Proyek SPEED Andalan Turunkan AKI di Bawah 77 pada 2029
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara resmi memulai babak baru dalam upaya menekan rasio kematian ibu dengan meluncurkan proyek strategis bernama SPEED. Inisiatif ini menyasar penguatan kemampuan te...
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara resmi memulai babak baru dalam upaya menekan rasio kematian ibu dengan meluncurkan proyek strategis bernama SPEED. Inisiatif ini menyasar penguatan kemampuan teknis dan klinis para bidan sebagai ujung tombak layanan maternal. Target yang dicanangkan terbilang ambisius: membawa angka kematian ibu (AKI) ke bawah level 77 per 100.000 kelahiran hidup pada 2029, atau turun lebih dari separuh dari kondisi saat ini jika mengacu pada akuisisi data terbaru. Langkah ini sekaligus menjadi batu loncatan untuk mengejar target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang mematok AKI maksimal 70 per 100.000 kelahiran pada 2030.
Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) yang dirilis BPS pada 2022, AKI nasional masih berkisar di angka 189 per 100.000 kelahiran hidup. Meski terjadi perbaikan dibanding satu dekade sebelumnya — saat AKI menyentuh 228 pada 2012 — laju penurunan hanya bergerak di rentang 1,7% secara tahunan. Jika tren ini dipertahankan tanpa akselerasi, Indonesia diproyeksikan baru mencapai angka 77 pada 2038, terpaut sembilan tahun dari tenggat yang diinginkan. Celah inilah yang coba diselesaikan SPEED dengan memanfaatkan momentum bonus demografi dan peningkatan alokasi belanja kesehatan.
Potret Terkini dan Harga Ekonomi Kematian Ibu
Di satu sisi, penurunan AKI dari 228 ke 189 menunjukkan bahwa intervensi selama ini — seperti Jaminan Persalinan (Jampersal) dan perluasan BPJS Kesehatan — telah memberi fondasi. Namun di sisi lain, enam dari sepuluh kematian ibu terjadi pada periode sekitar persalinan, yang mengindikasikan defisit kompetensi dalam mengenali tanda bahaya dan melakukan tata laksana darurat. Jika dihitung dengan pendekatan ekonomi kesehatan, setiap kematian ibu merugikan produk domestik bruto setara 17,5 kali pendapatan per kapita akibat hilangnya tahun produktif, biaya perawatan keluarga, dan efek antar-generasi. Dengan estimasi sekitar 9.500 kematian ibu per tahun, beban ekonomi bisa menembus Rp 78 triliun secara kumulatif — setara dengan 1,2% dari total belanja negara 2023. Angka ini menggarisbawahi bahwa investasi pada kompetensi bidan bukan semata urusan sosial, melainkan juga bagian dari pengelolaan risiko fiskal jangka panjang.
Arsitektur SPEED: Kompetensi Bidan sebagai Katalis
Proyek SPEED dirancang dengan tiga pilar utama: pelatihan berbasis simulasi kegawatdaruratan obstetri, pendampingan lapangan oleh mentor klinis, serta integrasi sistem informasi untuk memantau kinerja bidan secara waktu nyata. Modul pelatihan menyasar deteksi dini preeklamsia, resusitasi neonatus, dan teknik komunikasi efektif dengan pasien — area yang selama ini menjadi titik buta dalam kurikulum standar. Data dari Kemenkes menyebut, saat ini dari sekitar 378 ribu bidan yang terdaftar, hanya 42% yang telah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan maternal dalam tiga tahun terakhir. Proyek ini menargetkan peningkatan angka tersebut menjadi 85% pada 2028, dengan alokasi awal senilai Rp 3,2 triliun dari APBN dan dana hibah multilateral. Jika skema ini berjalan mulus, simulasi ekonometrik memperkirakan AKI bisa ditekan hingga 72 pada akhir 2029, melampaui target konservatif 77.
Dua Sisi Proyeksi: Antara Janji dan Hambatan Struktural
Para pendukung SPEED menunjuk pada pengalaman Sri Lanka, yang berhasil memangkas AKI dari 340 menjadi 33,8 dalam kurun 30 tahun melalui perluasan akses bidan terampil dan sistem rujukan berjenjang. Mereka berargumen bahwa dengan belanja pelatihan per bidan yang hanya sekitar Rp 8 juta per tahun, biaya ini jauh lebih rendah dibandingkan kerugian ekonomi akibat satu kematian ibu yang mencapai Rp 820 juta. Selain itu, multiplier effect berupa penurunan angka kematian neonatal hingga 18% ikut memperkuat justifikasi investasi.
“Meningkatkan keterampilan bidan memang merupakan intervensi dengan efektivitas biaya tertinggi untuk menurunkan kematian ibu. Namun ini mensyaratkan lingkungan kerja yang mendukung, termasuk suplai alat kesehatan dan insentif retensi di daerah terpencil,” ujar seorang pengamat ekonomi kesehatan dari Lembaga Demografi UI.
Di sisi lain, skeptisisme tetap muncul mengingat problem geometri geografis Indonesia. Lebih dari 60% bidan terkonsentrasi di Jawa-Bali, sementara AKI tertinggi justru tercatat di Papua, NTT, dan Maluku — di atas 300 per 100.000 kelahiran. Tanpa distribusi ulang tenaga dan pembangunan infrastruktur jalan yang memadai, keahlian bidan baru akan sia-sia karena pasien tidak mampu mencapai fasilitas rujukan dalam golden hour. Risiko lainnya adalah sustainability: belanja pelatihan yang bergantung pada hibah asing rentan terhambat jika terjadi perubahan prioritas politik atau kondisi fiskal global. Terakhir, pengalaman program serupa di masa lalu kerap terjebak pada fenomena “training for training” tanpa diikuti perubahan nyata pada outcome pasien, karena lemahnya sistem reward untuk bidan yang mempertahankan kompetensinya.
Mengawal SPEED hingga 2029 memerlukan bukan sekadar monitoring realisasi anggaran, melainkan audit klinis berkala dan survei indikator dampak seperti proporsi persalinan yang ditolong oleh bidan kompeten. Hanya dengan begitu, proyek ini mampu menjadi preseden bahwa pengelolaan sumber daya manusia kesehatan yang berbasis pada nilailah, alih-alih volume semata, yang bisa mengubah kurva kematian ibu secara fundamental.
Baca juga:
Comments (0)