Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per kuartal IV 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan tren kenaikan year-on-year sebesar 6,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam konteks itu, penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 menjadi salah satu katalis yang diproyeksikan mendorong kinerja ekonomi daerah, khususnya Nusa Tenggara Barat (NTB). PT Pertamina (Persero) sebagai mitra strategis ajang tersebut menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadirkan perhelatan balap dunia sekaligus memperluas manfaat ekonominya bagi pariwisata, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta masyarakat sekitar.
Fundamental Ekonomi di Balik Sirkuit Mandalika
Direktur Utama Pertamina menyatakan bahwa sinergi antara pemerintah daerah, penyelenggara, dan badan usaha milik negara (BUMN) menghadirkan efek berganda yang terukur. "Kolaborasi menjadi kekuatan untuk menghadirkan ajang balap dunia, serta memperluas manfaatnya bagi pariwisata, pelaku usaha, dan masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi. Pernyataan ini sejalan dengan data Kementerian Pariwisata yang mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke NTB mengalami kenaikan 12,3 persen pada 2025, dengan kontribusi terbesar datang dari wisatawan Australia, Malaysia, dan Singapura.
Dari sisi fundamental, penyelenggaraan MotoGP diperkirakan menyuntikkan belanja konsumsi tambahan sebesar Rp1,2 triliun hingga Rp1,8 triliun selama periode balapan. Angka ini mencakup pengeluaran akomodasi, transportasi, kuliner, dan belanja ritel. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) NTB juga tercatat menguat ke level 128,4 pada bulan penyelenggaraan tahun lalu, jauh di atas ambang optimistis 100. Likuiditas di sektor perbankan daerah turut meningkat, tercermin dari pertumbuhan kredit konsumtif sebesar 9,1 persen year-on-year.
Pro: Efek Berganda dan Sentimen Pasar Positif
Di satu sisi, kehadiran MotoGP memberi dorongan nyata bagi perekonomian lokal. Pelaku UMKM di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika melaporkan kenaikan omzet hingga 70 persen selama periode balapan. Sektor akomodasi mencatat tingkat okupansi hotel berbintang di Lombok menembus 92 persen, dengan tarif rata-rata naik 35 persen dibanding hari biasa. Sentimen pasar terhadap sektor pariwisata dan properti di NTB pun menguat, terlihat dari kenaikan indeks saham sektor pariwisata sebesar 4,7 persen dalam sepekan menjelang perhelatan.
Selain itu, investasi infrastruktur yang menyertai persiapan MotoGP — mulai dari perbaikan jalan, bandara, hingga jaringan digital — memberi manfaat jangka panjang. Proyeksi Bappenas menunjukkan multiplier effect sektor pariwisata di NTB mencapai 1,8 kali, artinya setiap rupiah belanja wisatawan menghasilkan tambahan output ekonomi hampir dua kali lipat. Rasio ini lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di kisaran 1,4 kali.
Kontra: Risiko Ketergantungan dan Beban Fiskal
Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan potensi ketergantungan pada event musiman. Ketika periode balapan berakhir, aktivitas ekonomi di kawasan sering mengalami penurunan tajam, menciptakan apa yang disebut "post-event slump". Data menunjukkan bahwa okupansi hotel di Lombok turun ke 58 persen pada bulan setelah MotoGP, atau turun 34 poin persentase dari puncak. Ini menandakan bahwa fundamental ekonomi daerah belum sepenuhnya mandiri dan masih rentan terhadap siklus event.
Dari perspektif fiskal, biaya penyelenggaraan dan dukungan infrastruktur menuntut alokasi anggaran yang besar. Belanja pemerintah daerah untuk mendukung event tahunan ini diperkirakan mencapai Rp450 miliar, sementara penerimaan langsung dari pajak dan retribusi hanya menutup sekitar 60 persen dari total biaya. Capital outflow juga menjadi perhatian, karena sebagian keuntungan dinikmati operator internasional dan penyedia jasa asing, sehingga net benefit bagi ekonomi lokal bisa lebih kecil dari angka bruto yang dipublikasikan.
Proyeksi dan Tantangan ke Depan
Ke depan, kunci keberlanjutan terletak pada kemampuan mengonversi lonjakan musiman menjadi pertumbuhan struktural. Diversifikasi atraksi wisata, pengembangan ekonomi kreatif, dan peningkatan kapasitas UMKM menjadi prasyarat agar manfaat MotoGP tidak bersifat sementara. Proyeksi Bank Indonesia menempatkan pertumbuhan ekonomi NTB pada kisaran 5,4 persen hingga 6,1 persen pada 2026, dengan asumsi event internasional tetap berjalan dan belanja wisatawan domestik terus menguat.
Namun, valuasi manfaat jangka panjang tetap bergantung pada tata kelola dan transparansi anggaran. Tanpa perencanaan yang matang, ajang prestisius ini berisiko menjadi beban fiskal tanpa fondasi ekonomi yang kokoh. Kolaborasi yang digaungkan Pertamina dan para pemangku kepentingan perlu diuji bukan hanya dari gemerlap sirkuit, tetapi dari kemampuan menjaga denyut ekonomi Mandalika sepanjang tahun.
Comments (0)