Angola Resmi Adopsi Yuan sebagai Cadangan, Pukulan bagi Dominasi Dolar

Langkah mengejutkan datang dari kawasan Afrika bagian selatan. Angola, salah satu produsen minyak mentah terbesar di benua itu, secara resmi menetapkan yuan China sebagai bagian dari portofolio mata u...

Angola Resmi Adopsi Yuan sebagai Cadangan, Pukulan bagi Dominasi Dolar

Langkah mengejutkan datang dari kawasan Afrika bagian selatan. Angola, salah satu produsen minyak mentah terbesar di benua itu, secara resmi menetapkan yuan China sebagai bagian dari portofolio mata uang cadangan negaranya. Keputusan ini menandai babak baru dalam upaya negara-negara berkembang mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat, sebuah fenomena yang kian menguat dan dikenal dengan istilah dedolarisasi.

Pergeseran Peta Mata Uang Global

Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF) per akhir 2024, porsi dolar AS dalam cadangan devisa global memang masih dominan di kisaran 58 persen. Namun, angka tersebut menunjukkan tren penurunan year-on-year sebesar hampir 1,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, yuan China perlahan merangkak naik, kini menyumbang sekitar 3,2 persen dari total cadangan devisa global yang dialokasikan. Meski secara nominal masih kecil, laju pertumbuhannya mencapai lebih dari 12 persen secara tahunan—yang tertinggi di antara mata uang utama lainnya.

Di satu sisi, diversifikasi ini wajar dilakukan oleh bank sentral di berbagai negara sebagai bagian dari manajemen risiko portofolio. Konsentrasi pada satu mata uang tunggal—dolar—membuat neraca keuangan suatu negara rentan terhadap guncangan eksternal, seperti kebijakan moneter agresif The Fed atau sanksi ekonomi sepihak. Di sisi lain, pengakuan yuan sebagai cadangan oleh Angola memiliki bobot geopolitik yang tak bisa diabaikan. Angola selama puluhan tahun menjadi sekutu strategis China di Afrika, terutama melalui skema pinjaman berbasis minyak atau oil-backed loans.

Angola dan China: Lebih dari Sekadar Dagang

Hubungan ekonomi Angola-China tidak bisa dipahami hanya dari lensa ekspor-impor konvensional. Sejak berakhirnya perang saudara pada 2002, China hadir sebagai rekonstruktor utama negeri itu. Menurut data yang dihimpun dari berbagai lembaga riset, total pinjaman China ke Angola dalam dua dekade terakhir diperkirakan menembus 42 miliar dolar AS. Sebagian besar dikucurkan melalui China Exim Bank, dengan mekanisme pembayaran menggunakan komoditas, terutama minyak mentah. Angola sendiri merupakan pemasok minyak terbesar kedua ke China dari benua Afrika, mengirimkan rata-rata 1,1 juta barel per hari pada puncaknya.

Dengan struktur transaksi semacam itu, penetapan yuan sebagai cadangan menjadi langkah yang rasional. Angola tidak ingin terus-menerus terpapar risiko nilai tukar dolar saat harus membayar kembali pinjaman atau menerima investasi baru. Dengan menyimpan yuan, biaya konversi mata uang bisa ditekan, dan volatilitas arus kas negara bisa lebih terkelola. Ini juga sekaligus menjadi sinyal kepercayaan terhadap stabilitas dan likuiditas yuan, kendati mata uang tersebut masih dikelola ketat oleh bank sentral China.

Pro dan Kontra Dedolarisasi

Dari perspektif fundamental, dedolarisasi memiliki argumen yang cukup solid. Negara-negara berkembang kerap menjadi korban dari apa yang disebut sebagai original sin dalam keuangan internasional, yaitu situasi di mana mereka meminjam dalam mata uang yang tidak mereka kontrol. Ketika dolar menguat, beban utang mereka membengkak dalam mata uang lokal, menekan fiskal dan memicu inflasi. Dengan menggunakan alternatif seperti yuan dalam cadangan dan penyelesaian perdagangan, risiko ini bisa dimitigasi.

Namun, perspektif kontra juga perlu dicermati. Yuan belum sepenuhnya menjadi mata uang yang dapat dikonversi secara bebas. Pemerintah China masih menerapkan kontrol modal yang ketat, dan pasar obligasi domestik mereka, walau sudah dibuka lebih lebar, belum memiliki kedalaman dan transparansi setara pasar Treasury AS. Valuasi yuan juga kerap diintervensi demi menjaga daya saing ekspor. Bagi Angola, risiko ini bisa berarti likuiditas yang terbatas saat dibutuhkan dalam situasi darurat, berbeda dengan dolar yang hampir selalu tersedia di pasar global kapan pun.

Selain itu, sentimen pasar terhadap yuan masih berfluktuasi. Deflasi yang melanda China dalam beberapa kuartal terakhir, serta krisis di sektor properti, membuat proyeksi nilai yuan dalam jangka menengah cenderung bearish. Sejumlah analis memperkirakan potensi depresiasi lanjutan jika Beijing memangkas suku bunga lebih agresif untuk mendorong konsumsi. Ini bisa menggerus nilai riil cadangan Angola dari waktu ke waktu.

Efek Domino di Afrika dan Negara Berkembang

Keputusan Angola bukanlah yang pertama. Brasil, Rusia, India, hingga Arab Saudi sebelumnya sudah mulai mengakomodasi yuan dalam kerangka perdagangan bilateral mereka. Namun, langkah Angola membawa bobot simbolis sekaligus praktis yang besar. Afrika selama ini menjadi medan persaingan ekonomi antara Barat dan China. Dengan Angola menempatkan yuan dalam posisi strategis di neraca bank sentralnya, negara-negara Afrika lain yang memiliki pola hubungan serupa—seperti Nigeria, Sudan, atau Republik Kongo—bisa mengikuti jejak tersebut.

Dampaknya terhadap arus modal juga menarik dicermati. Jika lebih banyak negara mulai mengurangi porsi dolar, permintaan terhadap obligasi pemerintah AS bisa terpengaruh. Saat ini, negara asing memegang sekitar 7,6 triliun dolar AS dalam surat utang AS. Capital outflow dari pasar Treasury bisa mendorong kenaikan imbal hasil atau yield, yang pada gilirannya mempengaruhi biaya pinjaman global, termasuk bagi negara-negara berkembang itu sendiri. Ini adalah paradoks yang jarang dibahas dalam narasi dedolarisasi: sistem keuangan global begitu saling terhubung sehingga melepaskan diri dari dolar tidak semudah membalik telapak tangan.

Meski demikian, tren ke arah multipolaritas mata uang tampaknya tidak terbendung. Angola, dengan cadangan minyak terbukti sekitar 2,5 miliar barel, memilih memainkan kartu diversifikasi dengan memperkuat aliansi moneternya bersama Beijing. Apakah ini langkah visioner atau justru pertaruhan yang terlalu dini, hanya waktu yang bisa menjawab. Yang pasti, dominasi dolar yang telah berlangsung puluhan tahun kini mendapat tantangan yang semakin nyata dari selatan dunia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User