Oct 10, 2026
Bisnis

Sinergi Jargas dan PLTS di Perumahan Pekerja Industri

Berdasarkan data Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman per Februari 2025, pertemuan antara Menteri Perumahan Maruarar Sirait dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menghasi...

Sinergi Jargas dan PLTS di Perumahan Pekerja Industri

Berdasarkan data Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman per Februari 2025, pertemuan antara Menteri Perumahan Maruarar Sirait dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menghasilkan kesepakatan untuk mengintegrasikan jaringan gas (jargas) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dalam proyek perumahan bagi pekerja industri. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya pemerintah menekan biaya energi rumah tangga sekaligus mendorong transisi energi di sektor properti.

Konteks Makro: Belanja Energi Rumah Tangga Masih Dominan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa komponen energi—listrik dan gas—menyumbang sekitar 11,2 persen dari total pengeluaran rumah tangga perkotaan pada 2024. Angka ini naik dari 10,1 persen pada 2019, seiring kenaikan tarif listrik dan harga LPG nonsubsidi. Bagi pekerja industri dengan pendapatan upah minimum, beban energi menjadi salah satu pos yang paling memberatkan setelah sewa dan pangan.

Di sisi lain, Indonesia memiliki rasio elektrifikasi yang telah mencapai 99,79 persen per akhir 2024, namun kualitas pasokan listrik dan akses gas pipa masih sangat timpang antarwilayah. Jargas baru menjangkau sekitar 1,1 juta sambungan rumah tangga hingga awal 2025, atau kurang dari 2 persen total rumah tangga nasional. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi proyek perumahan terintegrasi.

Pro: Efisiensi Biaya dan Pengurangan Emisi

Penggunaan jargas memungkinkan rumah tangga menghemat pengeluaran hingga 30–40 persen dibandingkan LPG tabung 3 kg, berdasarkan kajian Kementerian ESDM pada 2023. Sementara itu, PLTS atap dengan kapasitas 1–2 kilowatt peak dapat memangkas tagihan listrik bulanan sekitar 25–35 persen, tergantung profil konsumsi dan irradiasi matahari setempat.

"Integrasi jargas dan PLTS bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi strategi pengurangan subsidi energi dan penciptaan kemandirian energi rumah tangga," ujar seorang pejabat kementerian yang enggan disebutkan namanya.

Bagi pekerja industri, perumahan dengan biaya energi lebih rendah meningkatkan daya beli riil. Dalam jangka panjang, ini dapat menekan tuntutan kenaikan upah yang berlebihan dan menjaga daya saing sektor manufaktur, terutama yang padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan pengolahan makanan.

Kontra: Tantangan Likuiditas dan Fundamenta Infrastruktur

Namun, implementasi di lapangan tidak sederhana. Pembangunan jaringan gas membutuhkan investasi awal besar, yakni sekitar Rp5,8 juta hingga Rp7,2 juta per sambungan rumah tangga, menurut estimasi PT Perusahaan Gas Negara (PGN) pada 2024. Jika proyek menyasar 100 ribu unit rumah pekerja industri tahap pertama, kebutuhan anggaran mencapai Rp580–720 miliar hanya untuk jargas, belum termasuk PLTS dan infrastruktur pendukung.

Dari sisi pendanaan, ruang fiskal pemerintah sedang terbatas. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 tercatat 2,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan proyeksi 2025 berkisar 2,45–2,8 persen. Ini menimbulkan pertanyaan tentang likuiditas dan keberlanjutan pembiayaan proyek jangka panjang.

Selain itu, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa pembangunan jargas sering terkendala koordinasi lintas kementerian, pembebasan lahan, dan kesiapan industri dalam negeri untuk komponen PLTS. Rasio kandungan lokal (TKDN) untuk panel surya masih di bawah 40 persen, sehingga ketergantungan impor tetap tinggi dan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Dari kacamata pasar, sentimen terhadap sektor energi terbarukan dan properti hijau cenderung positif. Indeks IDX Energi mencatat kenaikan 8,7 persen secara year-on-year per Februari 2025, sementara emiten properti yang mengusung konsep green building menunjukkan valuasi yang relatif lebih stabil. Namun, capital outflow dari pasar obligasi negara dalam beberapa bulan terakhir menambah tekanan pada biaya pendanaan jangka panjang.

Fundamental proyek ini akan sangat bergantung pada kejelasan skema pembiayaan—apakah melalui kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), dana pensiun, atau obligasi hijau. Tanpa struktur pembiayaan yang jelas, proyek ini berisiko menjadi sekadar wacana tanpa realisasi portofolio yang terukur.

Ke depan, keberhasilan integrasi jargas dan PLTS di perumahan pekerja industri akan menjadi indikator penting apakah Indonesia mampu menggeser tren belanja energi rumah tangga ke arah yang lebih efisien, atau justru terjebak dalam beban infrastruktur yang tidak berkelanjutan. Semua mata kini tertuju pada detail teknis dan fiskal yang akan diumumkan dalam waktu dekat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User