11 Ancaman Kesehatan dari Kebiasaan Makan Ceker Ayam

Ceker ayam telah menjadi bagian dari khazanah kuliner Indonesia yang digemari lintas generasi. Teksturnya yang kenyal dan kemampuannya menyerap bumbu menjadikan bagian kaki unggas ini primadona dalam ...

Ceker ayam telah menjadi bagian dari khazanah kuliner Indonesia yang digemari lintas generasi. Teksturnya yang kenyal dan kemampuannya menyerap bumbu menjadikan bagian kaki unggas ini primadona dalam hidangan sup, soto, gulai, hingga camilan goreng tepung. Namun, di balik kelezatannya, konsumsi ceker ayam secara berlebihan menyimpan berbagai ancaman serius bagi kesehatan. Berdasarkan data kandungan gizi dan sejumlah penelitian, setidaknya terdapat 11 risiko yang perlu diwaspadai. Risiko-risiko tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga ranah utama: gangguan kardiovaskular, masalah metabolik, serta bahaya keamanan pangan dan pengolahan. Berikut ulasan lengkapnya.

Lonjakan Kolesterol dan Ancaman bagi Jantung

Berdasarkan data komposisi pangan dari United States Department of Agriculture (USDA), setiap 100 gram ceker ayam mentah mengandung sekitar 84 miligram kolesterol dan 14,6 gram lemak, yang sebagian besar tergolong lemak jenuh. Dalam konteks pola makan rata-rata masyarakat Indonesia yang juga memperoleh kolesterol dari telur, daging merah, dan gorengan, tambahan asupan dari ceker ayam dengan mudah mendorong total kolesterol harian melampaui batas rekomendasi 300 miligram. Situasi ini menjadi pemicu peningkatan kadar low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol “jahat” di dalam darah. Konsekuensinya, plak aterosklerosis dapat menumpuk di dinding arteri, mempersempit aliran darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner serta stroke iskemik. Tidak hanya itu, lemak jenuh yang tinggi juga berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah karena memengaruhi elastisitas pembuluh darah. Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa hipertensi merupakan faktor risiko utama kematian dini di Indonesia, yang diperparah oleh konsumsi sumber lemak padat seperti ceker yang diolah dengan santan atau digoreng. Dengan demikian, empat bahaya pertama dari sering makan ceker ayam adalah hiperkolesterolemia, pembentukan plak arteri, serangan jantung koroner, dan hipertensi.

Pemicu Asam Urat dan Kerusakan Ginjal

Ceker ayam tergolong bahan pangan tinggi purin, senyawa nitrogen yang dimetabolisme tubuh menjadi asam urat. Setiap 100 gram ceker ayam diperkirakan mengandung 100–150 miligram purin (bergantung pada cara pengukuran), yang apabila dikonsumsi secara teratur akan meningkatkan kadar asam urat serum. Pada individu yang memiliki predisposisi atau sudah menderita hiperurisemia, asupan purin berlebih dapat memicu serangan gout artritis akut, ditandai dengan nyeri hebat, kemerahan, dan pembengkakan pada sendi, terutama di jempol kaki. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi asam urat di Indonesia meningkat seiring bertambahnya usia, dengan angka mencapai 11,7 persen pada kelompok usia di atas 55 tahun. Bahaya kelima adalah serangan gout akut ini. Selanjutnya, kristal asam urat yang mengendap di saluran kemih dapat membentuk batu ginjal, menjadi ancaman keenam. Bagi penderita gangguan ginjal kronis, tingginya beban purin dari ceker ayam dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal. Bahkan, beberapa studi menghubungkan diet tinggi purin dengan risiko nefropati kronis. Dengan demikian, tiga risiko dalam kelompok ini meliputi hiperurisemia serius, peradangan sendi akut, dan pembentukan batu atau kerusakan ginjal.

Kontaminasi Mikroba dan Dampak Pengolahan Tidak Sehat

Selain faktor intrinsik, aspek keamanan pangan dari ceker ayam juga patut menjadi perhatian. Bagian kaki unggas kerap terpapar feses dan lingkungan kandang, sehingga sangat rentan terkontaminasi bakteri patogen seperti Salmonella enteritidis dan Campylobacter jejuni. Apabila pemasakan tidak sempurna—misalnya suhu internal tidak mencapai 74 derajat Celsius—bakteri dapat bertahan hidup dan menyebabkan infeksi saluran pencernaan akut berupa diare, demam, dan kram perut, yang merupakan ancaman ketujuh. Di sisi lain, kebanyakan olahan ceker ayam populer seperti ceker goreng tepung, gulai ceker, atau dimsum ceker menggunakan tambahan garam, penyedap, dan minyak dalam jumlah signifikan. Satu porsi ceker goreng tepung (sekitar 150 gram) bisa mengandung lebih dari 1.000 miligram natrium, hampir setengah dari batas harian yang direkomendasikan WHO. Asupan natrium berlebih ini jelas mendorong retensi cairan dan hipertensi, menjadi risiko kedelapan. Lebih lanjut, paduan tepung dan minyak goreng menyumbang kalori tinggi yang dengan mudah memicu surplus energi, obesitas, dan resistensi insulin—ancaman kesembilan dan kesepuluh yang mengarah pada sindrom metabolik dan diabetes tipe 2. Terakhir, struktur ceker yang dipenuhi tulang-tulang kecil dan runcing seringkali menjadi sumber cedera tidak disengaja. Tulang yang tak sengaja tertelan dapat melukai mukosa esofagus atau bahkan menusuk saluran cerna, yang dalam kasus jarang memerlukan tindakan endoskopi darurat. Oleh karena itu, risiko trauma mekanis ini menjadi ancaman kesebelas yang tidak bisa diabaikan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User