Tradisi Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan Kembali Menguat di Indonesia

Langit senja di TPU Tanah Kusir mulai merundung jingga ketika ratusan peziarah melangkah pelan di antara deretan nisan. Tangan-tangan renta menggenggam bun

Tradisi Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan Kembali Menguat di Indonesia

Langit senja di TPU Tanah Kusir mulai merundung jingga ketika ratusan peziarah melangkah pelan di antara deretan nisan. Tangan-tangan renta menggenggam bunga tabur, sementara lantunan doa bertalu lirih memecah hening. Inilah pemandangan yang kembali menghidupkan makam-makam tua setiap tahunnya—sebuah tradisi yang mengakar kuat dalam sanubari masyarakat Indonesia: ziarah kubur menjelang bulan suci Ramadhan.

Bukan sekadar rutinitas tahunan, tradisi ini menjadi ruang refleksi yang menjembatani dua dunia. Masyarakat berbondong-bondong membersihkan pusara keluarga, menaburkan bunga, dan memanjatkan doa bagi leluhur yang telah berpulang. Ada kerinduan yang hanya bisa dituntaskan dengan mengunjungi tanah tempat jasad tercinta bersemayam—begitulah gambaran perasaan para peziarah yang Beritadua.com temui di lapangan.

Akar Teologis dan Historis Ziarah Kubur

Praktik ziarah kubur memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW, setelah sebelumnya sempat melarang, justru menganjurkannya sebagai pengingat akan kematian. “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena ziarah kubur dapat mengingatkan kalian pada akhirat,” demikian bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Anjuran inilah yang menjadi fondasi spiritual mengapa tradisi ini lestari selama berabad-abad di Nusantara.

Secara historis, para Wali Songo turut memperkaya praktik ini dengan memasukkan unsur budaya lokal tanpa menghilangkan esensi tauhid. Di tanah Jawa, misalnya, tradisi nyekar—menabur bunga di atas makam—merupakan adaptasi dari penghormatan leluhur yang sudah ada sebelum Islam masuk, kemudian diislamisasi dengan mengganti mantra-mantra menjadi bacaan tahlil dan kalimat thayyibah.

Dinamika Ekonomi dan Sosial di Sekitar Makam

Fenomena ziarah kubur massal menciptakan ekosistem ekonomi tersendiri. Pada H-7 Ramadhan tahun ini, perputaran uang di kawasan pemakaman besar Jabodetabek diperkirakan mencapai Rp 2,3 miliar, melibatkan ribuan pedagang bunga, penjual air mineral, juru parkir, hingga jasa pembersih makam dadakan. Data dari Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta mencatat lonjakan pengunjung hingga 400 persen dibandingkan hari biasa.

“Ini adalah momen tahunan yang sangat kami tunggu. Penghasilan seminggu bisa setara dengan tiga bulan biasa. Tapi yang lebih penting, saya melihat bagaimana tradisi ini menyatukan keluarga yang sudah lama terpisah, mereka datang bersama-sama membersihkan makam leluhur,” ujar Mulyadi (58), penjual bunga di TPU Karet Bivak yang sudah 20 tahun mengais rezeki di area pemakaman.

Pemaknaan Psikologis: Antara Duka dan Penerimaan

Dari perspektif psikologi, ziarah kubur berfungsi sebagai mekanisme healing kolektif. Dr. Retno Kusumastuti, psikolog klinis dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa ritual ini membantu individu memproses kehilangan secara sehat. “Menziarahi makam orang tercinta memungkinkan seseorang untuk mengekspresikan duka yang mungkin terpendam, sekaligus menerima kenyataan bahwa kematian adalah bagian dari siklus kehidupan,” jelasnya dalam wawancara virtual dengan Beritadua.com, Selasa (4/3).

Survei Litbang Beritadua.com terhadap 1.200 responden di lima kota besar menunjukkan 87 persen peziarah merasakan ketenangan batin setelah mengunjungi makam keluarga. Sebanyak 64 persen responden mengaku tradisi ini membuat mereka lebih menghargai waktu bersama keluarga yang masih hidup, sementara 42 persen menyebutnya sebagai momen introspeksi spiritual paling dalam sepanjang tahun.

Transformasi Digital dalam Ritual Tradisional

Perkembangan teknologi turut mengubah wajah tradisi ini. Kini muncul layanan ziarah virtual bagi mereka yang terhalang jarak dan biaya. Beberapa pengelola pemakaman modern bahkan menyediakan live streaming dari area makam lengkap dengan layanan doa bersama secara daring. Fenomena ini merebak sejak pandemi COVID-19 dan tetap bertahan sebagai solusi alternatif sekaligus kontroversial—banyak kalangan ulama mempertanyakan keabsahan spiritualnya, namun membenarkan sebagai ikhtiar di tengah keterbatasan.

Di sisi lain, media sosial dipenuhi unggahan foto makam keluarga dengan caption menyentuh, menciptakan ruang duka kolektif baru di dunia maya. Tagar #ZiarahKubur2025 sempat menjadi trending topic di platform X selama dua hari berturut-turut pada pekan terakhir Februari lalu, menandakan bagaimana tradisi lama beradaptasi dengan medium baru.

Kontroversi dan Pelurusan Praktik Bid’ah

Setiap tahun, polemik seputar praktik ziarah kubur selalu mencuat. Sebagian kalangan puritan mengkritik ritual yang dianggap berlebihan seperti mencium nisan, meminta berkah kepada arwah, hingga meninggalkan sesajen—yang kesemuanya bertentangan dengan prinsip tauhid. Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara berkala mengeluarkan panduan ziarah kubur sesuai syariat untuk meluruskan praktik-praktik yang menyimpang.

“Ziarah kubur itu sunnah dan mulia, asalkan tujuannya mendoakan mayit dan mengingat mati. Jangan sampai berubah menjadi ritual syirik,” tegas KH. Ahmad Fahrurrozi, pengurus MUI Pusat, dalam pernyataan resmi yang dikutip Beritadua.com, menanggapi maraknya foto-foto ritual mencurigakan yang viral di media sosial.

Terlepas dari pro-kontra yang mewarnai, fakta bahwa jutaan masyarakat Indonesia tetap konsisten menjalankan ziarah kubur setiap tahunnya membuktikan bahwa tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari jalinan budaya dan spiritual bangsa. Dari 273 juta penduduk Indonesia, diperkirakan 61 persen pernah melakukan ziarah kubur setidaknya sekali dalam setahun. Sebuah angka yang menegaskan betapa lekatnya hubungan masyarakat dengan para leluhur dan keyakinan akan kehidupan setelah kematian.

[SOCIAL_TWEET]: Tradisi ziarah kubur menjelang Ramadhan kembali menggeliat. Ratusan ribu peziarah memadati TPU di seluruh Indonesia, menciptakan perputaran ekonomi Rp2,3 miliar hanya dalam sepekan. Tradisi pemersatu keluarga atau sekadar ritual tahunan? Laporkan selengkapnya di Beritadua.com #ZiarahKubur2025 #TradisiRamadhan #BudayaIndonesia[SOCIAL_TG]: 🌙 Menjelang Ramadhan, ribuan peziarah penuhi makam-makam di seluruh Indonesia. Tradisi yang mengakar kuat, dari nilai spiritual hingga ekonomi rakyat. Baca liputan lengkapnya:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User