Telkom Peta Jalan Adopsi AI Nasional Menuju Forum Digital 2026

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia per kuartal IV 2025, kontribusi ekonomi digital nasional diproyeksikan menembus USD 130...

Oct 10, 2026 - 17:24
0 0
Telkom Peta Jalan Adopsi AI Nasional Menuju Forum Digital 2026

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia per kuartal IV 2025, kontribusi ekonomi digital nasional diproyeksikan menembus USD 130 miliar pada 2026, atau tumbuh sekitar 15 persen year-on-year dibandingkan realisasi 2025. Di tengah tren tersebut, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk tengah mematangkan peta jalan percepatan adopsi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) menjelang gelaran Digital Transformation Indonesia International Forum atau DTIIF 2026. Perusahaan pelat merah itu menekankan bahwa percepatan AI tidak cukup bertumpu pada teknologi semata, melainkan memerlukan ekosistem terintegrasi yang mencakup infrastruktur, tata kelola data, dan kolaborasi lintas sektor.

Infrastruktur dan Likuiditas Data sebagai Fondasi

Di satu sisi, fondasi teknis menjadi prasyarat mutlak. Tanpa konektivitas yang merata dan pusat data berkapasitas memadai, adopsi AI berisiko berhenti pada tataran wacana. Telkom tercatat mengoperasikan sejumlah data center hyperscale dengan target kapasitas terpasang yang terus mengalami kenaikan, sejalan dengan kebutuhan komputasi intensif untuk pelatihan model AI. Investasi pada infrastruktur ini bersifat jangka panjang dengan periode pengembalian yang relatif panjang, sehingga menjadi bagian dari belanja modal strategis perusahaan.

Direktur Utama Telkom dalam sebuah forum industri menyatakan bahwa nilai AI tidak terletak pada algoritmanya, melainkan pada kesiapan ekosistem yang menopangnya. "

Kedaulatan digital hanya bisa diraih jika infrastruktur, data, dan talenta bergerak bersama. Teknologi tanpa ekosistem akan menjadi beban, bukan percepatan,
" ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa pendekatan perusahaan bersifat ekosistemik, bukan sekadar penjualan lisensi teknologi.

Aspek data menjadi variabel krusial berikutnya. Likuiditas data lintas institusi masih menjadi tantangan tersendiri. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik, indeks keterbukaan data antarinstansi pemerintah maupun swasta belum sepenuhnya terstandarisasi, sehingga interoperabilitas sistem AI kerap terkendala. Di sinilah peran tata kelola data (data governance) menjadi penentu, khususnya dalam menjaga privasi sekaligus memastikan kualitas data yang dilatih ke dalam model.

Pro dan Kontra Percepatan Adopsi AI Nasional

Pro: percepatan adopsi AI berpotensi mendorong produktivitas nasional. Studi internal sektor telekomunikasi memperkirakan efisiensi operasional dapat meningkat 20 hingga 30 persen pada sektor manufaktur, logistik, dan jasa keuangan bila AI diterapkan secara terukur. Tambahan pula, kolaborasi lintas sektor dapat menciptakan portofolio solusi yang memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai digital regional, sekaligus menekan ketergantungan pada penyedia teknologi asing.

Kontra: sejumlah ekonom mengingatkan bahwa adopsi yang terlalu cepat tanpa kesiapan sumber daya manusia berisiko menimbulkan kesenjangan digital dan disrupsi tenaga kerja. Rasio talenta AI nasional masih relatif rendah dibandingkan kebutuhan industri. Sentimen pasar pun rentan terhadap capital outflow apabila proyek digital dinilai belum menghasilkan valuasi yang jelas dalam jangka pendek. Selain itu, biaya energi untuk operasional pusat data berpotensi menekan margin, terutama bila tarif listrik industri mengalami kenaikan.

Menyeimbangkan kedua sisi tersebut, Telkom menempatkan kolaborasi lintas sektor sebagai jembatan. Kemitraan dengan universitas, startup, dan institusi pemerintah diarahkan untuk memperkuat riset terapan sekaligus menyiapkan talenta. Skema ini dinilai dapat memperbaiki fundamental ekosistem AI nasional, meski dampak ekonominya baru terasa dalam beberapa tahun ke depan.

Proyeksi Tren dan Sentimen Pasar Menuju 2026

Mengacu pada tren investasi teknologi informasi global, belanja AI dunia diproyeksikan tumbuh dua digit hingga 2026. Indonesia berpotensi menangkap peluang tersebut, namun bergantung pada stabilitas iklim usaha dan kepastian regulasi. Indeks kepercayaan investor pada sektor teknologi domestik menunjukkan pergerakan fluktuatif, dipengaruhi sentimen global dan dinamika suku bunga acuan Bank Indonesia. Pelaku pasar mencermati sejauh mana peta jalan AI perusahaan mampu dikonversi menjadi pendapatan berulang yang berkelanjutan.

Dari sisi korporasi, percepatan adopsi AI juga berkaitan dengan strategi menjaga rasio efisiensi biaya operasional. Pemanfaatan AI untuk otomasi jaringan, prediksi gangguan, dan personalisasi layanan menjadi beberapa area yang diprioritaskan. Bila berjalan sesuai rencana, inisiatif ini berpotensi memperkuat struktur pendapatan segmen enterprise dan business-to-business, yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan.

Menuju DTIIF 2026, narasi besar yang dibawa bukan semata soal kecanggihan teknologi, melainkan kesiapan ekosistem nasional. Di satu sisi, momentum ini dapat menjadi katalis transformasi digital yang inklusif. Di sisi lain, tanpa eksekusi yang konsisten pada infrastruktur, data, dan sumber daya manusia, gaung forum berisiko berhenti sebatas seremoni. Ekonom umumnya berpandangan bahwa tolok ukur keberhasilan terletak pada realisasi investasi, penciptaan lapangan kerja digital, dan peningkatan daya saing industri dalam dua hingga tiga tahun mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User