Oct 19, 2026
Bisnis

Mandalika Pacu Sport Tourism Usai Cetak Rekor 157.875 Penonton

Berdasarkan data penyelenggara dan otoritas kawasan ekonomi khusus per akhir pekan lalu, gelaran MotoGP di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, mencatatkan 157.875 penonton selama tiga hari rangkai...

Mandalika Pacu Sport Tourism Usai Cetak Rekor 157.875 Penonton

Berdasarkan data penyelenggara dan otoritas kawasan ekonomi khusus per akhir pekan lalu, gelaran MotoGP di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, mencatatkan 157.875 penonton selama tiga hari rangkaian acara. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan balapan kelas dunia di kawasan tersebut, sekaligus menandai tren pemulihan kunjungan wisatawan olahraga atau sport tourism di Indonesia pascapandemi.

Lonjakan ini tidak terjadi dalam ruang kosong. Pemerintah melalui holding badan usaha milik negara sektor pariwisata dan infrastruktur menyatakan komitmen untuk menjadikan Mandalika sebagai episentrum sport tourism berkelanjutan. Strategi yang diusung bukan sekadar mendatangkan penonton dalam jumlah besar, melainkan mengonversi arus kunjungan tersebut menjadi dampak ekonomi yang merata bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar sirkuit.

Fundamental Ekonomi di Balik Rekor Penonton

Secara fundamental, kehadiran 157.875 penonton memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor akomodasi, kuliner, transportasi, dan ritel lokal. Berdasarkan proyeksi otoritas kawasan, setiap penonton yang datang dari luar daerah rata-rata membelanjakan dana untuk penginapan, konsumsi, dan transportasi selama dua hingga tiga hari. Dengan asumsi tingkat belanja moderat, nilai perputaran uang di kawasan dapat menembus ratusan miliar rupiah dalam satu pekan penyelenggaraan.

Bagi pelaku UMKM, momentum ini menjadi ujian sekaligus peluang. Di satu sisi, permintaan yang melonjak menuntut kesiapan kapasitas produksi, kualitas produk, dan manajemen stok. Di sisi lain, keterlibatan UMKM dalam rantai pasok acara berskala internasional membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk peluang ekspor produk kerajinan dan kuliner khas Lombok ke jaringan pembeli global yang hadir selama perhelatan.

Indeks kunjungan wisatawan ke NTB pada periode yang sama juga menunjukkan arah positif. Tingkat hunian hotel (occupancy rate) di kawasan Mataram dan Kuta Mandalika dilaporkan mendekati kapasitas penuh, sementara permintaan transportasi daring dan penyewaan kendaraan mengalami kenaikan signifikan. Ini mengindikasikan likuiditas ekonomi lokal yang bergerak, bukan hanya sentimen pasar sesaat.

Pro: Momentum Konsolidasi Sport Tourism

Dari kacamata pro, pencapaian rekor ini memperkuat posisi Indonesia dalam peta sport tourism regional. Penyelenggaraan event kelas dunia secara konsisten memberikan valuasi positif bagi citra destinasi, yang pada akhirnya menarik investasi sektor hospitality dan infrastruktur pendukung. Keberhasilan menjaga standar operasional, keamanan, dan kenyamanan penonton menjadi modal reputasi yang sulit diukur secara nominal namun berdampak jangka panjang.

"Konsistensi penyelenggaraan event internasional adalah kunci. Sekali gagal mengelola, reputasi destinasi bisa tergelincir dalam hitungan hari," ujar seorang pengamat pariwisata dalam sebuah forum industri beberapa waktu lalu.

Selain itu, sport tourism memiliki karakter repeat visit yang lebih tinggi dibanding wisata konvensional. Penonton yang puas cenderung kembali, baik untuk menonton event berikutnya maupun berlibur bersama keluarga. Pola ini menciptakan basis kunjungan yang lebih stabil dan terprediksi bagi pelaku usaha lokal.

Kontra: Tantangan Keberlanjutan dan Ketimpangan Manfaat

Namun, di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa euforia event tidak otomatis menjamin keberlanjutan ekonomi kawasan. Risiko pertama adalah ketimpangan distribusi manfaat. Arus belanja penonton sering kali terpusat pada segmen akomodasi dan kuliner kelas menengah ke atas, sementara pedagang kecil di pinggiran kawasan hanya menerima limpahan marginal.

Risiko kedua adalah beban fiskal dan lingkungan. Perawatan sirkuit, penyediaan infrastruktur, dan pengelolaan limbah membutuhkan biaya operasional tinggi yang harus ditanggung secara berkelanjutan. Jika tidak diimbangi dengan pendapatan daerah dan keterlibatan swasta yang sehat, potensi defisit fiskal jangka panjang bisa muncul. Selain itu, lonjakan kunjungan yang tidak dikelola baik berpotensi menekan daya dukung lingkungan dan menimbulkan resistensi sosial di masyarakat setempat.

Risiko ketiga adalah ketergantungan pada kalender event. Sepinya jadwal balapan di luar musim dapat menciptakan kekosongan permintaan yang berimbas pada pemutusan hubungan kerja musiman dan penurunan pendapatan pelaku usaha. Diversifikasi atraksi wisata di luar event otomotif menjadi prasyarat agar ekonomi kawasan tidak bergantung pada satu pilar.

Proyeksi dan Arah Kebijakan

Ke depan, proyeksi para analis menempatkan Mandalika sebagai salah satu kandidat destinasi sport tourism unggulan di Asia Tenggara, dengan catatan tata kelola yang disiplin. Kunci keberhasilannya terletak pada tiga hal: penguatan kapasitas UMKM melalui pelatihan dan akses pembiayaan, integrasi transportasi publik menuju kawasan, serta pengembangan kalender event yang padat sepanjang tahun.

Jika ketiga prasyarat tersebut dipenuhi, dampak rekor 157.875 penonton tidak berhenti sebagai statistik semata, melainkan bertransformasi menjadi fondasi ekonomi regional yang kokoh. Sebaliknya, tanpa perencanaan yang matang, rekor tersebut berisiko menjadi lonjakan sesaat yang tidak meninggalkan jejak struktural bagi kesejahteraan warga sekitar.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sport tourism bukan hanya pada besarnya angka kunjungan, melainkan pada seberapa dalam manfaatnya mengakar pada fundamental ekonomi lokal dan seberapa tangguh kawasan tersebut menghadapi siklus musim sepi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User