Oct 11, 2026
Bisnis

Menyoroti Peluang dan Hambatan Energi Terbarukan Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per akhir 2024, bauran energi baru dan terbarukan (EBT) dalam portofolio energi nasional masih berada di kisaran 13,1 persen, jauh di...

Menyoroti Peluang dan Hambatan Energi Terbarukan Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per akhir 2024, bauran energi baru dan terbarukan (EBT) dalam portofolio energi nasional masih berada di kisaran 13,1 persen, jauh di bawah target pemerintah sebesar 23 persen pada 2025. Angka ini menjadi cermin bahwa transisi energi di Indonesia belum berjalan sesuai proyeksi awal. Di satu sisi, potensi sumber daya alam Tanah Air sangat melimpah; di sisi lain, realisasi pemanfaatannya masih menghadapi sejumlah hambatan struktural yang tidak sederhana.

Potensi Besar yang Belum Tergarap Optimal

Indonesia memiliki potensi teknis EBT yang luar biasa besar, mencapai lebih dari 3.600 gigawatt (GW) dari berbagai sumber seperti surya, air, angin, bioenergi, dan panas bumi. Namun, kapasitas terpasang hingga kini baru sekitar 13 GW atau tidak sampai satu persen dari total potensi tersebut. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa sumber daya alam bukanlah kendala utama. Persoalannya lebih terletak pada aspek fundamental, seperti keterbatasan infrastruktur transmisi, kerangka regulasi yang belum sepenuhnya kondusif, serta struktur pembiayaan yang belum menarik bagi investor jangka panjang.

Energi surya, misalnya, memiliki potensi terbesar mencapai ribuan GW, tetapi pemanfaatannya masih sangat kecil. Padahal, biaya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) secara global terus mengalami penurunan signifikan, bahkan menjadi salah satu sumber energi termurah. Di sisi lain, energi panas bumi yang menjadi andalan Indonesia justru menghadapi risiko pengeboran tinggi dengan waktu pengembalian modal yang panjang. Ini menciptakan dilema antara urgensi transisi dan kenyamanan investasi jangka pendek.

Sentimen Pasar dan Tantangan Pembiayaan

Dari kacamata pasar, minat investor terhadap sektor EBT sebenarnya terus tumbuh. Namun, capital outflow dari pasar keuangan global yang dipicu kebijakan suku bunga tinggi negara maju telah mempersempit ruang likuiditas, termasuk untuk proyek-proyek hijau. Rasio utang terhadap ekuitas dalam pembiayaan proyek EBT di Indonesia masih dianggap kurang kompetitif dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Hal ini diperparah oleh valuasi proyek yang sering kali tidak mencerminkan risiko riil di lapangan, sehingga membuat investor ragu.

Pro: Pemerintah telah menerbitkan berbagai insentif fiskal dan non-fiskal untuk mendorong EBT, termasuk Peraturan Presiden dan skema tarif yang lebih menarik. Adanya komitmen internasional seperti Just Energy Transition Partnership (JETP) senilai USD 20 miliar juga menjadi angin segar. Kontra: Implementasi di lapangan sering terkendala birokrasi daerah, tumpang tindih lahan, dan resistensi dari pemangku kepentingan yang masih bergantung pada energi fosil. Selain itu, subsidi energi fosil yang masih besar membuat harga EBT sulit bersaing secara artifisial.

Proyeksi dan Langkah Strategis ke Depan

Tanpa perbaikan fundamental yang menyeluruh, proyeksi pencapaian bauran EBT 23 persen pada 2025 berpotensi meleset. Pemerintah perlu mempercepat penyusunan peta jalan transisi energi yang terintegrasi, memperkuat kapasitas jaringan listrik, dan menciptakan instrumen pembiayaan inovatif seperti obligasi hijau dan blended finance. Di sisi lain, edukasi publik mengenai manfaat jangka panjang EBT juga krusial agar transisi ini tidak hanya menjadi agenda elit, tetapi menjadi gerakan bersama.

Secara keseluruhan, pengembangan EBT di Indonesia berada di persimpangan antara peluang besar dan tantangan nyata. Indeks kesiapan energi terbarukan yang dirilis berbagai lembaga internasional masih menempatkan Indonesia di posisi menengah, dengan catatan perbaikan pada aspek regulasi dan investasi. Dengan fundamental yang tepat, sentimen pasar yang positif, dan komitmen politik yang kuat, bukan tidak mungkin tren ini akan berbalik menjadi akselerasi. Namun, tanpa itu semua, potensi besar yang dimiliki hanya akan menjadi angka statistik tanpa wujud nyata bagi ketahanan energi nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User