Penguasaan Teknologi Jadi Keharusan Pengusaha Modern

Di tengah arus disrupsi digital yang semakin deras, figur legendaris dunia bisnis Indonesia, Chairul Tanjung, kembali menyuarakan urgensi adaptasi teknologi bagi para pelaku usaha. Dalam sebuah forum ...

Penguasaan Teknologi Jadi Keharusan Pengusaha Modern

Di tengah arus disrupsi digital yang semakin deras, figur legendaris dunia bisnis Indonesia, Chairul Tanjung, kembali menyuarakan urgensi adaptasi teknologi bagi para pelaku usaha. Dalam sebuah forum ekonomi terkemuka di Yogyakarta, pendiri CT Corp itu secara gamblang menempatkan penguasaan teknologi—khususnya di ranah perdagangan elektronik—sebagai fondasi tak terelakkan bagi setiap pengusaha yang ingin tetap relevan. Bukan lagi sekadar nilai tambah, literasi digital kini telah bertransformasi menjadi prasyarat mutlak untuk bertahan dan memenangkan persaingan pasar yang kian ketat.

Pernyataan tersebut hadir di saat yang tepat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa kontribusi sektor ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional telah menembus angka 8,1 persen pada triwulan pertama 2025, melonjak signifikan dibandingkan 5,7 persen pada periode yang sama dua tahun sebelumnya. Sementara itu, Bank Indonesia melaporkan nilai transaksi uang elektronik dan perdagangan daring sepanjang tahun lalu mencapai lebih dari Rp 850 triliun. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal tegas bahwa pusat gravitasi ekonomi telah bergeser dari model konvensional menuju ekosistem digital yang saling terhubung.

Transformasi Digital sebagai Keniscayaan

Mengapa teknologi menjadi begitu krusial? Di satu sisi, penetrasi internet yang kini sudah menjangkau lebih dari 79 persen populasi—berdasarkan Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) terbaru—telah melahirkan konsumen dengan perilaku yang sama sekali baru. Mereka menginginkan kecepatan, kemudahan, dan personalisasi yang hanya bisa dihadirkan oleh platform digital. Di sisi lain, biaya adopsi teknologi justru semakin terjangkau. Kehadiran layanan komputasi awan, kecerdasan buatan generatif, dan beragam perangkat lunak sebagai layanan memungkinkan pengusaha skala mikro, kecil, dan menengah untuk mengakses alat bisnis canggih tanpa harus berinvestasi besar di infrastruktur fisik.

Chairul Tanjung dengan tajam menyoroti fenomena ini. "Di masa lalu, pengusaha sukses cukup mengandalkan jejaring dan insting pasar. Sekarang, tanpa pemahaman tentang algoritma platform marketplace atau analitik media sosial, sebuah bisnis akan kehilangan separuh peluangnya, bahkan sebelum sempat memulai," ujarnya, menuai anggukan dari ribuan peserta yang hadir. Ia menegaskan, penguasaan teknologi tidak berarti harus menjadi seorang programmer, melainkan mampu membaca data, memahami pola konsumen digital, dan secara strategis memanfaatkan kanal penjualan daring.

E-commerce: Tulang Punggung Bisnis Masa Kini

Dari sekian banyak pilar ekonomi digital, e-commerce menjadi sorotan utama. Laporan e-Conomy SEA 2024 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company mengungkapkan bahwa nilai transaksi bruto e-commerce Indonesia diproyeksikan menyentuh angka US$82 miliar pada akhir tahun 2025, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara. Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi agresif platform seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada, serta makin maraknya model penjualan langsung melalui media sosial (social commerce) dan siaran langsung (live streaming shopping).

Namun, di balik kilaunya, terdapat sisi lain yang perlu dicermati. Meskipun volume transaksi digital melonjak, survei Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menunjukkan bahwa baru sekitar 14,2 juta dari total 65,5 juta pelaku UMKM yang telah benar-benar terdigitalisasi dan memanfaatkan kanal dagang elektronik secara aktif. Artinya, sekitar 78 persen pengusaha kecil masih bergulat dengan model bisnis tradisional, sehingga potensi pasar digital yang bernilai ratusan triliun rupiah belum sepenuhnya tergarap. Kesenjangan ini menimbulkan risiko polarisasi: sekelompok kecil pengusaha yang melek digital akan melesat jauh meninggalkan mereka yang gagap teknologi.

Chairul Tanjung mencontohkan, sejumlah unit bisnis di bawah CT Corp sukses melakukan transformasi digital dengan mengintegrasikan sistem pembayaran nontunai, logistik berbasis kecerdasan buatan, serta pemasaran berbasis data. “Kami tidak lagi bisa berpikir linear. Biaya akuisisi pelanggan secara digital bisa sepersepuluh dari cara konvensional, tetapi aspek kepercayaan (trust) harus dibangun dengan transparansi dan reputasi yang solid,” tuturnya. Ia memperingatkan, mengabaikan aspek fundamental seperti keamanan siber dan perlindungan data konsumen justru bisa menjadi bumerang yang menghancurkan bisnis dalam semalam.

Tantangan dan Peluang di Era Digital

Meski urgensi penguasaan teknologi sudah jelas, tidak sedikit pengusaha yang masih ragu melangkah. Biaya pelatihan sumber daya manusia, kompleksitas integrasi sistem, hingga ancaman keamanan siber sering kali menjadi alasan untuk menunda adopsi digital. Di sinilah peran kolaborasi multipihak menjadi krusial. Pemerintah melalui program Literasi Digital Nasional dan berbagai insentif perpajakan untuk investasi teknologi terus berupaya menjembatani kesenjangan tersebut, sementara pelaku fintech dan perbankan kian agresif menyediakan pembiayaan inklusif bagi UMKM yang hendak go-digital.

Ke depan, lanskap bisnis hanya akan menyisakan dua pilihan: bertransformasi atau tertinggal. Para pengusaha yang mampu memadukan intuisi dagang warisan lama dengan kecakapan digital akan muncul sebagai pemenang. Pasar Indonesia yang masih sangat besar—dengan jumlah penduduk usia produktif mencapai 190 juta jiwa—menawarkan ruang pertumbuhan yang luar biasa, asalkan diimbangi dengan kecepatan adaptasi. Pesan Chairul Tanjung menjadi pengingat sekaligus pemantik: jangan sampai pengusaha lokal hanya menjadi penonton di negeri sendiri, sementara pemain global dan platform asing mengeruk seluruh potensi ekonomi digital yang terbentang luas.

Ditopang oleh fundamental demografi yang solid dan percepatan infrastruktur telekomunikasi, Indonesia sesungguhnya berada di jalur yang tepat untuk menjadi kekuatan digital dunia. Namun, kemajuan itu hanya akan terwujud jika para pengusaha—sebagai tulang punggung ekonomi—tidak lagi memandang teknologi sebagai beban, melainkan sebagai katalis pertumbuhan yang wajib dikuasai. Seperti halnya mesin uap mendefinisikan revolusi industri pertama, maka kecerdasan buatan dan ekosistem digital kini mendefinisikan era bisnis mutakhir: siapa yang paling cepat beradaptasi, dialah yang akan memimpin.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User