Rachmat Gobel Temui Mendag Dua Hari Sebelum Wafat, Ini yang Dibahas

Jakarta — Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa tepat dua hari sebelum berpulang, mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyempatkan diri bertemu dengannya di kantor Kementerian Pe...

Rachmat Gobel Temui Mendag Dua Hari Sebelum Wafat, Ini yang Dibahas

Jakarta — Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa tepat dua hari sebelum berpulang, mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyempatkan diri bertemu dengannya di kantor Kementerian Perdagangan. Pertemuan yang awalnya dijadwalkan sebagai silaturahmi biasa itu ternyata menjadi momen penting karena membahas sejumlah agenda strategis perdagangan nasional yang hingga kini masih menjadi fokus pemerintah.

Pertemuan Terakhir yang Sarat Gagasan

Menurut Budi Santoso, meski kondisi fisik sang politikus senior mulai menurun, semangat dan ketajaman pikirannya tidak pudar. Dalam pertemuan sekitar satu jam tersebut, Gobel banyak menyampaikan pandangannya tentang perkembangan ekspor-impor Indonesia, terutama terkait penguatan daya saing produk nasional di pasar global. Ia menekankan pentingnya keberpihakan kebijakan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu naik kelas dan menembus rantai pasok internasional. “Beliau sangat antusias saat membahas potensi ekspor halal Indonesia di Timur Tengah dan Afrika. Menurut beliau, ini ceruk pasar yang belum tergarap maksimal,” ujar Mendag.

Gobel juga menyampaikan catatan kritis terhadap infrastruktur logistik dan biaya yang masih menjadi momok bagi eksportir nasional. Data Badan Pusat Statistik per 30 Juni 2026 memang menunjukkan biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 23% dari PDB, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata negara ASEAN yang berada di bawah 15%. Gobel, dengan latar belakangnya sebagai industrialis, menawarkan perspektif dari sisi pelaku usaha agar pemerintah dapat merancang kebijakan yang lebih aplikatif.

Sosok Panutan yang Peduli pada Pegawai

Dalam kesempatan itu, Budi Santoso juga mengenang Gobel sebagai pribadi yang rendah hati dan sangat memperhatikan kesejahteraan pegawai. Selama menjabat Mendag pada 2014–2015, ia dikenal kerap menyapa pegawai hingga tingkat staf dan rutin meninjau fasilitas kerja. “Almarhum tidak hanya memikirkan target-target besar, tapi juga hal-hal kecil yang berdampak langsung pada kenyamanan bekerja. Beliau selalu ingat nama-nama pegawai, bahkan yang bertugas di bagian administrasi,” kenang Budi Santoso dengan mata berkaca-kaca.

Warisan kepemimpinan itu masih terasa di lingkungan Kementerian Perdagangan. Beberapa pegawai senior yang sempat bekerja di bawah komando Gobel menuturkan bahwa ia sering menggelar diskusi santai di sela jam makan siang untuk mendengarkan keluhan dan ide dari bawahan. Kebiasaan itu diyakini turut membangun iklim organisasi yang lebih inklusif dan partisipatif.

Agenda Perdagangan yang Dibahas

Berdasarkan keterangan Mendag, setidaknya ada tiga isu utama yang menjadi pokok pembicaraan. Pertama, percepatan penyelesaian perjanjian kerja sama perdagangan bebas dengan Uni Eropa (IEU-CEPA) dan kawasan Pasifik yang diharapkan bisa membuka akses pasar lebih luas bagi produk manufaktur Indonesia. Gobel mendorong agar tim perunding lebih agresif namun tetap mengamankan kepentingan petani dan industri dalam negeri.

Kedua, strategi hilirisasi komoditas unggulan. Gobel yang sejak awal mendukung kebijakan hilirisasi mineral kembali mengingatkan bahwa hilirisasi harus disertai dengan transfer teknologi dan penyerapan tenaga kerja lokal. Ia mencontohkan keberhasilan pengembangan industri baterai kendaraan listrik yang mulai menunjukkan hasil positif pada neraca perdagangan triwulan I-2026 dengan surplus USD 12,8 miliar, naik 9,7% secara year-on-year.

Ketiga, revitalisasi pasar tradisional dan digitalisasi perdagangan ritel. Gobel menilai transformasi digital di sektor perdagangan tidak boleh mematikan pasar rakyat, melainkan harus diintegrasikan agar keduanya saling memperkuat. Ia mendorong agar pelatihan literasi digital bagi pedagang pasar tradisional diperluas ke lebih dari 500 pasar di seluruh Indonesia pada akhir tahun.

Pembahasan itu menunjukkan bahwa meskipun tidak lagi menjabat, Gobel tetap memiliki perhatian besar terhadap arah kebijakan perdagangan nasional. “Beliau datang bukan untuk nostalgia, tapi benar-benar ingin memberikan sumbangsih pemikiran hingga hari-hari terakhirnya. Ini teladan luar biasa bagi kami semua,” tambah Budi Santoso.

Warisan untuk Dunia Usaha dan Perdagangan

Rachmat Gobel bukanlah nama asing di dunia usaha dan politik Indonesia. Lahir dari keluarga pengusaha elektronik nasional, ia membangun Grup Gobel yang menjadi mitra strategis berbagai perusahaan multinasional. Kiprahnya di dunia politik membawanya menjadi Wakil Ketua DPR RI, lalu dipercaya sebagai Menteri Perdagangan. Semasa memimpin kementerian, ia meluncurkan program stabilisasi harga pangan melalui operasi pasar dan memperkuat peran Bulog sebagai penyangga harga. Ia pula yang meletakkan fondasi bagi pengembangan merek dagang nasional agar lebih kompetitif di era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga besar Kementerian Perdagangan, tetapi juga bagi komunitas industri dan parlemen. Jenazah dimakamkan di pemakaman keluarga di Jakarta dengan dihadiri sejumlah menteri, pelaku usaha, dan rekan sejawatnya di DPR. Bendera setengah tiang dikibarkan di kompleks Kementerian Perdagangan sebagai penghormatan terakhir.

Budi Santoso menegaskan bahwa pemikiran-pemikiran almarhum akan menjadi catatan penting bagi perumusan kebijakan perdagangan ke depan. “Kami akan meneruskan semangat beliau untuk mewujudkan perdagangan Indonesia yang berkeadilan dan berdaya saing global. Itu pesan terakhir yang beliau titipkan kepada kami,” pungkas Mendag.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User