Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per kuartal I 2026, penyelenggaraan MotoGP Mandalika tercatat sebagai salah satu event olahraga dengan dampak ekonomi terbesar di Indonesia, menyaingi dampak Asian Games 2018 dalam hal rasio pengeluaran wisatawan per kunjungan. PT Pertamina (Persero) melalui jajaran direksinya menyatakan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi fundamental utama dalam menghadirkan ajang balap dunia tersebut, sekaligus memperluas manfaat ekonominya bagi pariwisata, pelaku usaha mikro, dan masyarakat Nusa Tenggara Barat secara umum.
Dampak Makro: Multiplier Effect dan Proyeksi Penerimaan Daerah
Di satu sisi, penyelenggaraan MotoGP Mandalika menghadirkan multiplier effect yang signifikan. Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia per Februari 2026, setiap Rp1 triliun belanja event berpotensi menciptakan Rp2,3 triliun aktivitas ekonomi turunan, mulai dari sektor akomodasi, transportasi, kuliner, hingga UMKM suvenir. Okupansi hotel di kawasan Mandalika dilaporkan mengalami kenaikan hingga 92 persen pada periode race week, naik dari 78 persen pada tahun pembanding 2025. Sektor penerbangan domestik ke Lombok juga mencatat kenaikan year-on-year sebesar 34 persen pada Maret 2026.
Dari sisi penerimaan negara, kontribusi pajak daerah dan retribusi dari event ini diproyeksikan mencapai Rp420 miliar, dengan tambahan devisa dari wisatawan mancanegara yang diperkirakan menembus USD 85 juta. Indeks keyakinan pelaku usaha di NTB juga bergerak naik ke level 128,4, tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Pro: Kolaborasi sebagai Katalis Likuiditas Sektor Riil
Kolaborasi antara Pertamina, pihak penyelenggara, pemerintah daerah, dan pelaku usaha dinilai mampu menjaga likuiditas sektor riil di kawasan Mandalika. Menurut Direktur Utama Pertamina, sinergi tersebut bukan sekadar soal penyelenggaraan balapan, melainkan bagian dari strategi memperkuat fundamental ekonomi daerah melalui transfer pengetahuan, standardisasi layanan, dan pembinaan UMKM.
"Kolaborasi ini menjadi kekuatan untuk menghadirkan ajang balap dunia, sekaligus memastikan manfaatnya menjangkau pariwisata, pelaku usaha, dan masyarakat luas," ujar Direktur Utama Pertamina dalam keterangan resminya.
Argumen pro ini diperkuat oleh data OJK per Februari 2026 yang menunjukkan pertumbuhan kredit sektor pariwisata di NTB sebesar 11,7 persen year-on-year, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional 8,9 persen. Artinya, sentimen pasar terhadap ekonomi lokal cukup kuat dan terkonfirmasi oleh ekspansi pembiayaan perbankan.
Kontra: Risiko Capital Outflow dan Beban Fiskal Pascaevent
Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa dampak positif event berskala besar bersifat temporer. Tren peningkatan kunjungan biasanya mengalami penurunan tajam dalam 3-6 bulan pascaevent. Risiko capital outflow dari operator asing yang menarik keuntungan ke luar negeri juga perlu dihitung, karena sebagian besar rantai pasok premium masih dikuasai vendor internasional.
Selain itu, beban fiskal untuk pemeliharaan sirkuit dan infrastruktur pendukung diperkirakan mencapai Rp180 miliar per tahun. Jika tidak diimbangi dengan kalender event berkelanjutan, rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) bisa turun di bawah 1,2, yang berarti valuasi investasi publik tidak efisien. Kekhawatiran lain adalah ketergantungan anggaran daerah terhadap event sesaat, sementara fundamental ekonomi seperti kualitas SDM dan konektivitas digital masih tertinggal.
Portofolio Kebijakan dan Arah ke Depan
Dengan mempertimbangkan dua perspektif tersebut, kunci keberlanjutan terletak pada kemampuan menjaga tren pascaevent melalui diversifikasi portofolio wisata, penguatan UMKM lokal dalam rantai pasok, serta pengelolaan likuiditas dan indeks kepercayaan investor secara konsisten. Pemerintah dan Pertamina diharapkan tidak berhenti pada euforia race week, melainkan membangun kerangka ekonomi jangka panjang yang mampu menyerap guncangan sentimen pasar dan menjaga fundamental NTB tetap solid hingga 2027 dan seterusnya.
Comments (0)