Oct 19, 2026
Bisnis

UMKM Kuliner Sumut Tembus Pasar Global, Modal BRI Jadi Kunci

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan total kontri...

UMKM Kuliner Sumut Tembus Pasar Global, Modal BRI Jadi Kunci

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan total kontribusi mencapai Rp9.580 triliun. Dari angka tersebut, subsektor kuliner menjadi salah satu penyumbang terbesar, mencakup hampir 41 persen dari seluruh unit usaha UMKM di Indonesia. Fenomena ini menunjukkan bahwa dapur-dapur kecil di berbagai daerah, termasuk Sumatera Utara, memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi nasional jika mendapat dukungan pembiayaan yang tepat.

Salah satu contoh nyata datang dari Quinn Kitchen, sebuah usaha kuliner asal Sumatera Utara yang kini mampu menembus pasar internasional. Perjalanan usaha ini tidak lepas dari peran perbankan dalam menyediakan likuiditas dan pendampingan usaha. Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui program pemberdayaan UMKM-nya menjadi salah satu institusi yang mendampingi pelaku usaha tersebut, mulai dari aspek permodalan hingga akses pasar ekspor.

Fundamental UMKM Kuliner di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Di satu sisi, kinerja ekspor produk makanan olahan Indonesia menunjukkan tren positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor makanan olahan pada periode Januari–September 2024 mencapai USD5,2 miliar, mengalami kenaikan sekitar 7,4 persen secara year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini diperkuat oleh sentimen pasar global yang mulai beralih ke produk makanan siap saji berbasis bahan lokal, seperti bumbu tradisional, sambal kemasan, dan makanan beku olahan.

Di sisi lain, pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan nasional baru berada di kisaran 19,3 persen per September 2024, jauh di bawah target pemerintah sebesar 30 persen. Selain itu, ketidakpastian nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp16.200 per dolar AS pada kuartal III 2024 turut menekan biaya bahan baku impor dan kemasan, sehingga margin keuntungan pelaku usaha tergerus.

"UMKM kuliner yang mampu naik kelas adalah mereka yang tidak hanya mendapat modal, tetapi juga pendampingan manajerial dan akses jaringan distribusi. Tanpa itu, pertumbuhan hanya bersifat sementara," ujar seorang ekonom senior yang meneliti sektor UMKM di Indonesia.

Peran Likuiditas Perbankan dan Skema Pemberdayaan

Dalam konteks ini, peran bank penyalur kredit menjadi krusial. Skema pemberdayaan yang menggabungkan pembiayaan, pelatihan, dan fasilitasi ekspor dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar pemberian pinjaman tanpa pendampingan. Program seperti ini umumnya mencakup bantuan sertifikasi produk, pelatihan standar keamanan pangan internasional, serta fasilitasi promosi di pameran dagang lintas negara.

Dari sisi portofolio perbankan, penyaluran kredit UMKM BRI tercatat mencapai Rp1.100 triliun hingga akhir 2024, dengan porsi terbesar pada sektor perdagangan, restoran, dan hotel. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) pada segmen ini relatif terkendali di kisaran 2,8 persen, menunjukkan bahwa fundamental debitur UMKM masih cukup sehat meskipun dihadapkan pada perlambatan ekonomi global.

Pro: Keberhasilan UMKM seperti Quinn Kitchen menembus pasar internasional membuktikan bahwa produk lokal memiliki daya saing global. Ini dapat menjadi katalis positif bagi peningkatan ekspor non-migas dan penguatan cadangan devisa. Kontra: Skala usaha yang masih terbatas membuat konsistensi pasokan menjadi tantangan. Fluktuasi harga bahan baku dan biaya logistik ekspor yang tinggi dapat mengancam keberlanjutan bisnis jika tidak diantisipasi dengan manajemen risiko yang baik.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Ke depan, proyeksi pertumbuhan kredit UMKM pada 2025 diperkirakan berada di kisaran 7–9 persen secara year-on-year, sejalan dengan target Bank Indonesia yang mendorong intermediasi ke sektor produktif. Namun, capital outflow yang masih membayangi pasar keuangan domestik berpotensi membuat likuiditas perbankan lebih ketat, sehingga seleksi debitur akan semakin ketat.

Bagi pelaku UMKM, kunci utama bukan hanya pada besarnya plafon pinjaman, tetapi pada kemampuan menjaga valuasi usaha melalui pencatatan keuangan yang rapi, diversifikasi produk, dan adaptasi terhadap tren pasar global. Pemerintah sendiri menargetkan kontribusi UMKM terhadap ekspor naik dari 15,7 persen menjadi 17 persen pada 2025, sebuah target yang menuntut sinergi antara regulator, perbankan, dan pelaku usaha.

Dengan fundamental yang kuat dan dukungan ekosistem yang tepat, kisah Quinn Kitchen bukan sekadar anomali, melainkan cerminan tren yang lebih besar: UMKM daerah berpotensi menjadi wajah baru ekonomi Indonesia di panggung dunia. Pertanyaannya kini bukan lagi soal kemampuan, melainkan konsistensi dan keberlanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User