Oct 11, 2026
Bisnis

Percetakan Ditantang Beralih ke Signage Digital dan Videotron

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per akhir 2025, industri percetakan nasional mencatat pertumbuhan produksi sekitar 3,2 persen year-on-year, jauh melambat dibandingkan rata-rata pertumbuhan ...

Percetakan Ditantang Beralih ke Signage Digital dan Videotron

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per akhir 2025, industri percetakan nasional mencatat pertumbuhan produksi sekitar 3,2 persen year-on-year, jauh melambat dibandingkan rata-rata pertumbuhan sektor ekonomi kreatif yang menyentuh 5,6 persen. Perlambatan ini menjadi sinyal bahwa model bisnis cetak konvensional mulai kehilangan momentum, terutama di segmen iklan luar ruang yang perlahan digeser oleh kanal digital. Di tengah tren tersebut, sebuah penyedia solusi teknologi visual menawarkan jalur transformasi bagi pelaku usaha percetakan melalui ajang ALLPRINT Expo 2026, dengan mengangkat digital signage dan interactive flat panel sebagai alternatif bisnis baru.

Pergeseran Lanskap Industri Cetak dan Iklan

Data Asosiasi Pengusaha Percetakan Indonesia menunjukkan bahwa pangsa pasar cetak untuk kebutuhan promosi mengalami penurunan sekitar 7 persen dalam tiga tahun terakhir, dari Rp18,4 triliun pada 2023 menjadi sekitar Rp17,1 triliun pada 2025. Sebaliknya, belanja iklan digital nasional menurut laporan industri media tumbuh dari Rp34 triliun menjadi Rp41 triliun pada periode yang sama, atau naik sekitar 20,6 persen. Angka ini mencerminkan pergeseran preferensi pengiklan yang semakin mengarah ke medium yang dapat diperbarui secara real-time, terukur, dan fleksibel.

Di satu sisi, peralihan ke signage digital dan videotron membuka peluang margin lebih tinggi bagi pengusaha percetakan. Produk digital signage memiliki nilai tambah berupa layanan konten, pemeliharaan, dan pembaruan berkala yang menciptakan pendapatan berulang alias recurring revenue. Di sisi lain, lompatan ini menuntut investasi awal yang tidak kecil, mulai dari pengadaan panel LED, perangkat lunak manajemen konten, hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang teknologi dan instalasi kelistrikan.

"Transformasi ini bukan sekadar mengganti mesin, tetapi mengubah model bisnis dari produksi sekali jadi menjadi penyediaan layanan berkelanjutan," ujar seorang pelaku industri yang terlibat dalam pameran tersebut.

Peluang dan Tantangan Investasi Digital Signage

Secara fundamental, pasar digital signage domestik diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sekitar 11,8 persen hingga 2030, didorong kebutuhan ritel, perbankan, transportasi publik, dan pemerintahan daerah. Nilai pasar yang saat ini berada di kisaran Rp2,9 triliun diperkirakan menembus Rp5,7 triliun dalam lima tahun. Proyeksi ini menjadi magnet bagi pemain percetakan yang ingin mendiversifikasi portofolio usaha.

Namun, sentimen pasar tidak sepenuhnya positif. Beberapa analis mengingatkan bahwa penetrasi produk digital signage sangat bergantung pada likuiditas pelaku usaha kecil dan menengah. Dengan suku bunga acuan Bank Indonesia yang masih berada di level 5,75 persen per awal 2026, biaya pembiayaan investasi perangkat tetap menjadi pertimbangan berat. Rasio kredit bermasalah sektor usaha mikro juga tercatat naik tipis ke 4,1 persen, menandakan kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan modal kerja.

Dari kacamata valuasi usaha, bisnis percetakan konvensional masih menawarkan arus kas stabil dengan risiko rendah, sementara lini signage digital menjanjikan pertumbuhan lebih cepat tetapi dengan kurva pembelajaran yang curam. Kombinasi keduanya, menurut sejumlah pengamat, dapat menjadi strategi lindung nilai yang menarik: mempertahankan basis pelanggan cetak sembari membangun kapabilitas digital secara bertahap.

Prospek Adopsi dan Dinamika Competisi

Adopsi teknologi interactive flat panel di ruang publik dan korporat diprediksi menguat seiring normalisasi anggaran promosi pasca-pemulihan ekonomi. Survei internal pelaku usaha menunjukkan sekitar 43 persen pengusaha percetakan menyatakan minat mengeksplorasi lini digital dalam dua tahun ke depan, naik dari 29 persen pada 2023. Minat tertinggi datang dari wilayah Jabodetabek dan kota-kota besar di Jawa Timur.

Meski demikian, capital outflow di sektor teknologi perangkat masih menjadi risiko, karena sebagian komponen panel dan chipset masih diimpor. Fluktuasi nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp16.200 per dolar AS turut memengaruhi struktur biaya pengadaan. Pelaku usaha yang tidak mengelola eksposur valuta asing dengan baik berpotensi tergerus marginnya.

Pada akhirnya, transisi dari percetakan ke signage digital bukanlah pilihan biner, melainkan spektrum strategi. Pengusaha yang mampu membaca tren, mengelola likuiditas, dan membangun kemitraan teknologi berpeluang memperluas pangsa pasar. Sebaliknya, mereka yang bertahan pada satu model bisnis tanpa inovasi menghadapi risiko penurunan permintaan yang berkelanjutan. Panggung pameran seperti ALLPRINT Expo menjadi cermin bahwa batas antara industri cetak dan teknologi visual semakin tipis, dan siapa pun yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal dalam kompetisi yang semakin ketat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User