Oct 10, 2026
Bisnis

Paramita Bangun Sarana Rencanakan Stock Split 1:2, Saham Jadi Rp 25

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan di laman Bursa Efek Indonesia, emiten konstruksi PT Paramita Bangun Sarana Tbk (kode saham PBSA) mengumumkan rencana pemecahan nilai nominal saham...

Paramita Bangun Sarana Rencanakan Stock Split 1:2, Saham Jadi Rp 25

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan di laman Bursa Efek Indonesia, emiten konstruksi PT Paramita Bangun Sarana Tbk (kode saham PBSA) mengumumkan rencana pemecahan nilai nominal saham alias stock split dengan rasio 1:2. Artinya, setiap satu lembar saham lama akan dipecah menjadi dua lembar saham baru. Jika aksi korporasi ini terealisasi, total saham beredar perseroan akan mengalami kenaikan dari sekitar 3 miliar lembar menjadi 6 miliar lembar, sementara nilai nominal per saham turun menjadi sekitar Rp 25 dari sebelumnya Rp 50 per lembar.

Stock split adalah aksi korporasi yang memecah nilai nominal saham menjadi lebih kecil tanpa mengubah kapitalisasi pasar perusahaan secara fundamental. Analoginya, memotong satu kue menjadi dua potong tidak menambah ukuran kue itu sendiri. Yang berubah hanyalah jumlah kepingan dan harga per keping. Nilai ekuitas perseroan tetap sama, yang berubah hanya persepsi keterjangkauan harga saham di mata investor ritel.

Alasan di Balik Rencana Pemecahan Saham

Di satu sisi, manajemen beralasan bahwa harga saham PBSA saat ini dinilai sudah cukup tinggi sehingga kurang likuid untuk sebagian investor ritel. Dengan menurunkan harga per lembar mendekati level Rp 25, perseroan berharap dapat memperluas basis pemegang saham, meningkatkan frekuensi transaksi harian, dan memperbaiki likuiditas perdagangan di pasar reguler. Rasio likuiditas yang lebih baik umumnya berdampak positif terhadap valuasi karena saham lebih mudah masuk dan keluar dari portofolio investor tanpa menggerakkan harga secara ekstrem.

Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan bahwa stock split tidak menciptakan nilai ekonomi baru. Kapitalisasi pasar, rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio), dan laba per saham (earnings per share) secara proporsional akan mengalami penyesuaian. Artinya, jika fundamental perseroan tidak diikuti perbaikan kinerja keuangan, efek psikologis dari harga saham yang lebih murah hanya bersifat sementara. Sentimen pasar terhadap aksi korporasi semacam ini cenderung positif dalam jangka pendek, namun keberlanjutannya sangat bergantung pada proyeksi laba dan arus kas perseroan ke depan.

"Stock split kerap dianggap sebagai sinyal optimisme manajemen terhadap prospek pertumbuhan, tetapi investor tetap perlu mencermati kinerja operasional dan fundamental perusahaan, bukan hanya harga nominal yang terlihat lebih murah," ujar seorang analis pasar modal.

Dampak terhadap Likuiditas dan Basis Investor

Secara historis, emiten-emiten yang melakukan stock split dengan rasio agresif umumnya mengalami kenaikan volume transaksi dalam beberapa bulan setelah pelaksanaan. Penurunan harga per lembar membuat saham lebih terjangkau bagi investor ritel dengan modal terbatas, sehingga jumlah pemegang saham dapat bertambah. Peningkatan jumlah investor ini berpotensi memperbaiki likuiditas, yang pada akhirnya dapat menurunkan biaya transaksi dan memperkecil spread bid-ask.

Namun, likuiditas yang meningkat tidak otomatis berarti capital inflow berkelanjutan. Jika kondisi makro ekonomi sedang tidak kondusif, misalnya tekanan inflasi atau ketidakpastian suku bunga acuan Bank Indonesia, aliran dana asing bisa berbalik menjadi capital outflow. Dalam skenario seperti itu, saham dengan kapitalisasi kecil hingga menengah seperti PBSA lebih rentan terhadap volatilitas harga dibandingkan saham lapis satu.

Pertimbangan Fundamental dan Proyeksi Ke Depan

Dari kacamata fundamental, sektor konstruksi di dalam negeri masih menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga material, kompetisi tender proyek, serta siklus pencairan anggaran pemerintah yang kerap tidak merata sepanjang tahun. Kinerja PBSA akan sangat ditentukan oleh kemampuan perseroan menjaga margin laba, mengelola utang, dan memenangkan proyek-proyek strategis, termasuk di sektor infrastruktur dan properti.

Investor disarankan memperhatikan beberapa indikator kunci, seperti rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio), arus kas operasi, dan tingkat pengembalian ekuitas (return on equity). Stock split hanya mengubah struktur nominal saham, bukan profil risiko perseroan. Karena itu, keputusan investasi semestinya didasarkan pada valuasi yang komprehensif dan proyeksi kinerja jangka panjang, bukan semata-mata pada harga saham yang terlihat lebih murah pasca-pemecahan.

Dengan rencana ini, PBSA menempatkan diri dalam tren aksi korporasi yang mulai kembali marak di bursa domestik. Apakah langkah ini berhasil meningkatkan likuiditas dan menarik minat investor baru, sepenuhnya bergantung pada eksekusi strategi bisnis dan stabilitas sentimen pasar ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User