Museum Peradaban Islam Segera Hadir di Kawasan Masjid At-Thohir Depok

Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporyata) menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pembangunan Museum Pe

Museum Peradaban Islam Segera Hadir di Kawasan Masjid At-Thohir Depok

Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporyata) menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pembangunan Museum Peradaban Islam di lingkungan Masjid Jami’ At-Thohir. Proyek yang digagas oleh keluarga besar H. M. Thohir ini akan menjadi etalase sejarah dan budaya Islam serta mendongkrak potensi wisata religi di Kota Depok.

Dukungan Penuh Pemkot Depok

Kepala Disporyata Kota Depok, Eko Herwiyanto, mengungkapkan bahwa pihaknya siap memfasilitasi pengembangan kawasan tersebut, termasuk memastikan aksesibilitas jalan menuju lokasi. Dalam rapat koordinasi awal, ia menegaskan bahwa museum ini selaras dengan visi Depok sebagai kota ramah wisata berbasis nilai-nilai keislaman.

Kami akan membuka akses selebar-lebarnya. Museum Peradaban Islam bukan hanya milik umat Muslim, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan bagi semua lapisan masyarakat. Kami juga akan mendorong integrasi museum ke dalam paket wisata tematik kota,
ujar Eko.

Disporyata akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk memperlebar jalan masuk serta menyediakan rambu-rambu penunjuk yang memadai. Selain itu, pembangunan halte transportasi umum dan area parkir representatif juga masuk dalam rencana pendukung.

Masjid At-Thohir: Ikon Baru Wisata Religi Depok

Masjid Jami’ At-Thohir yang berdiri megah di Jalan Raya Bogor, Kecamatan Cilodong, sejak diresmikan pada 2020 telah menjadi magnet bagi jamaah dari berbagai daerah. Arsitekturnya yang memadukan gaya Utsmaniyah dan Nusantara, ditambah ornamen kaligrafi menawan, membuat masjid yang dibangun oleh keluarga H. M. Thohir (ayah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno) ini kerap dikunjungi wisatawan religi.

Museum Peradaban Islam nantinya akan dibangun di lahan seluas kurang lebih 2.000 meter persegi yang terintegrasi langsung dengan kompleks masjid. Konsep ini diadopsi dari sejumlah destinasi serupa di Timur Tengah dan Eropa yang menyatukan fungsi ibadah, edukasi, dan rekreasi dalam satu kawasan.

Kami ingin menghadirkan pengalaman yang utuh—ibadah yang khusyuk di masjid, lalu menelusuri jejak peradaban Islam di museum yang modern. Ini adalah bentuk syiar yang inklusif,
kata perwakilan keluarga Thohir, yang enggan disebutkan namanya.

Konsep dan Koleksi Museum

Berdasarkan masterplan yang telah diajukan, museum akan dibagi ke dalam tiga zona utama:

  • Zona Sejarah dan Wahyu: menampilkan perjalanan Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW, termasuk replika artefak bersejarah dan manuskrip kuno.
  • Zona Sains dan Teknologi Islam: memamerkan kontribusi ilmuwan Muslim dalam matematika, astronomi, kedokteran, dan arsitektur, dilengkapi dengan instalasi interaktif dan augmented reality.
  • Zona Nusantara: menggali jejak Islam di Indonesia, mulai dari Wali Songo, kesultanan, hingga pesantren sebagai pusat pendidikan. Pengunjung dapat melihat koleksi mushaf Al-Qur’an kuno, batik bernuansa Islami, dan keris dengan ukiran ayat suci.

Kepala Disporyata menambahkan, museum akan menjadi rujukan riset bagi pelajar dan mahasiswa. “Kita berharap museum ini tidak sekadar menjadi gudang benda mati, tetapi ruang dialog antargenerasi tentang kejayaan Islam,” katanya.

Dampak Ekonomi dan Pariwisata Lokal

Kehadiran Museum Peradaban Islam diyakini akan mendongkrak kunjungan wisatawan ke Depok secara signifikan. Saat ini, Masjid At-Thohir pada akhir pekan dikunjungi rata-rata 3.000 orang. Dengan adanya museum, angka itu diproyeksikan naik dua kali lipat.

Warga sekitar pun menyambut antusias. Siti Nurhasanah, seorang pengusaha kuliner di sekitar masjid, mengaku siap menambah modal untuk membuka kafe literasi dan toko suvenir Islami. “Kalau museum sudah jadi, kami pasti kebanjiran pengunjung. Ini kesempatan besar buat UMKM lokal,” ujarnya penuh semangat.

Secara makro, proyek ini juga akan menyerap tenaga kerja konstruksi selama pembangunan dan tenaga operasional saat museum beroperasi penuh. Disporyata menargetkan pembukaan tahap pertama pada akhir 2026, bersamaan dengan perhelatan Depok Islamic Fest.

Respons Publik dan Harapan ke Depan

Di media sosial, rencana pembangunan museum menjadi perbincangan hangat. Sebagian besar warga Depok mengapresiasi langkah ini sebagai salah satu wujud penguatan identitas kota yang religius. Namun, beberapa pihak mengingatkan agar pengelolaan museum dilakukan secara profesional dan transparan, tidak hanya menjadi monumen elit.

Menanggapi hal tersebut, Disporyata berjanji akan membentuk tim kurator yang melibatkan para ahli sejarah Islam dari universitas terkemuka serta tokoh masyarakat. “Kami ingin museum ini inklusif, representatif, dan bebas dari kepentingan sesaat,” pungkas Eko.

Dengan dukungan penuh pemerintah dan masyarakat, Museum Peradaban Islam di kawasan Masjid At-Thohir digadang-gadang menjadi model wisata religi yang memadukan spiritualitas, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi. Warga Depok dan sekitarnya patut menanti kehadiran ikon baru ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User