Stok Jagung Pakan di Bulan Kritis, Bulog Dituntut Amankan 250 Ribu Ton

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) per awal semester II 2024, kebutuhan jagung nasional untuk pakan ternak terus menunjukkan tren kenaikan year-on-year seir...

Oct 10, 2026 - 18:26
0 0
Stok Jagung Pakan di Bulan Kritis, Bulog Dituntut Amankan 250 Ribu Ton

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) per awal semester II 2024, kebutuhan jagung nasional untuk pakan ternak terus menunjukkan tren kenaikan year-on-year seiring pemulihan populasi unggas dan peningkatan permintaan protein hewani. Di tengah dinamika itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyoroti periode yang ia sebut sebagai bulan kritis, yakni rentang waktu ketika pasokan jagung dari sentra produksi menipis sementara kebutuhan peternak tetap tinggi. Dalam situasi ini, Perum Bulog diminta mengamankan cadangan jagung pakan hingga 250 ribu ton agar tidak terjadi gejolak harga yang merugikan peternak rakyat.

Permintaan tersebut bukan tanpa alasan. Secara fundamental, jagung merupakan komponen terbesar dalam struktur biaya pakan unggas, mencapai sekitar 50–60 persen dari total biaya produksi. Ketika pasokan terganggu, efeknya langsung terasa pada harga telur dan daging ayam di pasar konsumen. Karena itu, lonjakan harga jagung di tingkat peternak selalu menjadi sentimen pasar yang cepat merambat ke inflasi pangan bergejolak atau volatile food, yang menjadi salah satu komponen utama dalam keranjang indeks harga konsumen.

Pro: Intervensi Cadangan Menjaga Stabilitas Harga

Di satu sisi, langkah penugasan kepada Bulog untuk menyerap dan menyimpan cadangan jagung dinilai tepat sebagai bantalan likuiditas pangan. Pengalaman pada periode 2022–2023 memperlihatkan bahwa ketika produksi jagung domestik menurun akibat anomali cuaca, harga di tingkat peternak melonjak tajam. Dengan adanya cadangan penyangga, pemerintah memiliki instrumen untuk melakukan operasi pasar ketika harga melewati ambang batas tertentu.

“Cadangan pangan strategis harus dikelola dengan disiplin, karena fungsinya bukan hanya menyerap produksi petani, tetapi juga meredam gejolak harga yang bisa memicu tekanan inflasi,” ujar seorang ekonom pertanian dari lingkungan akademik, menggambarkan pentingnya tata kelola stok.

Dari kacamata makro, stok jagung yang memadai juga membantu menjaga proyeksi produksi ternak nasional. Jika pasokan pakan stabil, peternak dapat mempertahankan tingkat produksi, sehingga pasokan daging dan telur ke pasar tidak mengalami penurunan yang dapat mendorong kenaikan harga pangan secara umum. Ini pada akhirnya memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat.

Kontra: Keterbatasan Infrastruktur dan Kapasitas Serapan

Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa penugasan pengamanan 250 ribu ton jagung tidak sesederhana menambah angka dalam neraca pangan. Persoalan klasik yang kerap muncul adalah keterbatasan gudang dengan pengendalian kelembapan yang memadai, karena jagung sangat rentan terhadap serangan jamur dan aflatoksin bila penyimpanan tidak sesuai standar. Tanpa fasilitas yang memadai, cadangan justru berpotensi mengalami penurunan mutu dan kerugian nilai.

Selain itu, aspek pembiayaan menjadi sorotan. Penyerapan dalam jumlah besar membutuhkan dukungan permodalan dan ruang fiskal, terutama jika dilakukan pada saat harga pasar sedang tinggi. Ada kekhawatiran bahwa pembelian cadangan justru menciptakan distorsi harga di tingkat petani, terutama jika waktu dan mekanisme penyerapan tidak selaras dengan pola panen musiman.

Dari perspektif rantai pasok, distribusi juga menjadi tantangan. Sentra produksi jagung terkonsentrasi di beberapa wilayah seperti Jawa Timur, Lampung, dan Sulawesi Selatan, sementara konsumen pakan tersebar di seluruh Indonesia. Ketimpangan logistik ini membuat biaya angkut menjadi komponen yang signifikan dan berpotensi menggerus efektivitas intervensi.

Dampak ke Valuasi Sektor dan Proyeksi ke Depan

Bagi pelaku pasar, kebijakan cadangan jagung ini menjadi faktor yang memengaruhi sentimen terhadap emiten di sektor peternakan dan pakan. Ketika biaya bahan baku lebih terkendali, margin operasi perusahaan pakan berpotensi membaik, yang pada gilirannya dapat mendorong perbaikan valuasi saham di sektor tersebut. Namun, pasar juga mencermati risiko capital outflow dari sektor komoditas jika harga global jagung mengalami penurunan akibat pasokan dunia yang melimpah.

Ke depan, keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada tiga hal: akurasi data produksi dan konsumsi, kesiapan infrastruktur penyimpanan, serta koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha. Tanpa perbaikan pada ketiga aspek tersebut, target pengamanan stok hanya akan menjadi angka di atas kertas. Sebaliknya, jika tata kelola berjalan baik, cadangan jagung dapat menjadi instrumen yang efektif untuk menjaga stabilitas pangan dan menopang fundamental ekonomi peternakan nasional di tengah ketidakpastian iklim dan gejolak pasar global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User