Pertamina Dorong 38 UMKM Binaan Tembus Pasar Global di INACRAFT 2026

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per awal 2026, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja. Namun, tan...

Oct 09, 2026 - 19:40
0 0
Pertamina Dorong 38 UMKM Binaan Tembus Pasar Global di INACRAFT 2026

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per awal 2026, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja. Namun, tantangan terbesar yang masih dihadapi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah bukanlah produksi, melainkan akses pasar yang luas dan berkelanjutan. Dalam konteks itulah langkah Pertamina membawa 38 UMKM binaannya ke pameran INACRAFT 2026 di Jakarta menjadi relevan untuk dicermati secara ekonomi.

Pameran kriya dan kerajinan bertaraf internasional ini menjadi ajang yang strategis bagi UMKM untuk memperluas jaringan pelanggan, baik domestik maupun mancanegara. Keikutsertaan 38 UMKM tersebut bukan sekadar partisipasi seremonial, melainkan bagian dari strategi pembinaan berkelanjutan yang menyentuh aspek produksi, pengemasan, hingga pemasaran digital.

Mengapa Pameran Menjadi Katalis Pertumbuhan UMKM

Secara fundamental, pameran dagang menciptakan apa yang dalam teori ekonomi disebut sebagai market matching, yakni pertemuan langsung antara penjual dan pembeli yang menurunkan biaya transaksi dan mempercepat terjadinya kesepakatan dagang. Bagi UMKM yang memiliki keterbatasan jaringan, kehadiran di ajang seperti INACRAFT membuka peluang kontrak pembelian yang jauh lebih besar dibandingkan penjualan ritel harian.

Di satu sisi, keikutsertaan dalam pameran berskala internasional memberikan eksposur yang tidak bisa diperoleh melalui kanal digital semata. Pembeli dari luar negeri dapat menilai langsung kualitas produk, tekstur bahan, dan keunikan desain sebelum memutuskan pembelian dalam jumlah besar. Sentimen pasar terhadap produk kriya Indonesia sendiri masih positif, seiring meningkatnya tren produk berkelanjutan dan bernilai budaya tinggi di pasar global.

Di sisi lain, partisipasi dalam pameran tidak otomatis menjamin peningkatan pendapatan secara permanen. Banyak UMKM mengalami lonjakan pesanan sesaat, tetapi gagal mempertahankannya karena keterbatasan kapasitas produksi, modal kerja, dan standardisasi kualitas. Tanpa pendampingan lanjutan pasca-pameran, efek berganda yang diharapkan bisa menguap dalam hitungan bulan.

Dampak Ekonomi dan Indeks Kepercayaan Pelaku Usaha

Jika dilihat dari sisi makro, pembinaan UMKM melalui jalur pameran berpotensi mendorong kenaikan indeks kepercayaan pelaku usaha kecil. Data historis menunjukkan bahwa UMKM yang rutin mengikuti pameran memiliki peluang pertumbuhan omzet 20 hingga 35 persen year-on-year, jauh di atas rata-rata UMKM yang hanya mengandalkan penjualan konvensional.

Namun, angka tersebut perlu dibaca dengan hati-hati. Pertumbuhan omzet tidak selalu berkorelasi linear dengan kenaikan laba bersih, terutama jika biaya produksi dan logistik ikut membengkak. Rasio margin usaha menjadi indikator yang lebih jujur untuk mengukur keberhasilan sebuah program pembinaan.

"Pendampingan UMKM tidak boleh berhenti di panggung pameran. Yang menentukan keberlanjutan adalah bagaimana mereka mengelola arus kas, kapasitas produksi, dan akses pembiayaan setelah kontrak awal didapat," ujar seorang pengamat ekonomi koperasi dan UMKM.

Dari perspektif likuiditas, program semacam ini juga berperan menjaga denyut sektor riil di tengah ketidakpastian global. Ketika capital outflow menekan nilai tukar, sektor UMKM yang berorientasi ekspor dapat menjadi bantalan yang meredam gejolak eksternal.

Tantangan Keberlanjutan dan Proyeksi ke Depan

Proyeksi ke depan, keberhasilan program pembinaan UMKM akan sangat bergantung pada tiga hal: konsistensi pendampingan, akses pembiayaan berbunga rendah, serta integrasi ke rantai pasok yang lebih besar. Tanpa ketiganya, valuasi usaha UMKM sulit menanjak secara struktural.

Dari kacamata portofolio pembinaan, melibatkan 38 UMKM dalam satu ajang memang terlihat kecil dibandingkan total puluhan juta pelaku usaha di tanah air. Namun, efek demonstrasi atau demonstration effect dari UMKM yang berhasil menembus pasar internasional bisa mendorong pelaku lain untuk meniru dan meningkatkan standar kualitas mereka.

Kesimpulannya, langkah membawa UMKM binaan ke pameran internasional adalah fondasi yang baik, tetapi bukan tujuan akhir. Pertumbuhan ekonomi yang inklusif menuntut tindak lanjut berupa ekosistem yang utuh, mulai dari bahan baku, produksi, distribusi, hingga pembiayaan. Tanpa itu, tren positif hanya akan menjadi sentimen pasar sesaat, bukan fundamental yang kokoh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User