Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per kuartal pertama 2024, kunjungan wisatawan ke kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat, mengalami kenaikan signifikan menjelang penyelenggaraan MotoGP. Tren ini mendorong berbagai pihak untuk memperkuat fundamental ekonomi lokal, salah satunya melalui pengembangan akomodasi berbasis masyarakat. PT Pertamina (Persero) tercatat aktif mendukung peningkatan kapasitas homestay lokal melalui serangkaian pelatihan pengelolaan usaha, pendampingan manajerial, hingga program Desa Energi Berdikari yang menyasar kemandirian energi warga sekitar sirkuit.
Langkah ini menjadi menarik untuk dianalisis dari dua sisi. Di satu sisi, keterlibatan badan usaha milik negara dalam ekosistem pariwisata menunjukkan upaya hilirisasi manfaat ekonomi event internasional agar tidak hanya dinikmati pemain besar. Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai seberapa besar dampak riil program tersebut terhadap pendapatan rumah tangga dan keberlanjutannya pasca-MotoGP.
Pendorong Utama: Kapasitas Akomodasi dan Multiplier Effect
Secara makro, ajang MotoGP Mandalika menciptakan lonjakan permintaan atas kamar penginapan. Data OJK dan Bank Indonesia mencatat bahwa sektor akomodasi dan makanan-minuman di NTB mengalami pertumbuhan year-on-year yang positif dalam periode penyelenggaraan balapan. Namun, pasokan hotel berbintang terbatas, sehingga homestay menjadi penopang likuiditas kunjungan wisatawan. Di sinilah pelatihan pengelolaan homestay berperan: meningkatkan standar kebersihan, digitalisasi pemasaran, dan manajemen keuangan rumah tangga.
Menurut sejumlah pengamat ekonomi pariwisata, setiap rupiah belanja wisatawan yang berputar di homestay memiliki multiplier effect lebih tinggi dibanding belanja di jaringan hotel besar, karena rantai pasoknya lebih pendek dan pelakunya warga setempat. Program Desa Energi Berdikari juga dipandang relevan, sebab biaya energi merupakan komponen signifikan dalam struktur biaya operasional homestay. Dengan kemandirian energi, margin usaha kecil berpotensi membaik.
"Pendekatan pemberdayaan masyarakat sekitar destinasi merupakan kunci agar manfaat ekonomi event berskala internasional tidak bersifat sementara. Homestay adalah sektor dengan penyerapan tenaga kerja lokal tertinggi," ujar seorang ekonom pariwisata dalam sebuah diskusi industri.
Pro: Penguatan Fundamental Ekonomi Desa
Dari perspektif pro, inisiatif ini memperkuat fundamental ekonomi desa. Pelatihan pengelolaan mendorong formalisasi usaha mikro menjadi entitas yang bankable, sehingga akses kredit usaha rakyat menjadi lebih terbuka. Indeks kepuasan wisatawan terhadap homestay pun berpotensi naik, memperpanjang lama tinggal (length of stay) dan nilai belanja per kunjungan. Dalam jangka panjang, dampaknya adalah diversifikasi sumber pendapatan warga, tidak lagi bergantung pada sektor pertanian atau tangkapan ikan semata.
Selain itu, program energi terbarukan menurunkan ketergantungan pada pasokan listrik pusat, yang di daerah terpencil kerap tidak stabil. Stabilitas pasokan energi berarti homestay dapat beroperasi optimal saat puncak kunjungan, menjaga reputasi destinasi, dan menekan capital outflow karena belanja energi tidak lagi sepenuhnya keluar dari daerah.
Kontra: Tantangan Keberlanjutan dan Risiko Sentimen Pasar
Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan bahwa euforia MotoGP bersifat musiman. Tanpa strategi pasca-event, okupansi homestay berisiko menurun tajam, sehingga valuasi usaha dan proyeksi pendapatan warga bisa terkoreksi. Pelatihan yang bersifat ad hoc dinilai belum cukup membangun ekosistem pemasaran digital yang mandiri. Ada pula kekhawatiran bahwa program pendampingan berhenti ketika sorotan media mereda.
Dari kacamata portofolio investasi daerah, ketergantungan pada satu event besar menciptakan risiko konsentrasi. Jika terjadi gejolak sentimen pasar global atau penurunan minat wisatawan mancanegara, dampaknya terasa langsung pada pendapatan rumah tangga. Karena itu, beberapa pihak menyarankan agar pengembangan homestay disertai kalender event berkelanjutan, kemitraan dengan platform daring, serta monitoring indikator kinerja yang transparan.
Kesimpulannya, dukungan terhadap homestay Mandalika menyentuh titik penting dalam rantai nilai pariwisata. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak ditentukan oleh besarnya anggaran pelatihan, melainkan oleh kemampuan menjaga konsistensi kualitas, tata kelola, dan inovasi pasca-MotoGP. Tanpa itu, kenaikan yang tercatat hari ini berpotensi hanya menjadi tren sementara, bukan lompatan fundamental ekonomi lokal.
Comments (0)