Oct 12, 2026
Bisnis

The Fed Berpotensi Naikkan Bunga Akhir 2026, Dampak ke Rupiah dan IHSG

Berdasarkan data terbaru dari pasar obligasi Amerika Serikat dan proyeksi dot plot Federal Reserve per kuartal IV 2025, pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed...

The Fed Berpotensi Naikkan Bunga Akhir 2026, Dampak ke Rupiah dan IHSG

Berdasarkan data terbaru dari pasar obligasi Amerika Serikat dan proyeksi dot plot Federal Reserve per kuartal IV 2025, pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed pada akhir 2026. Probabilitas yang terimplikasi dalam kontrak berjangka Fed Funds menunjukkan angka sekitar 35-40 persen, naik dari posisi awal tahun yang hanya berkisar 15 persen. Perkembangan ini menjadi sentimen penting bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, yang selama ini menikmati periode suku bunga tinggi global yang relatif stabil.

Mengapa Proyeksi Ini Muncul Kembali

Ada beberapa faktor fundamental yang mendorong narasi kenaikan bunga The Fed. Pertama, inflasi inti Amerika Serikat atau core PCE masih bertahan di kisaran 2,6 persen year-on-year, di atas target bank sentral AS sebesar 2 persen. Kedua, pasar tenaga kerja AS tetap ketat dengan tingkat pengangguran di bawah 4,2 persen, yang mendorong kenaikan upah dan berpotensi menimbulkan inflasi dari sisi permintaan.

Ketiga, kebijakan fiskal ekspansif di AS, termasuk rencana belanja infrastruktur dan stimulus sektor teknologi, meningkatkan kebutuhan penerbitan surat utang negara. Kondisi ini menaikkan yield US Treasury tenor 10 tahun yang sempat menyentuh 4,5 persen, level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Yield yang tinggi memperkuat dolar AS secara global dan memicu tekanan capital outflow dari pasar negara berkembang.

"Pasar saat ini sedang menguji seberapa kuat fundamental ekonomi emerging market menghadapi kemungkinan likuiditas global yang lebih ketat. Indonesia memiliki bantalan berupa cadangan devisa dan surplus neraca dagang, tetapi bukan berarti imun," ujar seorang ekonom pasar modal yang enggan disebutkan namanya.

Dampak ke Rupiah dan Pasar Obligasi

Di satu sisi, kenaikan bunga The Fed akan memperlebar selisih imbal hasil atau yield spread antara obligasi AS dan Surat Berharga Negara Indonesia. Jika imbal hasil SBN 10 tahun saat ini berada di kisaran 6,8 persen, sementara US Treasury 10 tahun naik ke 4,7 persen, maka premi risiko yang ditawarkan kepada investor asing menyusut. Akibatnya, rupiah berpotensi melemah menuju level Rp16.200-Rp16.500 per dolar AS apabila arus modal keluar meningkat.

Di sisi lain, Bank Indonesia memiliki ruang intervensi melalui triple intervention di pasar spot, domestic non-deliverable forward, dan pasar sekunder SBN. Cadangan devisa Indonesia per akhir 2025 tercatat sekitar US$150 miliar, cukup untuk menstabilkan nilai tukar dalam jangka pendek. Selain itu, inflasi domestik yang terkendali di kisaran 2,5 persen year-on-year memberi fleksibilitas bagi BI untuk menahan suku bunga acuan atau bahkan menaikkannya secara terukur jika diperlukan.

Implikasi ke IHSG dan Sektor Riil

Bagi Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG, sentimen kenaikan bunga The Fed umumnya berdampak negatif dalam jangka pendek. Secara historis, setiap kenaikan ekspektasi bunga AS sebesar 50 basis poin berkorelasi dengan koreksi IHSG sebesar 3-5 persen dalam periode satu bulan. Sektor yang paling rentan adalah properti, perbankan dengan porsi obligasi besar, dan konsumer yang bergantung pada daya beli.

Namun, ada pula perspektif kontra yang perlu dicermati. Jika kenaikan bunga The Fed terjadi karena ekonomi AS tumbuh kuat, maka permintaan ekspor Indonesia, terutama komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel, justru bisa meningkat. Harga komoditas yang lebih tinggi akan menopang kinerja emiten di sektor energi dan material, sehingga memberikan bantalan bagi IHSG. Nilai ekspor Indonesia per November 2025 tercatat US$22,4 miliar, dengan surplus neraca dagang US$3,1 miliar.

Proyeksi dan Sikap Investor

Pro: Kenaikan bunga The Fed mencerminkan keyakinan terhadap ekonomi global yang tidak resesi, sehingga ekspor dan harga komoditas berpotensi terjaga. Kontra: biaya dana global naik, capital outflow meningkat, dan valuasi saham emerging market tertekan karena diskonto arus kas masa depan yang lebih tinggi.

Dari sisi kebijakan domestik, Otoritas Jasa Keuangan dan Kementerian Keuangan perlu menjaga likuiditas pasar SBN agar tidak terjadi lonjakan imbal hasil yang berlebihan. Strategi diversifikasi portofolio lintas aset, termasuk menjaga porsi kas dan obligasi jangka pendek, menjadi langkah antisipatif yang rasional. Pada akhirnya, fundamental ekonomi Indonesia yang ditopang konsumsi rumah tangga sekitar 53 persen dari PDB tetap menjadi penopang utama di tengah gejolak sentimen pasar global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User