Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Keuangan per akhir tahun ini, pemerintah menargetkan pembukaan rekening bank tanpa biaya bagi 25,1 juta warga berusia 17 tahun ke atas yang tergolong dalam kelompok desil 1 hingga 4. Program ini menjadi salah satu langkah terbesar dalam sejarah inklusi keuangan nasional, menyasar lapisan masyarakat dengan pengeluaran per kapita terendah yang selama ini belum tersentuh layanan perbankan formal.
Desil sendiri merupakan pembagian populasi menjadi sepuluh kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan. Desil 1 adalah kelompok paling bawah, sementara desil 4 berada di batas bawah kelas menengah. Artinya, kebijakan ini menyasar sekitar 40 persen penduduk dari sisi terbawah tangga ekonomi. Angka 25,1 juta jiwa itu setara dengan sekitar 9,2 persen dari total populasi Indonesia, sebuah cakupan yang signifikan bila dibandingkan program serupa pada 2018 yang hanya menjangkau 5 juta penerima.
Satu Sisi: Dorong Inklusi dan Penyaluran Bantuan Lebih Tepat
Di satu sisi, kebijakan ini dipandang sebagai terobosan fundamental. Selama ini penyaluran bantuan sosial kerap terkendala data dan mekanisme tunai yang rawan kebocoran. Dengan rekening bank gratis, dana bantuan bisa ditransfer langsung, mengurangi perantara, dan mempermudah pelacakan. Rasio inklusi keuangan orang dewasa Indonesia memang sudah mencapai sekitar 85 persen pada 2024 menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK), namun kepemilikan rekening di desil terbawah masih tertinggal jauh, terutama di wilayah timur dan pedesaan.
"Rekening bukan sekadar alat pembayaran, tetapi pintu masuk menuju akses kredit mikro, asuransi, dan tabungan yang selama ini eksklusif bagi kelompok mampu," ujar seorang ekonom dari lembaga riset independen.
Lebih jauh, program ini berpotensi meningkatkan likuiditas perbankan jika dana masyarakat desil bawah mulai tersimpan di sistem formal. Proyeksi awal menyebut potensi dana pihak ketiga tambahan bisa mencapai Rp15 triliun hingga Rp20 triliun dalam dua tahun pertama, angka yang relatif kecil bagi bank besar namun berarti bagi bank pembangunan daerah dan bank perkreditan rakyat.
Sisi Lain: Risiko Dormansi dan Beban Operasional
Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa pembukaan rekening tidak otomatis diikuti penggunaan aktif. Pengalaman program serupa di beberapa negara menunjukkan tingkat rekening tidak aktif alias dormant bisa mencapai 30-40 persen dalam setahun pertama. Tanpa literasi keuangan yang memadai, rekening hanya berfungsi sebagai wadah bantuan sesaat, lalu menganggur.
Dari sisi perbankan, biaya administrasi dan operasional untuk 25,1 juta rekening baru tidaklah murah. Estimasi kasar industri menyebut biaya akuisisi per rekening berkisar Rp25.000 hingga Rp50.000, sehingga total beban bisa menembus Rp1,2 triliun. Beban ini perlu ditanggung bersama antara pemerintah, bank pelaksana, dan skema insentif tertentu agar tidak mengganggu profitabilitas.
Ada pula kekhawatiran soal kesiapan infrastruktur di daerah terpencil, di mana akses internet dan agen bank masih terbatas. Risiko penyalahgunaan rekening untuk penipuan daring atau pinjaman ilegal juga menjadi catatan penting. Sentimen pasar terhadap sektor perbankan pun masih menunggu kejelasan skema teknis, apakah program ini akan mendorong valuasi saham bank BUMN atau justru menjadi beban tambahan.
Proyeksi dan Tantangan Implementasi
Jika berjalan sesuai rencana, program ini bisa menjadi katalis pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal pertama tahun depan. Kelompok desil 1-4 memiliki kecenderungan belanja tinggi, sehingga tambahan likuiditas kecil pun bisa berputar cepat di ekonomi lokal. Namun, keberhasilan sangat bergantung pada tiga hal: akurasi data penerima, pendampingan literasi keuangan, dan sinergi lintas lembaga.
Dari kacamata fundamental, dampak jangka pendek mungkin terbatas pada sentimen pasar. Namun dalam jangka menengah, inklusi yang sehat berpotensi memperkuat basis simpanan dan memperluas portofolio kredit mikro. Semua pihak kini menanti detail teknis, termasuk bank mana yang menjadi mitra utama dan bagaimana mekanisme verifikasi penerima. Tanpa eksekusi yang rapi, target 25,1 juta rekening akhir tahun ini bisa berubah menjadi sekadar angka di atas kertas.
Comments (0)