Oct 10, 2026
Bisnis

Penjualan Tiket MotoGP Mandalika Tembus 90 Persen, Sektor Wisata Terdongkrak

Berdasarkan data terbaru dari penyelenggara dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) per awal 2026, tingkat penjualan tiket MotoGP Mandalika telah mencapai 90 persen dari total kapasitas yang d...

Penjualan Tiket MotoGP Mandalika Tembus 90 Persen, Sektor Wisata Terdongkrak

Berdasarkan data terbaru dari penyelenggara dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) per awal 2026, tingkat penjualan tiket MotoGP Mandalika telah mencapai 90 persen dari total kapasitas yang disediakan. Angka ini menandai lonjakan signifikan dibandingkan periode yang sama pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, di mana penjualan tiket baru menyentuh kisaran 75 persen pada hitungan hari yang sama. Capaian tersebut menjadi indikator awal bahwa sentimen pasar terhadap event balap internasional di Sirkuit Pertamina Mandalika, Nusa Tenggara Barat, masih berada dalam tren positif.

Menteri BUMN melalui pernyataan resminya menyebut bahwa momentum ini harus dimanfaatkan sebagai katalis untuk mendorong industri pariwisata di kawasan Mandalika dan sekitarnya. Pemerintah menargetkan dampak berganda (multiplier effect) yang lebih besar dibanding edisi sebelumnya, khususnya pada sektor akomodasi, kuliner, transportasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. "Kami mendorong agar event ini tidak berhenti sebagai pertunjukan balap semata, tetapi menjadi penggerak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat NTB," ujar pejabat BUMN dalam keterangan tertulisnya.

Pro: Dorongan Likuiditas dan Okupansi Kawasan

Di satu sisi, tingkat keterisian tiket yang tinggi memberikan sinyal positif bagi pelaku usaha di sekitar sirkuit. Data sementara menunjukkan okupansi hotel di kawasan Mandalika dan Mataram mengalami kenaikan year-on-year sekitar 35 persen menjelang hari balapan. Rata-rata harga kamar (average room rate) juga tercatat naik antara 40 hingga 60 persen dibandingkan periode normal tanpa event. Dari sisi likuiditas, perputaran uang di kawasan diperkirakan menembus angka Rp1,2 triliun selama pekan penyelenggaraan, mencakup belanja penonton, konsumsi logistik, dan aktivitas ekonomi informal.

Ekonom menilai, keberhasilan penjualan tiket ini juga memperkuat valuasi destinasi Mandalika di mata investor, terutama pada sektor properti dan infrastruktur penunjang. "Ketika permintaan tiket tinggi, itu menjadi proxy bagi kepercayaan pasar terhadap daya tarik destinasi. Efeknya bisa merembet ke proyeksi investasi jangka menengah," jelas seorang analis pariwisata. Pemerintah pun berencana menjadikan ajang ini sebagai panggung promosi berkelanjutan untuk menarik wisatawan mancanegara, seiring dengan peningkatan konektivitas penerbangan langsung ke Lombok.

Kontra: Risiko Capital Outflow dan Beban Infrastruktur

Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa tingginya penjualan tiket tidak otomatis menjamin keberlanjutan manfaat ekonomi. Risiko capital outflow menjadi perhatian, karena sebagian besar pendapatan dari hak siar, sponsor internasional, dan operator event berpotensi mengalir ke luar negeri, bukan terserap sepenuhnya oleh pelaku lokal. Selain itu, beban infrastruktur seperti kemacetan, pengelolaan limbah, dan konsumsi air bersih di kawasan menjadi tantangan yang kerap terabaikan pasca-event.

Dari perspektif fiskal, biaya penyelenggaraan dan subsidi pemerintah untuk perhelatan ini perlu dihitung secara transparan. Tanpa rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang jelas, event besar berisiko menjadi beban anggaran tanpa dampak struktural. "Kita perlu membedakan antara euforia sesaat dan fundamental ekonomi. Tiket terjual 90 persen itu bagus, tetapi pertanyaannya: berapa yang benar-benar mengendap di ekonomi lokal?" kata seorang ekonom pembangunan. Ia menambahkan bahwa tanpa strategi pasca-event yang matang, tren kunjungan bisa menurun tajam setelah balapan usai.

Proyeksi dan Tantangan Keberlanjutan

Merujuk data historis, penyelenggaraan MotoGP di Mandalika pada edisi-edisi sebelumnya selalu mencatatkan lonjakan kunjungan wisatawan pada bulan penyelenggaraan, diikuti penurunan pada bulan-bulan berikutnya. Pola ini menunjukkan bahwa dampak ekonomi bersifat musiman. Untuk mengubahnya menjadi tren jangka panjang, diperlukan diversifikasi atraksi wisata, penguatan kapasitas UMKM, serta integrasi dengan destinasi lain seperti Labuan Bajo dan Bali.

Dari sisi pasar, animo penonton domestik tetap menjadi tulang punggung penjualan tiket, dengan kontribusi mencapai sekitar 70 persen. Sementara penonton mancanegara menyumbang sisanya, yang nilainya sangat sensitif terhadap nilai tukar rupiah dan sentimen pasar global. Apabila rupiah mengalami pelemahan, daya tarik harga tiket dan paket wisata bagi turis asing bisa tergerus, sehingga proyeksi kunjungan perlu disesuaikan.

Secara keseluruhan, capaian 90 persen penjualan tiket merupakan sinyal awal yang menggembirakan, tetapi bukan jaminan akhir. Keberhasilan sejati akan diukur dari seberapa besar manfaat ekonomi yang mengendap di masyarakat, seberapa efisien pengelolaan sumber daya, dan seberapa kuat fondasi industri pariwisata Mandalika setelah lampu hijau balapan padam. Pemerintah dan penyelenggara dituntut tidak hanya mengejar angka penjualan, melainkan membangun ekosistem yang berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User