Oct 15, 2026
Bisnis

Pertumbuhan Ekonomi RI Dinilai Perlu Ukur Kesejahteraan, Bukan Hanya PDB

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal IV 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat berada di kisaran 5,0 persen secara year-on-year, angka yang relatif stabil dalam satu dekade t...

Pertumbuhan Ekonomi RI Dinilai Perlu Ukur Kesejahteraan, Bukan Hanya PDB

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal IV 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat berada di kisaran 5,0 persen secara year-on-year, angka yang relatif stabil dalam satu dekade terakhir. Namun, sejumlah kalangan menilai capaian itu belum cukup menggambarkan kualitas pembangunan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2024 berada di angka 75,02, naik tipis dari 74,39 pada 2023, sementara rasio gini stagnan di kisaran 0,38. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan agregat tidak selalu berbanding lurus dengan pemerataan kesejahteraan.

PDB sebagai Indikator yang Terbatas

Produk Domestik Bruto (PDB) adalah nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam periode tertentu. Indikator ini menjadi tolok ukur standar pertumbuhan ekonomi global, termasuk proyeksi yang dirilis Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Di satu sisi, PDB memberikan gambaran makro yang cepat, terukur, dan memungkinkan perbandingan antarnegara. Kenaikan PDB mencerminkan likuiditas pasar, aktivitas produksi, dan besarnya portofolio investasi yang masuk.

Di sisi lain, PDB tidak menangkap distribusi manfaat pertumbuhan tersebut. Sebuah negara bisa mencatat PDB tinggi, namun sebagian besar penduduknya tidak merasakan dampaknya secara langsung. Kesenjangan antarwilayah, disparitas pendapatan, serta kualitas lapangan kerja menjadi variabel yang luput dari perhitungan PDB. Inilah yang menjadi dasar kritik bahwa pertumbuhan ekonomi harus diukur dengan pendekatan yang lebih multidimensional.

"Pertumbuhan yang hanya dilihat dari PDB berisiko mengabaikan dimensi sosial. Dampak nyata bagi masyarakat harus menjadi ukuran utama," ujar seorang ekonom dalam diskusi panel ekonomi nasional.

Dampak Sosial dan Kesejahteraan Merata sebagai Kunci

Pendekatan alternatif mulai mendorong penggunaan indikator yang lebih inklusif, seperti Indeks Kesejahteraan Rakyat, tingkat kemiskinan ekstrem, angka pengangguran terbuka, hingga akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Data BPS mencatat tingkat kemiskinan pada 2024 berada di 9,03 persen, turun dari 9,36 persen pada 2023, namun masih jauh dari target 7 persen yang dicanangkan pemerintah.

Tren capital outflow dan ketidakpastian sentimen pasar global turut memengaruhi fundamental ekonomi domestik. Ketika arus modal keluar meningkat, tekanan terhadap nilai tukar dan likuiditas perbankan bisa memperlambat ekspansi sektor riil, yang pada akhirnya berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Di sinilah pentingnya valuasi kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada angka pertumbuhan, tetapi juga pada daya beli dan kualitas hidup masyarakat.

Pro: pengukuran berbasis kesejahteraan mendorong kebijakan yang lebih tepat sasaran, meningkatkan inklusi keuangan, dan memperkuat daya tahan ekonomi terhadap guncangan eksternal. Kontra: indikator kesejahteraan lebih kompleks, memakan waktu, dan sulit dibandingkan secara internasional, sehingga dapat memperlambat pengambilan keputusan investasi jangka pendek.

Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan

Ke depan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran 5,0–5,2 persen, dengan catatan stabilitas politik dan konsistensi reformasi struktural terjaga. Namun, tanpa perbaikan distribusi, angka tersebut berpotensi hanya menjadi statistik tanpa makna bagi sebagian besar rakyat. Pemerintah perlu memperkuat program perlindungan sosial, mendorong industrialisasi bernilai tambah, dan memastikan pemerataan pembangunan hingga daerah tertinggal.

Kesimpulannya, PDB tetap relevan sebagai indikator makro, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Kombinasi antara pertumbuhan ekonomi, pemerataan, dan dampak sosial yang terukur menjadi fondasi menuju masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User