Oct 11, 2026
Bisnis

Pemerintah Pacu Ekonomi Desil Bawah, Ini Strategi dan Tantangannya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, kelompok desil bawah atau 40 persen rumah tangga dengan pengeluaran terendah masih menyumbang porsi terbatas terhadap total konsumsi nasion...

Pemerintah Pacu Ekonomi Desil Bawah, Ini Strategi dan Tantangannya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, kelompok desil bawah atau 40 persen rumah tangga dengan pengeluaran terendah masih menyumbang porsi terbatas terhadap total konsumsi nasional. Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan tengah mendorong penguatan daya beli kelompok ini sebagai salah satu motor pertumbuhan. Wakil Menteri Koordinator Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengungkapkan bahwa sasaran kebijakan kini diarahkan tidak hanya ke kelompok desil bawah, tetapi juga lapisan menengah yang rentan turun kelas.

Dorongan terhadap Kelompok Desil Bawah dan Menengah

Menurut Dradjad, penguatan ekonomi masyarakat lapisan bawah menjadi prioritas karena kelompok ini memiliki kecenderungan belanja (marginal propensity to consume) yang tinggi. Artinya, setiap tambahan rupiah yang mereka terima cenderung langsung dibelanjakan, sehingga berdampak cepat pada konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB).

Di satu sisi, pendekatan ini dinilai tepat karena konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2024 masih tumbuh sekitar 4,9 persen year-on-year, namun melambat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Stimulus ke kelompok bawah diyakini mampu menjaga tren tersebut. Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa tanpa perbaikan struktur upah dan lapangan kerja formal, bantuan bersifat sementara hanya akan menciptakan kenaikan konsumsi jangka pendek, bukan peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Pro dan Kontra Strategi Penguatan Daya Beli

Pro: Kebijakan yang menyasar desil bawah berpotensi menurunkan rasio gini yang per Maret 2024 berada di kisaran 0,379. Program seperti bantuan sosial, subsidi pangan, dan perluasan kredit usaha mikro dinilai mampu menjaga likuiditas di lapisan terbawah. Ketika likuiditas terjaga, aktivitas ekonomi di pasar tradisional dan sektor informal ikut bergerak.

Kontra: Kritik muncul terkait efektivitas jangka panjang. Beberapa analis menilai fokus pada transfer dan subsidi berisiko memperbesar beban fiskal, terutama saat rasio utang terhadap PDB mendekati 39 persen. Selain itu, tanpa penciptaan lapangan kerja formal yang memadai, kelompok menengah berpotensi mengalami penurunan kelas (middle-income trap) sehingga beban anggaran justru melebar.

"Penguatan ekonomi desil bawah bukan sekadar bantuan, tetapi bagaimana menciptakan akses produktif agar mereka naik kelas," ujar Dradjad dalam sebuah forum ekonomi.

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Dari kacamata pasar, sentimen terhadap kebijakan ini relatif terbelah. Pelaku pasar menyoroti pentingnya disiplin fiskal agar tidak memicu capital outflow. Di sisi lain, stabilitas daya beli kelompok bawah dapat menjaga valuasi sektor konsumsi di bursa, yang selama ini menjadi salah satu portofolio favorit investor domestik.

Secara fundamental, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2024 berada di kisaran 5,0-5,2 persen. Untuk mencapai angka itu, konsumsi rumah tangga perlu tumbuh stabil. Pemerintah disebut tengah menyiapkan sejumlah instrumen, mulai dari perluasan program perlindungan sosial adaptif hingga penguatan kredit usaha rakyat dengan plafon yang lebih terjangkau.

Namun, tantangan struktural tetap membayangi. Data menunjukkan sekitar 60 persen pekerja masih berada di sektor informal dengan produktivitas rendah. Tanpa transformasi di sektor ini, upaya mendorong desil bawah berisiko berhenti pada level bantuan, bukan pemberdayaan. Ke depan, kombinasi antara stimulus jangka pendek dan reformasi struktural akan menjadi penentu apakah tren penguatan ekonomi masyarakat lapisan bawah benar-benar berkelanjutan atau hanya bersifat siklus.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User