Piala Dunia 2030 64 Tim: Peluang Ekonomi atau Beban Baru?

Berdasarkan laporan keuangan FIFA, Piala Dunia 2022 di Qatar membukukan pendapatan sekitar USD 7,5 miliar dari hak siar dan sponsor, melonjak lebih dari 30% dibanding edisi Rusia 2018. Di tengah capai...

Berdasarkan laporan keuangan FIFA, Piala Dunia 2022 di Qatar membukukan pendapatan sekitar USD 7,5 miliar dari hak siar dan sponsor, melonjak lebih dari 30% dibanding edisi Rusia 2018. Di tengah capaian itu, Presiden FIFA Gianni Infantino menggulirkan wacana menambah peserta menjadi 64 tim pada putaran final 2030. Ide ini bukan sekadar perubahan format olahraga, melainkan momen yang mempertemukan ambisi diplomatik sepak bola dengan realitas kalkulasi ekonomi. Di satu sisi, ekspansi menjanjikan pangsa pasar baru; di sisi lain, ia membuka kotak pandora biaya, logistik, dan keberlanjutan yang perlu dikaji secara dingin dengan pendekatan data.

Potensi Pendapatan dan Efek Berganda

Bagi FIFA sebagai pemegang hak komersial, lonjakan jumlah pertandingan dari 64 laga (format 32 tim) menjadi setidaknya 128 laga—jika menggunakan sistem 16 grup masing-masing empat tim dan babak gugur 32 besar—berarti lebih banyak inventaris siaran dan slot sponsor. Dengan asumsi rata-rata nilai kontrak per laga tetap, potensi pendapatan hak siar bisa mendekati dua kali lipat, mendorong proyeksi omzet melewati angka USD 10 miliar. Negara-negara kecil yang lolos pertama kali—sebut saja kawasan Afrika, Karibia, atau Asia Tengah—juga akan mengalami lonjakan konsumsi domestik menjelang dan selama turnamen, mulai dari penjualan tiket perjalanan, merchandise, hingga belanja iklan lokal. "Ekspansi menciptakan efek multiplier yang lebih besar bagi negara peserta baru, karena keterlibatan emosional publik meningkatkan belanja rumah tangga secara temporer," ujar Dr. Laila Maruf, ekonom perilaku dari Universitas Padjadjaran.

Beban Infrastruktur dan Risiko Fiskal Tuan Rumah

Namun, di balik tawaran komersial, terdapat beban signifikan yang harus ditanggung negara tuan rumah. Edisi 2030 yang sudah dijadwalkan berlangsung di enam negara—Spanyol, Portugal, Maroko, Argentina, Uruguay, dan Paraguay—harus menyediakan jumlah stadion, akomodasi, dan sistem transportasi yang lebih besar. Hitungan kasar menunjukkan bahwa penambahan 32 tim memerlukan setidaknya 16 stadion tambahan berkapasitas 40.000 kursi, atau modifikasi jadwal yang sangat padat yang bisa memicu kelelahan infrastruktur. Biaya modal untuk stadion tunggal kelas A berkisar USD 400–800 juta, sehingga total investasi tambahan bisa menembus USD 6 miliar. "Rasio utang terhadap PDB beberapa tuan rumah, seperti Argentina dan Maroko, rentan melonjak jika proyek infrastruktur tidak dikelola dengan pendanaan campuran yang ketat," mengingatkan Dr. Fajar Santoso, analis fiskal dari Universitas Gadjah Mada.

Dilusi Kualitas dan Valuasi Hak Siar

Sisi lain yang mencuat adalah dilusi kualitas kompetisi. Data historis menunjukkan, ketika Piala Dunia diperluas dari 24 ke 32 tim pada 1998, rating televisi global naik 22%, tetapi margin kemenangan rata-rata di fase grup juga melebar dari 1,3 gol menjadi 1,7 gol. Jika format 64 tim diterapkan, kesenjangan antara unggulan dan debutan berpotensi menghasilkan skor-skor timpang yang justru menurunkan minat pemirsa di pasar mature. Kontrak hak siar bersandar pada asumsi bahwa setiap laga mempertahankan daya tarik tinggi. "Jika terlalu banyak laga tidak kompetitif, broadcaster akan meminta diskon volume, bukan sekadar membayar proporsional terhadap jumlah pertandingan," kata Indra Kusuma, mantan analis investasi media di Credit Suisse, dalam forum olahraga Jakarta pekan lalu. Ia menunjuk tren penurunan harga per laga pada turnamen yang terlalu menggembung seperti beberapa edisi Piala Eropa.

Pasar Baru vs. Kapital Keluar

Bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, wacana ini adalah pedang bermata dua. Peluang lolos ke putaran final yang semula tipis menjadi lebih terbuka, membuka potensi investasi di pembinaan usia muda dan kemitraan sponsor lokal. Namun, ada risiko capital outflow berupa pengeluaran devisa untuk perjalanan suporter dan pembayaran lisensi siaran yang lebih mahal, mengingat nilai paket hak siar Piala Dunia di Asia Pasifik terus naik rata-rata 8% per siklus. "Neraca pembayaran sektor jasa bisa tergerus jika masyarakat memilih menonton langsung ke luar negeri dan membeli produk berlisensi FIFA dalam volume besar," tambah Dr. Laila. Diperlukan kebijakan cermat agar partisipasi di lapangan hijau tidak menjadi kebocoran ekonomi.

Perspektif Proyeksi dan Tata Kelola

Proyeksi akhir, model ekspansi Piala Dunia harus menjawab pertanyaan fundamental: apakah penambahan tim meningkatkan kesejahteraan ekonomi sepak bola global, atau hanya menggelembungkan pendapatan FIFA dengan mengorbankan tuan rumah dan pemirsa? Diperlukan studi kelayakan yang transparan, melibatkan analisis biaya-manfaat per negara tuan rumah, serta simulasi dampak pada likuiditas pasar obligasi sektor infrastruktur olahraga. "Portofolio proyek infrastruktur turnamen harus dibawa ke ranah pasar modal dengan instrumen green bond untuk menjaga disiplin fiskal," usul Santoso. Dengan valuasi hak siar global sepak bola yang kini menembus USD 50 miliar per tahun, keputusan ekspansi 2030 bukan lagi sekadar soal jumlah tiket yang dicetak, melainkan ujian bagi keberlanjutan ekonomi olahraga dunia di tengah tekanan resesi dan ketidakpastian geopolitik.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User