Menkop: Kebersamaan Jadi Kunci Relevansi Koperasi di Era Perubahan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, perekonomian nasional tercatat tumbuh 5,03 persen year-on-year, melanjutkan tren pertumbuhan di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terak...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, perekonomian nasional tercatat tumbuh 5,03 persen year-on-year, melanjutkan tren pertumbuhan di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik angka makro yang stabil itu, struktur ekonomi tengah mengalami pergeseran: digitalisasi berjalan cepat, konsentrasi modal menguat pada korporasi besar, dan tekanan suku bunga global masih membayangi ketahanan usaha kecil. Pada momen inilah Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan bahwa model usaha berbasis keanggotaan memiliki tempat yang kian penting. Ia menyampaikan pandangan itu di ajang Koperasi Awards, seraya menekankan bahwa bangunan usaha yang bertumpu pada kebersamaan dan gotong royong tidak akan kehilangan relevansinya di tengah perubahan ekonomi.
Kebersamaan sebagai Fondasi yang Tak Lekang Waktu
Logika di balik pernyataan Ferry cukup sederhana. Koperasi tidak dibangun dari akumulasi modal individual, melainkan dari partisipasi anggota yang menyetorkan simpanan, memanfaatkan layanan, dan berbagi hasil secara kolektif. Ketika siklus ekonomi mengalami kenaikan dan penurunan, struktur semacam ini terbukti relatif stabil karena risiko tersebar di antara banyak anggota, bukan ditanggung segelintir pemilik modal. Sejarah menunjukkan, pada masa krisis koperasi kerap mengalami kenaikan peran karena konsumsi dan produksi bersama mampu menahan laju penurunan daya beli masyarakat.
Catatan Kementerian Koperasi menyebutkan terdapat lebih dari 127 ribu koperasi aktif di Indonesia dengan keanggotaan melampaui 25 juta orang. Dalam skala global, menurut International Co-operative Alliance, koperasi menaungi lebih dari satu miliar anggota, sementara 300 koperasi terbesar dunia mencatat omzet gabungan di atas US$2 triliun. Angka-angka itu membantah anggapan bahwa koperasi adalah institusi masa lalu; yang menentukan justru kesehatan tata kelola dan tingkat partisipasi anggotanya.
Di Satu Sisi: Stabilitas, Likuiditas, dan Daya Tahan Komunitas
Dari sisi positif, koperasi menawarkan stabilitas yang tidak dimiliki banyak instrumen pasar. Simpanan anggota menjadi sumber likuiditas murah yang relatif tidak bergantung pada fluktuasi sentimen pasar. Ketika capital outflow menekan pasar keuangan domestik, koperasi cenderung kebal karena dana yang dikelolanya bersumber dari dalam komunitas itu sendiri. Bagi pelaku usaha mikro, koperasi simpan pinjam membantu menjaga arus kas saat pendapatan menurun, sehingga mereka tidak harus berpaling pada pinjaman berbunga tinggi.
Dukungan regulasi juga menguat. UU No. 1 Tahun 2023 tentang Perkoperasian mempertegas kedudukan koperasi sebagai badan hukum sekaligus memperkuat aspek pengawasan dan kelembagaan. Di sisi lain, gelombang digitalisasi mulai menyentuh sektor ini; koperasi yang masuk ke ekosistem digital mengalami kenaikan efisiensi operasional dan jangkauan layanan. Sejumlah proyeksi menunjukkan transaksi koperasi digital tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan koperasi konvensional, membuka ruang bagi model usaha berbasis komunitas untuk bersaing di era ekonomi digital.
Di Sisi Lain: Skala Kecil, Tata Kelola, dan Ancaman Arus Dana
Namun, relevansi konseptual tidak otomatis berbanding lurus dengan kinerja di lapangan. Di sisi lain, sebagian besar koperasi di Indonesia masih berukuran mikro dengan aset terbatas. Rasio aset per anggota rendah, sementara kualitas portofolio pinjaman sering kali belum terukur dengan baik. Akibatnya, kontribusi koperasi terhadap produk domestik bruto diperkirakan baru berada di kisaran 1,5 persen, jauh dari potensi yang dimiliki. Banyak pula koperasi yang berstatus tidak aktif atau mengalami penurunan kualitas layanan karena lemahnya pengelolaan.
Persoalan tata kelola menjadi pekerjaan rumah terbesar. Konflik kepentingan, lemahnya pengawasan internal, dan praktik moral hazard masih kerap ditemukan di sejumlah koperasi. Belum lagi persaingan dengan platform fintech dan bank digital yang menawarkan kemudahan serta imbal hasil lebih menarik. Jika koperasi tidak mampu bersaing dari sisi efisiensi, bukan mustahil dana anggota justru mengalami arus keluar ke instrumen lain, semacam capital outflow dalam skala kecil yang menggerus basis simpanan koperasi. Kepercayaan yang hilang jauh lebih mahal untuk dipulihkan daripada modal yang hilang.
Proyeksi: Relevansi Harus Dibuktikan dengan Kinerja
Ke depan, proyeksi terhadap masa depan koperasi tetap menjanjikan, tetapi dengan syarat. Fundamental kebersamaan dan gotong royong memberi koperasi keunggulan yang tidak mudah ditiru korporasi: loyalitas anggota dan biaya transaksi yang rendah. Namun valuasi atas peran koperasi di mata publik baru akan naik jika diukur dengan indeks kinerja yang jelas, seperti pertumbuhan aset, perbaikan rasio keuangan, dan perluasan keanggotaan. Pemerintah sendiri menargetkan koperasi mengambil porsi lebih besar dalam perekonomian nasional, seiring penguatan sektor usaha kecil dan menengah.
Dengan demikian, pernyataan Ferry di Koperasi Awards bukan sekadar retorika. Relevansi koperasi akan ditentukan oleh kemampuan beradaptasi: mengadopsi teknologi, merapikan tata kelola, dan memperbesar skala. Selama ketiganya berjalan, kebersamaan dan gotong royong yang menjadi fondasi koperasi tetap menjadi jawaban atas perubahan ekonomi. Sebaliknya, bila stagnan, ruangnya akan tergerus lembaga keuangan yang lebih efisien. Ekonomi Indonesia, pada akhirnya, membutuhkan keduanya: efisiensi pasar dan daya tahan komunitas.
Comments (0)