Sungai Barito Kekeringan di Kalteng, PU Buka Suara soal Kondisi Terkini
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026, perekonomian Kalimantan Tengah tumbuh 4,8 persen year-on-year pada kuartal II-2026, ditopang sektor pertambangan dan perkebunan yang meng...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026, perekonomian Kalimantan Tengah tumbuh 4,8 persen year-on-year pada kuartal II-2026, ditopang sektor pertambangan dan perkebunan yang menggantungkan distribusinya pada transportasi sungai. Namun, di tengah tren pertumbuhan itu, heboh kekeringan Sungai Barito di sekitar Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, menjadi pengingat bahwa fundamental ekonomi daerah ini masih rentan terhadap gangguan alam.
Video dan foto yang beredar luas di media sosial memperlihatkan dasar sungai yang sebelumnya terendam kini terbuka ke permukaan. Aliran air menyempit drastis, dan sejumlah warga mengaku kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan harian. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) akhirnya angkat bicara untuk mengklarifikasi kondisi sebenarnya di lapangan.
Klarifikasi PU: Musiman atau Masalah Struktural?
Kementerian PU dalam keterangan resminya per 22 Agustus 2026 menegaskan bahwa penurunan muka air Sungai Barito saat ini masih tergolong normal untuk puncak kemarau. Elevasi air di pos pantau Kalahien tercatat turun sekitar 2,5 meter dibanding rata-rata musim hujan, tetapi angka itu dinilai masih sejalan dengan pola lima tahun terakhir pada periode Agustus–September.
Di satu sisi, klarifikasi ini meredakan kekhawatiran warga bahwa sungai akan kering permanen. Data BMKG menunjukkan defisit curah hujan hingga 60 persen di sebagian Kalimantan Tengah selama tiga bulan terakhir, sehingga penyusutan aliran memang wajar terjadi. Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa kekeringan yang tampak musiman bisa menjadi gejala persoalan yang lebih dalam.
"Yang perlu dicermati bukan debit air hari ini, melainkan tren muka air minimum tahunan yang terus menurun. Jika tren ini berlanjut, kekeringan ekstrem yang tadinya terjadi sekali dalam lima tahun bisa menjadi peristiwa tahunan," ujar seorang peneliti sumber daya air di Palangka Raya.
Pro: Faktor Iklim dan Siklus Musim yang Wajar
Penjelasan paling sederhana untuk peristiwa ini adalah faktor iklim. Indeks ENSO (El Niño–Southern Oscillation) yang dirilis BMKG pada Agustus 2026 menunjukkan kondisi El Niño lemah yang menahan pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan Kalimantan. Puncak kemarau diproyeksikan terjadi pada September 2026, sehingga debit sungai diperkirakan menyentuh titik terendahnya dalam beberapa pekan ke depan sebelum perlahan pulih pada Oktober.
Dari kacamata ini, kekeringan Kalahien hanyalah bagian dari siklus alam. Catatan PU menunjukkan peristiwa serupa pernah terjadi pada 2015, 2019, dan 2023, dan setiap kali muka air kembali normal setelah musim hujan tiba. Kapasitas pemulihan sungai masih berfungsi, sehingga gangguan saat ini bersifat sementara.
Kontra: Tekanan Fundamental dan Biaya Ekonomi
Namun, analisis yang hanya bertumpu pada siklus musim dianggap belum lengkap. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat tutupan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito mengalami penurunan dalam dua dekade terakhir seiring ekspansi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Hutan yang berperan sebagai penyerap air semakin tipis, sehingga sungai kehilangan penyangga alami saat kemarau panjang.
Sedimentasi dari aktivitas di hulu juga membuat dasar sungai semakin dangkal. Akibatnya, penurunan muka air yang sama kini berdampak lebih besar terhadap navigasi dibanding sepuluh tahun lalu. Padahal Sungai Barito adalah jalur logistik utama distribusi batu bara, kelapa sawit, dan kebutuhan pokok. Gangguan navigasi berarti biaya angkut naik, dan pada akhirnya harga barang di daerah pedalaman ikut tertekan.
Kalkulasi sederhananya: jika tongkang harus mengurangi muatan hingga 30 persen agar tetap melintas, rasio biaya logistik terhadap nilai muatan mengalami kenaikan dua digit. Di tingkat perusahaan, pelaku usaha pengangkut kecil menghadapi tekanan likuiditas karena pendapatan turun sementara biaya operasional tetap berjalan. Dalam konteks nasional, tekanan ini berisiko menambah inflasi Kalimantan Tengah yang pada Juli 2026 tercatat 3,1 persen year-on-year, sedikit di atas rata-rata nasional. Sentimen pasar terhadap komoditas andalan daerah pun ikut terpengaruh.
Proyeksi dan Pelajaran bagi Kebijakan
Ke depan, ada dua skenario yang mungkin terjadi. Skenario optimistis: musim hujan tiba sesuai jadwal pada Oktober 2026, debit sungai pulih, dan aktivitas ekonomi kembali normal — proyeksi ini didukung BMKG yang memperkirakan curah hujan normal pada awal kuartal IV-2026.
Skenario pesimistis: bila tren penurunan muka air minimum tahunan berlanjut, masyarakat dan pelaku usaha harus bersiap menghadapi gangguan serupa yang semakin sering. Kementerian PU menyatakan akan melakukan pengerukan sedimentasi di titik-titik kritis dan memperkuat sistem peringatan dini debit air, meski realisasinya butuh waktu dan anggaran.
Bagi pembaca awam, fenomena ini mengajarkan bahwa kekeringan bukan semata soal cuaca, melainkan interaksi antara iklim, tata kelola lahan, dan infrastruktur. Selama fundamental pengelolaan DAS belum dibenahi, peristiwa seperti di Kalahien akan terus berulang, dan biaya ekonominya semakin mahal bagi masyarakat dan negara.
Comments (0)