestik bruto negara tersebut tumbuh 4,3 persen secara tahunan sepanjang April—Juni 2026. Laju tersebut lebih rendah dari ...

Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kuartal II 2026 Melambat ke 4,3 Persen

Biro Statistik Nasional Tiongkok pada Rabu (15/7) mengumumkan bahwa produk domestik bruto negara tersebut tumbuh 4,3 persen secara tahunan sepanjang April—Juni 2026. Laju tersebut lebih rendah dari capaian kuartal pertama yang direvisi menjadi 4,7 persen, sekaligus menjadi angka terlemah sejak kuartal III 2023.

Perlambatan ini terjadi di tengah masih rapuhnya sektor properti, tensi dagang global yang kembali memanas, serta permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih dari guncangan harga aset beberapa tahun terakhir. Ekspansi manufaktur yang selama ini menjadi penyangga utama juga mulai menunjukkan kelelahan, tercermin dari PMI manufaktur yang sempat terperosok ke zona kontraksi pada Mei lalu.

Sektor Properti Masih Menjadi Beban

Investasi properti kembali mencatatkan kontraksi 4,1 persen secara tahunan di paruh pertama 2026, melanjutkan tren negatif yang sudah berlangsung sejak 2023. Penjualan rumah baru berdasarkan luas lantai turun 6,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Harga rumah di 70 kota besar mayoritas masih stagnan atau melanjutkan koreksi, dan persediaan unit yang belum terjual tetap tinggi di banyak kota lapis kedua dan ketiga.

Meskipun Beijing telah meluncurkan serangkaian pelonggaran sejak awal tahun — termasuk penurunan uang muka minimum, subsidi pembelian, dan pelonggaran aturan pembatasan pembelian — gelombang permintaan baru belum cukup besar untuk mengimbangi melemahnya sentimen konsumen terhadap aset properti jangka panjang. Sejumlah pengembang besar juga masih berjuang menuntaskan restrukturisasi utang, sehingga pembangunan proyek baru berjalan lambat.

Konsumsi Domestik dan Tenaga Kerja

Sisi konsumsi memberikan gambaran yang beragam. Penjualan ritel tumbuh 3,2 persen pada Juni, sedikit lebih baik dari Mei, tetapi masih jauh di bawah level sebelum pandemi yang biasa mendekati dua digit. Belanja untuk barang-barang tahan lama seperti otomotif dan elektronik masih lesu. Sebaliknya, konsumsi berbasis layanan — restoran, pariwisata domestik, dan hiburan — tetap tumbuh stabil, menandakan bahwa preferensi belanja masyarakat telah bergeser.

Pasar tenaga kerja menjadi perhatian: tingkat pengangguran kaum muda usia 16—24 tahun secara resmi masih berada di kisaran 14,1 persen pada Mei, lebih rendah dari puncaknya dua tahun lalu, tetapi tetap tinggi secara historis. Angka tersebut mendorong otoritas untuk mempertahankan program penciptaan lapangan kerja lewat infrastruktur publik dan insentif perekrutan bagi UMKM.

Ekspor dan Ketegangan Perdagangan

Sektor eksternal yang sempat mendorong kinerja 2025 mulai kehilangan momentum. Ekspor Tiongkok pada Juni naik hanya 2,5 persenyear-on-year, turun drastis dari kenaikan 5,8 persen di akhir 2025. Pasar utama seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat kembali memperketat tarif untuk produk kendaraan listrik, panel surya, dan baja Tiongkok. Hal ini memicu perpindahan sebagian rantai pasok ke kawasan Asia Tenggara dan India, meskipun skala penuh dampaknya baru akan terasa pada paruh kedua.

Di sisi lain, surplus perdagangan Tiongkok masih cukup besar — sekitar USD 82 miliar pada Juni — yang terus menjadi isu sensitif dalam diplomasi ekonomi global dan menambah tekanan apresiasi terhadap yuan.

Respons Kebijakan dan Proyeksi

Bank Sentral Tiongkok dalam dua kesempatan terakhir telah menurunkan suku bunga kebijakan satu tahun dan menambah injeksi likuiditas ke sistem perbankan. Otoritas fiskal juga mempercepat penerbitan obligasi khusus pemerintah daerah untuk mendanai proyek infrastruktur yang sempat tertunda. Para analis memperkirakan stimulus tambahan — termasuk kemungkinan pemangkasan rasio cadangan wajib bank (RRR) — jika data kuartal ketiga tidak menunjukkan perbaikan berarti.

Dana Moneter Internasional dalam proyeksi terbarunya memperkirakan ekonomi Tiongkok akan tumbuh 4,4 persen untuk keseluruhan 2026, asalkan tekanan properti mereda dan konsumsi mulai pulih pada semester kedua. Beberapa ekonom swasta lebih pesimis, dengan estimasi di kisaran 4,0—4,2 persen, mengingat risiko geopolitik dan masih berlangsungnya penyesuaian struktural.

Di pasar keuangan, indeks acuan Shanghai turun 0,9 persen pasca rilis data, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke 2,58 persen, menunjukkan ekspektasi pelonggaran lebih lanjut. Yuan di pasar offshore melemah tipis ke 7,23 per dolar AS, meskipun bank sentral diyakini menjaga kestabilan melalui penetapan titik tengah harian yang lebih kuat.

Dengan kombinasi faktor domestik dan global yang masih belum pasti, kuartal ketiga akan menjadi ujian penting apakah Tiongkok dapat menjaga momentum menuju target pertumbuhan tahunannya, atau justru memerlukan paket kebijakan yang lebih agresif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User