Paspor Kini Bisa Diurus Saat CFD, Warga Jakarta Antusias
Aktivitas bebas kendaraan di kawasan Sudirman-Thamrin tak lagi sekadar ruang olahraga. Kini, warga bisa memanfaatkan momen Car Free Day (CFD) untuk mengurus paspor. Sebuah booth layanan khusus dari Ka...
Aktivitas bebas kendaraan di kawasan Sudirman-Thamrin tak lagi sekadar ruang olahraga. Kini, warga bisa memanfaatkan momen Car Free Day (CFD) untuk mengurus paspor. Sebuah booth layanan khusus dari Kantor Imigrasi Jakarta Selatan hadir setiap Minggu pagi, menawarkan kemudahan bagi mereka yang selama ini kesulitan menyempatkan waktu ke kantor imigrasi di hari kerja.
Konsep layanan publik yang menjemput bola di ruang terbuka ini mendapat sambutan luar biasa. Sejak dibuka pada awal Januari 2025, jumlah pemohon rata-rata mencapai 250 orang per hari pelayanan, dengan antrean sudah terbentuk sejak pukul 05.30 WIB—jauh sebelum booth resmi beroperasi pada pukul 06.00. Fenomena ini menandakan tingginya kebutuhan akan solusi administrasi yang lebih fleksibel dan terintegrasi dengan gaya hidup perkotaan.
From Cuti ke CFD: Momentum Tepat
Inisiatif ini lahir dari kolaborasi antara Kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Selatan dengan Dinas Perhubungan DKI. Menurut Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian, Ahmad Rizal, ide tersebut berawal dari data bahwa 40 persen pemohon paspor di wilayahnya adalah pekerja swasta berusia 25-40 tahun yang kerap mengeluhkan jam layanan konvensional. "Banyak yang terpaksa ambil cuti atau bahkan menunda rencana perjalanan karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Kami berpikir, kenapa tidak hadir di tempat yang sudah menjadi bagian dari rutinitas akhir pekan mereka?" ungkapnya saat ditemui di sela pelayanan, Minggu (16/2).
Pilihan lokasi di area CFD Sudirman bukan tanpa alasan. Kawasan itu menjadi titik kumpul puluhan ribu warga setiap Minggu pagi dengan beragam latar belakang—mulai dari keluarga muda, komunitas hobi, hingga pekerja lepas. Dengan menghadirkan gerai paspor di sana, Imigrasi tak hanya memangkas jarak, tetapi juga hambatan psikologis bahwa mengurus dokumen adalah proses rumit yang menguras waktu.
Berkas Lengkap, 20 Menit Beres
Prosedur di booth CFD sejatinya tak berbeda dengan di kantor induk. Pemohon wajib membawa KTP elektronik, kartu keluarga, dan paspor lama (jika ada). Petugas kemudian melakukan verifikasi dokumen, pengambilan foto, serta sidik jari dan pemindaian retina di bilik portabel yang tersambung langsung ke sistem pusat. Jika data terverifikasi tanpa kendala, seluruh proses selesai dalam 15-20 menit. Paspor yang sudah jadi akan dikirim ke alamat pemohon melalui jasa kurir berbayar, sehingga mereka tak perlu kembali lagi.
"Baru kali ini saya urus paspor tanpa stres," cerita Dina (34), seorang analis keuangan yang sudah tiga bulan menunda perpanjangan paspor karena padatnya jadwal meeting. "Biasanya harus antre dari subuh, belum lagi was-was kalau kuota habis. Sekarang saya jogging dulu 30 menit, mampir ke booth, pas jam 7 lewat sedikit semua sudah beres. Sistemnya efisien, petugasnya juga ramah."
Adapun kuota harian dibatasi 300 pemohon untuk menjaga kualitas pelayanan. Pendaftaran dapat dilakukan secara daring melalui aplikasi M-Paspor seminggu sebelumnya, ataupun langsung di lokasi jika masih tersisa slot. Namun, petugas menyarankan pendaftaran daring karena kuota di CFD sering habis dalam hitungan menit setelah dibuka setiap Senin malam.
Menjawab Disrupsi Mobilitas Warga
Di tengah tren pemulihan perjalanan internasional, kebutuhan paspor melonjak signifikan. Data Ditjen Imigrasi mencatat pada 2024 lalu, permohonan paspor baru dan perpanjangan mencapai 4,2 juta, naik 28 persen dibanding tahun sebelumnya. Lonjakan itu menekan kapasitas kantor-kantor imigrasi konvensional, terutama di kota besar. Kehadiran layanan di CFD menjadi salah satu katup pengaman—model layanan pop-up yang dapat direplikasi di titik keramaian lain, seperti mal atau terminal transportasi.
Namun, bukan berarti tanpa tantangan. Kepala Subbagian Tata Usaha Imigrasi Jakarta Selatan, Maya Kusuma, mengakui koneksi internet sempat terkendala saat hujan deras mengguyur area CFD. "Kami menyiasatinya dengan menggandakan perangkat modem dan menyediakan genset portabel. Ketika cuaca benar-benar buruk, kami mengalihkan antrean ke tenda tertutup yang didirikan sejak awal tahun," jelasnya. Selain itu, petugas juga membawa cadangan tinta printer dan lembar formulir fisik untuk mengantisipasi kegagalan sistem.
Perluasan ke CFD Lain dan Jam Malam
Melihat respons positif, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta berencana membuka gerai serupa di tiga titik CFD lain mulai April 2025: Bintaro, Kemang, dan Kelapa Gading. Bahkan, opsi layanan malam hari di pusat perbelanjaan sedang dijajaki. "Kami ingin menjangkau pekerja shift dan pelaku UMKM yang aktivitasnya tidak bisa ditinggal pada jam kerja konvensional," terang Kepala Kantor Wilayah, Budi Prasetyo, dalam keterangan resmi.
Inisiatif ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat agar pelayanan publik bertransformasi dari sekadar kewajiban administratif menjadi pengalaman yang memberdayakan. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya reformasi birokrasi tematik, yaitu pemangkasan proses bisnis yang tidak diperlukan dan pemanfaatan teknologi agar layanan lebih lincah.
Meski demikian, beberapa kalangan mengingatkan agar ekspansi tetap menjaga aspek keamanan data dan keabsahan dokumen. "Model pop-up service rentan terhadap pemalsuan jika tidak diiringi pengawasan ketat. Namun, dengan integrasi biometrik real-time ke database pusat, risiko itu dapat diminimalkan," komentar pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Ratna Dewi. Ia menambahkan bahwa tingkat keberhasilan layanan publik bukan hanya diukur dari jumlah pemohon yang terlayani, melainkan juga dari seberapa kecil celah penyimpangan yang terjadi.
Booth paspor di CFD Sudirman akan terus beroperasi setiap Minggu, kecuali pada hari libur nasional yang bertepatan dengan akhir pekan. Bagi warga yang berminat, disarankan untuk memantau akun Instagram resmi @imigrasijaksel untuk informasi kuota dan pembaruan jadwal. Inovasi sederhana ini menjadi bukti bahwa birokrasi bisa hadir tanpa sekat—menyatu dalam denyut kota, sembari tetap menjaga prosedur yang ketat dan profesional.
Baca juga:
Comments (0)