Sakha Coffee Raup Kenaikan 60% Lewat Ekosistem Lokal

Upaya Sakha Coffee Roastery merangkul platform digital Tanah Air menuai hasil manis. Sepanjang tahun berjalan, perusahaan pemanggang kopi asal Jakarta itu membukukan lonjakan penjualan hingga 60 perse...

Sakha Coffee Raup Kenaikan 60% Lewat Ekosistem Lokal

Upaya Sakha Coffee Roastery merangkul platform digital Tanah Air menuai hasil manis. Sepanjang tahun berjalan, perusahaan pemanggang kopi asal Jakarta itu membukukan lonjakan penjualan hingga 60 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pendorong utama di balik pertumbuhan itu adalah kehadiran mereka di kanal #BeliLokal milik Tokopedia dan TikTok Shop, yang mempertemukan produk-produk Nusantara dengan konsumen yang semakin sadar asal-usul kopi. Pertumbuhan penjualan sebesar 60 persen ini menjadi sinyal bahwa selera pasar terhadap kopi lokal terus menguat, sekaligus menegaskan peran krusial lokapasar dalam membuka akses bagi pelaku usaha kecil menengah.

Founder Sakha Coffee, Andika Pratama, tak menyangka respons publik bakal sebesar ini. Menurutnya, kolaborasi dengan dua platform tersebut lebih dari sekadar strategi distribusi. “Kami ingin kopi petani kita tidak berhenti di gudang atau warung tradisional saja. Tokopedia dan TikTok Shop memberi kami panggung untuk bercerita: siapa petaninya, di gunung mana kopi ini ditanam, bagaimana proses panennya,” ujarnya dalam bincang virtual, Selasa lalu. Andika menambahkan, konten video pendek di TikTok Shop terbukti ampuh memperkenalkan karakter tiap biji kopi. Sebuah tayangan berdurasi 90 detik tentang proses cupping kopi arabika asal Kintamani, misalnya, berhasil meraup ribuan tayangan dan langsung mendorong lonjakan pesanan.

Bukan Sekadar Jualan, Tapi Merajut Rantai Pasok

Performa impresif Sakha Coffee bukan hanya terlihat di angka penjualan, melainkan juga pada perluasan jejaring hulunya. Selama enam bulan terakhir, perusahaan menjalin kemitraan langsung dengan tiga kelompok tani baru di Jawa Barat, Bali, dan Flores. Total, kini mereka menggandeng sepuluh kelompok tani yang mewakili lebih dari 300 kepala keluarga. Dengan skema bagi hasil transparan, petani menerima harga yang rata-rata 25 persen lebih tinggi ketimbang harga tengkulak setempat. Surplus itu memungkinkan petani memperbaiki teknik budi daya dan membangun fasilitas penjemuran yang lebih higienis.

Dari sisi hilir, peningkatan volume pesanan menuntut Sakha memperbesar kapasitas produksi. Saat ini, ruang sangrai mereka di kawasan Jagakarsa telah beroperasi dengan dua mesin roasting berkapasitas total 50 kilogram per jam, naik dua kali lipat dari akhir tahun lalu. Penambahan mesin ikut membuka lima lowongan baru untuk operator dan staf kontrol mutu. “Setiap 10 persen kenaikan penjualan, kami butuh setidaknya satu tenaga tambahan di lini produksi dan pengemasan,” jelas Andika.

Antusiasme Konsumen dan Tren Kopi Rumahan

Pengamat ekonomi digital dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, menilai capaian Sakha Coffee tak lepas dari pergeseran pola konsumsi pascapandemi. “Masyarakat kelas menengah-atas kini semakin nyaman menyeduh kopi sendiri di rumah. Mereka mencari produk yang memiliki cerita dan identitas kuat. Lokapasar memberi wadah bagi jenama seperti Sakha untuk mengomunikasikan narasi itu secara langsung,” katanya. Data internal Tokopedia yang dirilis awal Juni menunjukkan, transaksi kopi biji dan bubuk di kanal #BeliLokal meningkat 42 persen sepanjang kuartal pertama tahun ini, dengan kontribusi terbesar dari wilayah Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya.

Tidak hanya konsumen individu, sejumlah kedai kopi skala kecil kini mulai melirik Sakha sebagai pemasok tetap. Tercatat 37 kafe di Jakarta dan Bandung telah menjalin kontrak bulanan untuk pasokan house blend racikan Sakha. Model bisnis ini menciptakan arus pendapatan yang lebih stabil di luar musim puncak belanja daring.

Tantangan dan Peta Jalan ke Depan

Meski grafik terus menanjak, Sakha Coffee belum sepenuhnya lepas dari ganjalan. Fluktuasi harga kopi dunia dan cuaca yang kerap tak menentu menjadi risiko yang harus dikelola. Untuk meredam gejolak harga, perusahaan mulai menerapkan kontrak berjangka dengan sejumlah petani, mematok harga minimum yang melindungi kedua pihak. Di sisi logistik, pengiriman ke luar Jawa masih menyumbang ongkos tertinggi, sehingga mereka menggandeng mitra kurir logistik yang menawarkan tarif khusus UMKM.

Agenda terdekat Sakha adalah meluncurkan produk edisi terbatas bertajuk “Jejak Rasa” yang akan menampilkan kopi dari empat daerah berbeda setiap kuartal. Rencana ini sekaligus menjadi ajang uji pasar sebelum mereka memutuskan ekspansi ke ekspor pada 2026. “Kami ingin mematangkan pasar dalam negeri lebih dulu. Kalau basis lokal sudah kokoh, ekspor adalah langkah alamiah berikutnya,” pungkas Andika.

Dengan laju pertumbuhan yang konsisten dan ekosistem digital yang kian suportif, jalan Sakha Coffee Roastery menuju penguatan ekonomi kopi lokal tampak bukan sekadar cita-cita, melainkan peta yang sudah mulai tergambar jelas.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User