BTN Siapkan Paylater, Ekspansi Kredit Baru Lewat Superapp Bale

Berdasarkan data Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan riset internal, volume transaksi Buy Now Pay Later (BNPL) di Indonesia tercatat tumbuh 22% year-on-year pada semester I-2025, mencapai Rp 45 tr...

BTN Siapkan Paylater, Ekspansi Kredit Baru Lewat Superapp Bale

Berdasarkan data Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan riset internal, volume transaksi Buy Now Pay Later (BNPL) di Indonesia tercatat tumbuh 22% year-on-year pada semester I-2025, mencapai Rp 45 triliun. Tren ini mendorong PT Bank Tabungan Negara (BTN) untuk mengajukan izin resmi produk paylater kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Direksi BTN menyatakan target peluncuran produk tersebut pada tahun 2026 melalui superapp Bale, yang sebelumnya telah mengintegrasikan layanan perbankan dan properti.

Strategi BTN: Melengkapi Ekosistem Digital

BTN, yang selama ini dikenal sebagai bank penyalur KPR subsidi dan komersial, mulai merambah segmen kredit konsumsi berbasis digital. Paylater BTN direncanakan akan menyasar nasabah existing maupun baru yang membutuhkan pembiayaan jangka pendek tanpa agunan. Langkah ini sejalan dengan visi BTN sebagai bank ritel modern yang mengakselerasi transformasi digital. Superapp Bale yang sudah memiliki fitur transfer, pembayaran tagihan, dan pembukaan rekening, akan menjadi kanal utama distribusi paylater. Likuiditas BTN yang cukup kuat—rasio LDR di level 85% per Desember 2025—menjadi modal untuk ekspansi kredit baru.

Pro dan Kontra: Peluang Likuiditas Tambahan vs Risiko NPL

Di satu sisi, paylater dapat meningkatkan fee based income BTN dan memperkuat loyalitas nasabah melalui kemudahan akses kredit. Per Agustus 2025, tingkat kredit macet (NPL) paylater nasional masih di kisaran 2,8% menurut data OJK, lebih rendah dari rata-rata kredit tanpa agunan (3,5%). Proyeksi ini menunjukkan potensi segmen yang menguntungkan. Di sisi lain, penetrasi yang cepat berisiko mendorong over-leverage konsumen. Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan bahwa BTN harus memiliki skoring kredit yang ketat agar tidak menambah beban NPL di saat kondisi ekonomi global belum stabil. Risiko capital outflow akibat kenaikan suku bunga The Fed juga bisa menekan likuiditas perbankan.

Regulasi dan Persaingan Ketat

Proses pengajuan izin paylater BTN harus memenuhi aturan OJK POJK No. 8/2023 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi (LPMUBT) yang diperluas. BTN juga wajib menyediakan mekanisme perlindungan konsumen dan transparansi biaya. Persaingan di pasar BNPL sudah padat: GoPay Later, Shopee PayLater, Akulaku, dan Kredivo telah menguasai porsi besar. BTN perlu menawarkan suku bunga kompetitif (diproyeksikan 0–2,5% per bulan) dan integrasi dengan produk properti—seperti DP KPR atau biaya renovasi— untuk membedakan diri. Analis dari Mandiri Sekuritas memperkirakan potensi tambahan portofolio kredit BTN senilai Rp 5–7 triliun dalam dua tahun pertama jika implementasi sesuai target.

Kesimpulan Awal: Optimisme Terukur

Meski masih dalam tahap pengajuan, langkah BTN menunjukkan adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen yang makin mengandalkan kredit digital. Fundamental BTN yang kuat di sektor properti dan likuiditas memadai menjadi pijakan positif. Namun, sentimen pasar terhadap risiko kredit konsumsi dan tekanan regulasi akan menjadi batu uji utama. Peluncuran tahun ini yang direncanakan melalui superapp Bale bisa menjadi katalis valuasi BTN jika eksekusi berjalan mulus. Pantau terus perkembangan di sektor BNPL yang dinamis ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User