Oct 09, 2026
Bisnis

OJK Sinyalkan Konversi Bank Syariah, Maybank Indonesia Masuk Radar

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2024, industri perbankan syariah nasional masih mencatatkan pangsa pasar yang relatif kecil, yakni berkisar 7,5% hingga 8% dari total aset perba...

OJK Sinyalkan Konversi Bank Syariah, Maybank Indonesia Masuk Radar

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2024, industri perbankan syariah nasional masih mencatatkan pangsa pasar yang relatif kecil, yakni berkisar 7,5% hingga 8% dari total aset perbankan nasional. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang pangsa perbankan syariahnya telah menembus 30%. Namun, sebuah sinyal baru dari regulator berpotensi mengubah lanskap tersebut: OJK mengungkap adanya satu bank konvensional yang berencana melakukan konversi menjadi Bank Umum Syariah (BUS), dan nama Maybank Indonesia (BNII) disebut-sebut sebagai kandidat terkuat.

Konversi Bank Syariah: Apa dan Mengapa Penting?

Konversi bank konvensional menjadi bank syariah adalah proses perubahan status badan hukum dan operasional dari sistem berbasis bunga menjadi sistem bagi hasil yang sesuai prinsip syariah. Proses ini bukan sekadar pergantian label, melainkan mencakup penyesuaian produk, akad, tata kelola, hingga pemisahan (spin-off) unit usaha syariah yang telah ada. Bagi industri, langkah ini berpotensi mengerek likuiditas dan memperkuat fundamental perbankan syariah yang selama ini dianggap belum mencapai skala ekonomi ideal.

Jika benar terealisasi, bank hasil konversi ini berpotensi menjadi bank umum syariah terbesar kedua di Indonesia dari sisi aset, menggeser posisi beberapa pemain existing. Saat ini, Bank Syariah Indonesia (BSI) masih mendominasi dengan total aset di atas Rp350 triliun, sementara bank syariah lain berada jauh di bawahnya.

Pro: Penguatan Ekosistem dan Efisiensi Modal

Di satu sisi, langkah konversi ini dipandang positif oleh sejumlah analis. Pertama, penambahan pemain besar akan meningkatkan skala ekonomi industri syariah, menurunkan biaya operasional per unit produk, dan memperkuat daya saing di segmen pembiayaan korporasi. Kedua, bank konvensional yang memiliki unit usaha syariah dengan aset signifikan didorong oleh regulasi OJK untuk melakukan spin-off, sehingga konversi total bisa menjadi jalan keluar yang lebih efisien dibandingkan mempertahankan dua entitas terpisah.

"Konversi bank besar menjadi syariah dapat menjadi katalis pertumbuhan industri halal dan memperluas basis investor domestik maupun Timur Tengah," ujar seorang pengamat perbankan syariah dalam sebuah diskusi industri.

Ketiga, dari perspektif pasar modal, aksi korporasi ini berpotensi meningkatkan valuasi dan menarik capital inflow dari investor yang fokus pada instrumen keuangan syariah, terutama dari kawasan Gulf Cooperation Council (GCC).

Kontra: Tantangan Fundamental dan Sentimen Pasar

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa konversi bukan tanpa risiko. Pertama, proses migrasi sistem dan portofolio nasabah membutuhkan biaya besar serta waktu yang tidak singkat, berpotensi menekan rasio efisiensi (BOPO) dalam jangka pendek. Kedua, tidak semua nasabah korporasi konvensional siap berpindah ke skema syariah, sehingga berisiko terjadi capital outflow jika layanan dinilai kurang kompetitif.

Ketiga, dari sisi fundamental, bank syariah masih menghadapi keterbatasan instrumen likuiditas dan pasar uang syariah yang belum sedalam pasar konvensional. Ini bisa menjadi kendala dalam pengelolaan likuiditas harian, terutama bagi bank dengan eksposur besar pada pembiayaan jangka panjang.

Keempat, sentimen pasar terhadap saham bank yang akan dikonversi cenderung fluktuatif pada tahap awal pengumuman. Pelaku pasar biasanya menunggu kejelasan proyeksi laba (earnings guidance) dan dampaknya terhadap indeks sektor keuangan.

Proyeksi dan Tren ke Depan

Berdasarkan proyeksi OJK, pertumbuhan aset perbankan syariah tahun 2025 diperkirakan berada di kisaran 10% hingga 12% year-on-year, sedikit di atas proyeksi pertumbuhan perbankan konvensional. Namun, tanpa tambahan pemain besar, pangsa pasar syariah sulit menembus dua digit dalam waktu dekat. Konversi satu bank menengah-besar bisa menjadi game changer, namun eksekusinya bergantung pada kesiapan teknologi, sumber daya manusia, dan dukungan regulator.

Jika Maybank Indonesia benar mengambil jalur ini, lanskap perbankan nasional akan mengalami perubahan struktural. Namun, publik perlu mencermati apakah langkah tersebut murni didorong oleh strategi bisnis jangka panjang atau sekadar respons terhadap tekanan regulasi. Yang jelas, tren konsolidasi dan spesialisasi perbankan syariah sedang berlangsung, dan tahun 2025 bisa menjadi titik balik bagi industri keuangan syariah Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User