Telkom Pimpin Strategi Adopsi AI Nasional Menuju DTIIF 2026

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia per akhir 2024, adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sektor korpora...

Oct 09, 2026 - 19:29
0 0
Telkom Pimpin Strategi Adopsi AI Nasional Menuju DTIIF 2026

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia per akhir 2024, adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sektor korporasi Indonesia baru mencapai sekitar 15-20 persen dari total perusahaan menengah dan besar. Angka ini tertinggal jauh dibandingkan Singapura yang telah menyentuh 45 persen dan Malaysia di kisaran 30 persen. Kesenjangan inilah yang coba dijembatani PT Telkom Indonesia melalui rangkaian persiapan menuju Digital Transformation Indonesia International Forum (DTIIF) 2026, sebuah agenda yang diposisikan sebagai katalis percepatan transformasi digital nasional.

Perusahaan pelat merah itu mengungkapkan bahwa pendekatan yang dipilih bukan sekadar penyediaan teknologi, melainkan pembangunan ekosistem terintegrasi yang menyatukan tiga pilar utama: infrastruktur konektivitas, pengelolaan data, dan kolaborasi lintas sektor. Langkah ini mencerminkan pergeseran strategi dari yang semula bersifat teknologis menjadi lebih holistik.

Infrastruktur dan Data sebagai Fondasi Utama

Dari sisi infrastruktur, Telkom memanfaatkan jaringan serat optik yang membentang lebih dari 180.000 kilometer serta kapasitas pusat data yang terus diekspansi. Nilai belanja modal (capital expenditure) perusahaan pada 2024 tercatat sekitar Rp 25-28 triliun, dengan porsi signifikan dialokasikan untuk penguatan komputasi awan dan kapasitas pemrosesan AI. Infrastruktur ini menjadi prasyarat mutlak, sebab tanpa latensi rendah dan bandwidth memadai, implementasi AI di sektor industri akan mengalami hambatan teknis.

Di sisi lain, pilar data menjadi tantangan tersendiri. Indonesia masih menghadapi persoalan fragmentasi data antarinstansi serta standar interoperabilitas yang belum seragam. Tanpa tata kelola data yang baik, model AI berisiko menghasilkan keluaran yang tidak akurat atau bias. Telkom menyatakan tengah membangun kerangka data governance yang mencakup klasifikasi, keamanan, dan etika penggunaan AI.

"Adopsi AI tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Dibutuhkan orkestrasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat agar manfaatnya merata," ujar seorang eksekutif Telkom dalam sesi pra-forum.

Dua Perspektif: Peluang versus Tantangan Struktural

Di satu sisi, inisiatif ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi digital. Proyeksi Bank Indonesia menempatkan nilai ekonomi digital nasional pada 2025 di kisaran USD 130 miliar atau setara Rp 2.100 triliun, dengan AI sebagai salah satu pendorong utama produktivitas. Sektor manufaktur, kesehatan, dan jasa keuangan diprediksi menjadi penerima manfaat terbesar. Kolaborasi lintas sektor yang digagas Telkom dapat mempercepat transfer pengetahuan dan menurunkan biaya adopsi bagi pelaku usaha kecil.

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan risiko kesenjangan digital (digital divide). Investasi besar pada infrastruktur AI cenderung terkonsentrasi di Jawa dan kota-kota besar, sementara daerah terpencil masih bergulat dengan konektivitas dasar. Selain itu, kebutuhan talenta digital nasional diperkirakan mencapai 9 juta tenaga kerja terampil hingga 2030, sementara pasokan saat ini baru sekitar 3-4 juta. Tanpa intervensi sumber daya manusia yang agresif, ekosistem yang dibangun berisiko tidak termanfaatkan optimal.

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Dari kacamata pasar modal, sentimen terhadap emiten teknologi dan telekomunikasi masih berfluktuasi. Indeks sektor infrastruktur telekomunikasi mencatat kenaikan year-on-year sekitar 6-8 persen hingga kuartal III 2024, meski sempat tertekan capital outflow akibat ketidakpastian global. Valuasi emiten telekomunikasi dinilai masih wajar dengan rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) di kisaran 12-15 kali.

Likuiditas pasar dan fundamental perusahaan menjadi penopang utama. Namun, proyeksi pertumbuhan bergantung pada eksekusi strategi AI yang konkret, bukan sekadar narasi. Para analis mencermati bahwa keberhasilan DTIIF 2026 akan diukur dari seberapa banyak kemitraan nyata yang tercipta dan seberapa cepat adopsi AI merambah sektor produktif.

Secara keseluruhan, langkah Telkom membangun ekosistem AI terintegrasi merupakan fondasi penting. Namun percepatan adopsi nasional menuntut sinergi kebijakan, kesiapan talenta, dan pemerataan infrastruktur agar transformasi digital tidak hanya menjadi agenda korporasi, melainkan agenda bersama seluruh lapisan ekonomi Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User