Berdasarkan data penyelenggara dan laporan program tanggung jawab sosial korporasi per awal 2026, sebanyak 500 relawan dikerahkan untuk menangani pengelolaan sampah selama perhelatan MotoGP 2026 di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Langkah ini menjadi bagian dari program BRI Peduli yang menyasar aspek kebersihan dan keberlanjutan destinasi pariwisata superprioritas. Bagi pembaca awam, angka 500 relawan ini setara dengan sekitar 2,5 kali jumlah petugas kebersihan harian di kawasan wisata Mandalika pada hari biasa, sehingga lonjakan kapasitas penanganan limbah menjadi signifikan.
MotoGP Mandalika secara historis mendatangkan puluhan ribu penonton selama tiga hari penyelenggaraan. Dengan asumsi satu penonton menghasilkan 0,5 kilogram sampah per hari, total timbulan sampah bisa menembus 100 ton dalam satu event. Angka itu menjadi tantangan tersendiri bagi kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) lokal yang rata-rata menerima 150–200 ton sampah domestik per hari. Dalam istilah ekonomi, ini adalah persoalan eksternalitas negatif—biaya lingkungan yang tidak otomatis masuk ke dalam harga tiket atau transaksi ekonomi wisata.
Di Satu Sisi: Dampak Ekonomi dan Citra Destinasi
Di satu sisi, kehadiran relawan kebersihan memperkuat sentimen pasar terhadap pariwisata NTB. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke NTB pada 2024 tumbuh double digit year-on-year, dan event MotoGP menjadi salah satu katalis utama. Jika kebersihan terjaga, citra destinasi meningkat, lalu berimbas pada okupansi hotel, konsumsi lokal, dan penerimaan daerah. Multiplier effect pariwisata diestimasi berkisar 1,5–2,0 kali belanja awal wisatawan, artinya setiap Rp1 triliun belanja wisatawan berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi lanjutan Rp1,5–2 triliun.
Selain itu, keterlibatan korporasi seperti BRI menunjukkan adanya transfer sumber daya dari sektor keuangan ke sektor lingkungan. Ini memperbaiki fundamental pengelolaan destinasi tanpa membebani anggaran daerah secara penuh. Relawan juga diberdayakan dari masyarakat sekitar, sehingga menciptakan pendapatan tambahan bagi warga lokal selama periode event.
Di Sisi Lain: Keberlanjutan dan Beban Pasca-Event
Di sisi lain, pengelolaan sampah berbasis relawan menghadapi risiko ketidakberlanjutan. Setelah event berakhir dan relawan ditarik, kapasitas pengelolaan sampah rutin di Mandalika kembali ke level normal. Jika tidak ada sistem permanen—seperti bank sampah, fasilitas daur ulang, atau insinerator ramah lingkungan—persoalan sampah akan berulang setiap tahun. Ini yang dalam analisis lingkungan disebut event-driven cleanup, solusi temporer yang tidak menyentuh akar masalah.
"Program kebersihan berbasis relawan bagus untuk jangka pendek, namun tanpa infrastruktur pengelolaan sampah permanen, manfaatnya akan menguap begitu event selesai," kata seorang pengamat kebijakan lingkungan yang tidak ingin disebutkan namanya.
Dari kacamata likuiditas anggaran daerah, biaya operasional kebersihan pasca-event sering tidak teranggarkan. Pemerintah daerah menghadapi keterbatasan fiskal, sementara pendapatan dari retribusi wisata belum tentu menutup kebutuhan investasi tempat pengolahan sampah. Rasio antara belanja lingkungan dan total belanja daerah di banyak kabupaten masih di bawah 2 persen, jauh dari ideal 5 persen untuk destinasi wisata skala internasional.
Proyeksi dan Kebutuhan Kebijakan
Ke depan, proyeksi jumlah penonton MotoGP 2026 yang berpotensi melampaui 100.000 orang selama tiga hari menuntut perencanaan limbah yang lebih terukur. Pendekatan yang direkomendasikan adalah kombinasi relawan, teknologi pemilahan, dan insentif ekonomi—misalnya skema deposit refund untuk wadah minuman. Skema ini terbukti di beberapa negara menurunkan sampah plastik hingga 40 persen.
Dari sisi investasi, keberlanjutan destinasi memengaruhi valuasi jangka panjang aset pariwisata, termasuk properti hotel dan kawasan ekonomi khusus. Wisatawan global semakin sensitif terhadap isu lingkungan; indeks kepuasan mereka berkorelasi dengan kebersihan destinasi. Karena itu, program kebersihan bukan sekadar biaya, melainkan investasi reputasi yang berimplikasi pada arus kunjungan dan devisa.
Kesimpulannya, langkah mengerahkan 500 relawan adalah respons cepat yang patut diapresiasi, tetapi ia baru menyentuh permukaan. Diperlukan integrasi antara korporasi, pemerintah daerah, dan masyarakat agar pengelolaan sampah menjadi sistem permanen, bukan sekadar operasi musiman. Tanpa itu, tren pertumbuhan pariwisata Mandalika berisiko kehilangan daya dukung lingkungannya sendiri—sebuah paradoks yang kerap menghantui destinasi superprioritas di negara berkembang.
Comments (0)