Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta laporan industri telekomunikasi per kuartal IV 2025, adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia baru mencapai sekitar 15-20 persen dari total perusahaan menengah dan besar. Angka ini tertinggal jauh dibandingkan Singapura yang telah menyentuh 45 persen dan Malaysia di kisaran 30 persen. Kesenjangan inilah yang coba dijembatani PT Telkom Indonesia melalui rangkaian persiapan menuju Digital Transformation Indonesia International Forum (DTIIF) 2026.
Perusahaan telekomunikasi pelat merah itu mengungkapkan bahwa strategi percepatan adopsi AI nasional tidak bisa bertumpu pada satu sektor saja. Diperlukan ekosistem terintegrasi yang mencakup infrastruktur konektivitas, ketersediaan data, hingga kolaborasi lintas industri. Pendekatan ini sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia yang memperkirakan kontribusi ekonomi digital terhadap PDB nasional bakal menembus USD 130 miliar pada 2025 dan terus mengalami kenaikan year-on-year.
Infrastruktur sebagai Fondasi Utama
Di satu sisi, Telkom menempatkan infrastruktur sebagai pilar pertama. Tanpa konektivitas yang merata dan kapasitas komputasi yang memadai, adopsi AI hanya akan terpusat di wilayah Jawa dan kota-kota besar. Perusahaan mengandalkan jaringan serat optik yang telah menjangkau lebih dari 170.000 kilometer serta pusat data yang tersebar di sejumlah lokasi strategis. Kapasitas ini dinilai krusial untuk mendukung beban kerja AI yang membutuhkan latensi rendah dan likuiditas data tinggi.
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur semata tidak cukup. Sejumlah analis menilai tingkat pemanfaatan pusat data nasional masih berada di bawah 60 persen, yang mengindikasikan adanya kesenjangan antara ketersediaan kapasitas dan kesiapan pengguna. Tanpa permintaan riil dari sektor industri, investasi infrastruktur berisiko menjadi beban biaya tetap yang tidak produktif.
Data dan Tata Kelola Jadi Simpul Kritis
Aspek kedua yang disorot adalah data. Kualitas dan keterbukaan data antarinstansi menentukan seberapa akurat model AI yang dikembangkan. Telkom menyoroti pentingnya tata kelola data yang transparan dan aman, terutama setelah meningkatnya sentimen pasar terhadap isu privasi dan kedaulatan data. Rasio pemanfaatan data terbuka pemerintah saat ini diperkirakan baru sekitar 40 persen dari total katalog yang tersedia.
"Tanpa data yang terstandardisasi, model AI hanya akan menghasilkan valuasi prediksi yang rendah akurasi. Kolaborasi lintas sektor bukan pilihan, melainkan keharusan," ujar seorang eksekutif perusahaan dalam paparan tertutup.
Pro: kolaborasi lintas sektor membuka peluang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mengakses layanan AI terjangkau, sehingga memperluas basis ekonomi digital. Kontra: tanpa insentif fiskal yang jelas, biaya integrasi sistem masih menjadi penghambat utama bagi pelaku usaha kecil, terutama di luar Pulau Jawa.
Kolaborasi dan Proyeksi Menuju 2026
Menjelang DTIIF 2026, perseroan menargetkan terbentuknya sejumlah kemitraan strategis dengan kementerian, lembaga, dan pemain swasta. Fokusnya mencakup pengembangan talenta digital, standarisasi model AI, serta penyediaan lingkungan uji coba atau sandbox bagi pelaku industri. Kebutuhan talenta AI nasional diproyeksikan mencapai 500.000 tenaga kerja pada 2027, sementara saat ini baru tersedia sekitar 120.000.
Dari kacamata fundamental, langkah ini berpotensi memperkuat posisi Telkom sebagai integrator ekosistem digital. Namun dari sisi sentimen pasar, ekspektasi tersebut perlu diimbangi dengan realisasi pendapatan yang terukur. Capital outflow di sektor teknologi regional juga menjadi variabel yang tak bisa diabaikan, lantaran arus modal asing masih sensitif terhadap kebijakan suku bunga global.
Pada akhirnya, percepatan adopsi AI nasional bukan sekadar perlombaan teknologi, melainkan uji ketahanan ekosistem. Bila infrastruktur, data, dan kolaborasi berjalan selaras, target Indonesia sebagai kekuatan digital Asia Tenggara bukan sekadar proyeksi di atas kertas. Namun bila salah satu pilar tertinggal, tren adopsi bisa kembali stagnan di level dua digit bawah.
Comments (0)